'Tak Ada Jalan Keluar', Cerita Korban Selamat dari Kebakaran Maut Pub Bangkok

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para petugas darurat memindahkan jenazah seseorang yang meninggal di lokasi kebakaran mematikan di sebuah pub di Bangkok, Thailand, 13 Juli 2026. Foto: REUTERS/Chalinee Thirasupa
zoom-in-whitePerbesar
Para petugas darurat memindahkan jenazah seseorang yang meninggal di lokasi kebakaran mematikan di sebuah pub di Bangkok, Thailand, 13 Juli 2026. Foto: REUTERS/Chalinee Thirasupa

Beberapa detik. Hanya itu selisih waktu yang menyelamatkan Usa Tadsree dari maut.

Perempuan berusia 41 tahun itu baru saja keluar dari Pub Rong Beer Na Lat Phrao di Bangkok untuk merokok ketika suara ledakan tiba-tiba memecah malam. Api kemudian menyambar cepat dan melalap bangunan yang dipenuhi pengunjung.

"Ada ledakan, lalu ledakan lagi dengan sangat cepat. Tidak ada jalan keluar sama sekali," kata Usa dikutip dar Reuters, Selasa (14/7).

Dua temannya tak sempat menyelamatkan diri. Keduanya tewas di dalam pub yang terbakar sekitar tengah malam Minggu (13/7).

Usa hanya bisa terduduk di pinggir jalan saat petugas penyelamat mengevakuasi jasad sahabatnya. Tubuh korban ditutupi kain putih.

"Saya kehilangan akal. Rasanya seperti dia hanya sedang tidur," ujarnya.

Kebakaran tersebut menjadi salah satu tragedi paling mematikan di Thailand dalam beberapa tahun terakhir. Sedikitnya 27 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 70 orang lainnya terluka, banyak di antaranya masih dalam kondisi kritis.

Petugas penyelamat menggunakan senter saat mereka memeriksa lokasi kebakaran mematikan di sebuah pub di Bangkok, Thailand, 13 Juli 2026, dalam tangkapan layar ini yang diambil dari rekaman kamera tubuh personel darurat. Foto: Yayasan Poh Teck Tung/via REUTERS

Diduga Berawal dari Korsleting

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih diselidiki.

Otoritas penanggulangan bencana Bangkok menduga api berasal dari korsleting pada sistem pendingin udara di langit-langit bangunan. Sementara polisi menyelidiki kemungkinan adanya pintu darurat yang terhalang, instalasi listrik yang kelebihan beban, hingga penggunaan material bangunan yang mudah terbakar.

Para penyelidik berupaya memastikan mengapa kobaran api dapat menyebar begitu cepat dan membuat puluhan pengunjung terjebak di dalam bangunan.

Petugas forensik mengumpulkan sidik jari dari orang yang meninggal di lokasi kebakaran mematikan di sebuah pub di Bangkok, Thailand, 13 Juli 2026. Foto: REUTERS/Chalinee Thirasupa

Panggung Terakhir Seorang Musisi

Suasana duka juga menyelimuti Institut Kedokteran Forensik Bangkok. Sejak Senin pagi, keluarga korban berdatangan untuk mengidentifikasi jenazah.

Di antara mereka ada Jansuda Tanla. Perempuan 41 tahun itu mencari putra semata wayangnya, Din (27), vokalis sebuah band pop rock Thailand yang malam itu sedang tampil di atas panggung.

"Kalau ada yang menemukan putra saya di rumah sakit mana pun, tolong beri tahu saya. Saya hanya punya satu putra," katanya sambil menangis.

Jansuda bercerita, Din sempat gagal menyelesaikan sekolah kejuruan sebelum akhirnya memilih menjadi penyanyi.

"Saya menyuruhnya mencoba. Saya punya banyak utang, dan dia membantu melunasinya dari hasil bernyanyi," ujarnya.

Belakangan, keluarga memastikan Din menjadi salah satu korban tewas. Rekannya, pemain keyboard band bernama Kwang, juga tidak selamat.

"Sebagai sesama musisi saya sangat terpukul. Tempat hiburan seharusnya memiliki lebih banyak pintu keluar darurat. Kami bermain musik hanya untuk menghidupi keluarga," kata Sakhon Meeplian, sahabat Kwang.

Para petugas darurat bekerja di samping jenazah yang tertutup kain di lokasi kebakaran mematikan di sebuah pub di Bangkok, Thailand, 13 Juli 2026. Foto: REUTERS/Chalinee Thirasupa

Datang Mencari Nafkah, Pulang Jadi Jenazah

Korban kebakaran bukan hanya pengunjung, tetapi juga para pekerja pub.

Kaewudon Pongpanee, salah seorang pelayan, mengaku sempat berusaha menyelamatkan adiknya yang juga bekerja di tempat yang sama.

Ia mengambil alat pemadam api dan mencoba masuk kembali ke dalam bangunan. Namun kepulan asap dan panas membuatnya tak mampu mendekat.

"Saya mendengar orang-orang berteriak. Saya ingin membantu adik saya, tetapi saya tidak bisa masuk. Asapnya sangat tebal dan panas," katanya.

Adiknya, Pongpaset Pongpanee (21), yang merantau dari Laos untuk bekerja di Bangkok, menjadi salah satu korban.

kumparan post embed

Nasib serupa dialami Sittipong Chaiyo (23). Baru sebulan bekerja sebagai pelayan di Bangkok, pemuda asal Provinsi Ubon Ratchathani itu juga tewas setelah terjebak di dalam pub.

"Saya datang karena melihat berita. Ibu saya sangat sedih. Seharusnya ini tidak pernah terjadi," kata kakaknya, Kanyawan Bunruangthong.

Selain para pekerja dan musisi, seorang sopir taksi beserta pasangannya juga menjadi korban dalam tragedi tersebut.