Wamendikti Stella Imbau Kampus di Jakarta-Lampung Kurangi Aktivitas Outdoor

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengimbau perguruan tinggi mengurangi aktivitas di luar ruangan menyusul dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Aktivitas kampus dianjurkan tetap dilakukan di dalam ruangan.
Stella menjelaskan, imbauan tersebut berkaitan dengan potensi bahaya debu vulkanik yang dapat membahayakan kesehatan apabila terhirup.
“Imbauannya jika diperlukan, sebisa mungkin stay indoor. Jadi ini imbauan untuk sama ya, untuk semuanya. Karena kalau kita lihat secara scientific, apa sih bahayanya? Volcanic ash atau debu vulkanik ini kan lebih halus daripada bedak bayi bahkan. Dan di dalam situ ada silika, dan silika inilah yang bisa masuk ke dalam bulu pembuluh darah dan menyebabkan penyakit dan juga termasuk ada kemungkinan kanker,” kata Stella di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/9).
Meski demikian, Stella menekankan masyarakat tidak perlu panik dengan adanya potensi tersebut. Ia menyebut pemerintah dan perguruan tinggi perlu melihat situasi secara rasional dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko dari setiap aktivitas yang dilakukan.
“Tapi ini secara scientific ya, jadi jangan langsung geger, pasti tidak demikian. Namun, kita selalu menggunakan hitungan manfaat dan mudarat. Jadi manfaat-mudaratnya ini berapa banyak,” ujar Stella.
“Tentu saja kalau karena ada mudarat kemungkinan demikian, kalau bisa mengurangi kegiatan di luar yang tidak terlalu diperlukan, kita lakukan demikian. Tetapi kalau ada yang sangat diperlukan sekali sehingga manfaatnya jauh lebih besar dari mudaratnya, monggo dilakukan kepada insan masing-masing,” sambungnya.
Stella mengatakan, perkuliahan tidak harus dilaksanakan secara daring. Namun, ia mengimbau perguruan tinggi mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama di wilayah dengan paparan debu vulkanik cukup tinggi seperti Jakarta dan Lampung.
“Tidak, tidak harus daring. Tidak harus daring kalau menurut saya, kecuali di daerah seperti Jakarta yang pada saat ini debunya masih sangat banyak, tetapi itu pun belum tentu. Kenapa? Karena kita kan belajarnya di dalam. Ini kalau belajarnya di luar. Jadi tidak, mungkin saya ralat ya, tidak harus daring sama sekali karena untuk universitas,” kata Stella.
“Karena kalau kita belajarnya di dalam itu kan, sebenarnya manfaat kita belajar tatap muka itu kan sangat banyak. Tapi kalau ada kegiatan mahasiswa kita yang di luar, kalau saya sarankan yang di Jakarta, yang di Lampung, jangan dulu. Ini kan karena mudaratnya lebih banyak daripada manfaat. Jadi kita menghitung manfaat dan mudarat selalu dengan rasionalisme yang tepat,” tambah dia.
Di sisi lain, Stella mengingatkan setiap perguruan tinggi memiliki kondisi yang berbeda. Kemendiktisaintek tidak serta-merta dapat menerapkan kebijakan yang sama untuk seluruh kampus di Indonesia.
Hal ini karena perguruan tinggi tersebar di berbagai wilayah dengan tingkat dampak bencana yang berbeda. Stella menyebut terdapat lebih dari 4.000 perguruan tinggi di Indonesia, sementara tidak seluruhnya berada di wilayah yang terdampak erupsi.
“Kampusnya adalah entitas yang selalu independen. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memberikan dukungan sepenuhnya untuk segala sesuatu yang berjalan di perguruan tinggi, namun mereka adalah entitas independen. Jadi yang pertama, kami memberikan imbauan untuk melakukan hal yang diperlukan berdasarkan keadaan,” jelasnya.
“Yang nomor dua, saya juga mau mengingatkan kepada seluruh pemirsa bahwa kita sangat melakukan yang terbaik untuk bencana-bencana kita, tapi kita juga harus tahu bahwa perguruan tinggi kita tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kita punya 4.000 lebih perguruan tinggi dan ini tidak semuanya berada di daerah yang terdampak. Jadi jangan sampai kita membuat sesuatu lebih terdampak kepada mahasiswanya yang tapi tidak memerlukan untuk misalnya online. Tetapi kalau perlu, kita serahkan kepada perguruan tinggi. Perguruan tingginya di daerah setempat yang paling bisa menilai keperluannya,” sambung Stella.
