Konten dari Pengguna

Bagaimana Caranya Mulai Menulis Versi Saya

Fadjriah Nurdiarsih

Fadjriah Nurdiarsih

Penulis, Editor, Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Lembaga Kebudayaan Betawi

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadjriah Nurdiarsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diskusi tentang penyair Abdul Hadi WM. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi tentang penyair Abdul Hadi WM. Foto: Dokumentasi pribadi

Pekan lalu, saya mengisi sebuah pelatihan menulis untuk perubahan bagi sebuah komunitas. Nama komunitasnya, ah baiklah saya rahasiakan saja. Intinya, para pengurus komunitas itu meminta agar para peserta pelatihan mau dan bisa menulis. Kemudian, diharapkan agar hasil cerita-cerita yang menarik itu kemudian bisa dimasukkan ke dalam website untuk dipublikasikan.

Mulailah saya cerita macam-macam soal menulis. Bagaimana dari proses kreatif saya menemukan ide dan hal-hal apa yang biasanya saya tulis. Saya sudah bicara macam-macam selama satu jam dan saya merasa cukup puas dengan apa yang saya bicarakan. Namun, ketika sesi tanya jawab, rupanya..., zonk. Saya ingat harus menunggu sekitar sepuluh menit hingga akhirnya ada penanya pertama. Selama menunggu itu, moderator mengajak mengobrol soal arti karya fiksi buat saya.

Memang, acara pelatihan itu berupa seminar, sehingga peserta tidak diizinkan membuka mikrofon mereka. Mereka hanya menulis pertanyaan di kolom chat. Namun, ada satu pertanyaan menarik. Rupanya, salah seorang peserta bingung mau menulis apa dan bagaimana cara menulisnya.

Saya memberi contoh, ide bisa didapatkan di mana-mana, dari apa yang kita baca, kita lihat, dengar, dan rasakan. Gunakan panca indra dan mata batin untuk memahami sekitar, kemudian menemukan masalah yang ingin ditulis. Setiap orang pasti punya sesuatu yang menjadi ketertarikan dia untuk menulis. Kebetulan, bagi saya, itu adalah budaya Betawi serta hal-hal berkenaan dengan bahasa dan sastra Indonesia.

Jika tidak diasah, tentu sulit sekali memulai menulis itu. Yang pertama adalah menemukan ide. Temukan sesuatu yang dekat dengan diri kita untuk ditulis. Sesuatu yang kita mengerti dengan cukup baik. Kita juga paham dengan materi yang akan ditulis itu. Beberapa tahun lalu, saya melatih diri dengan setiap minggu menulis satu artikel atau cerpen. Saya disiplin dengan target yang sudah saya tetapkan ini. Dari mana idenya? Banyak. Saya rajin menabung pengalaman. Misalnya, ke mana saya pergi, buku apa yang saya baca, film yang saya tonton, serta pemikiran yang terlintas dari pembicaraan antara teman.

Kalau tidak ada bahan juga bagaimana? Nah, biasanya saya mencari tempat-tempat di mana diskusi diadakan. Bisa di Komunitas Bambu tempat Bang JJ Rizal rutin mengadakan diskusi, di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Salihara, atau di Taman Ismail Marzuki.

Saya mendapatkan cara ini dari pelatihan menulis feature yang saya ikuti di Tempo. Waktu itu, kami "dilepas" di sebuah pasar dan ditugaskan mewawancarai pedagang. Kami menggali isu apa yang bisa dijadikan berita. Sejak saat itu, kadang kala saya kumat dan bertanya macam-macam tentang hal menarik yang saya temukan di jalan. Misalnya, soal kuliner, budaya, atau apa saja. Saya pernah mewancarai seorang pesilat gara-gara saya melihat satu pertunjukan palang pintu yang menarik!

Kemudian, saya menyarankan untuk menulis seperti bercerita. Bahasa kerennya: storytelling. Anda bisa mulai dengan kira-kira apa yang paling menarik untuk diungkapkan atau memulai dengan mendeskripsikan sesuatu yang dilihat. Teknik bertutur ini disebut storytelling. Saya suka sekali tulisan Nezar Patria dan Linda Christanty. Nah, agar kepekaan dan daya gigit tulisan kita makin kuat, saya menyarankan para peserta untuk membaca karya sastra. Tentu mustahil menjadi penulis tanpa menjadi seorang pembaca.

Apa gunanya membaca sastra dalam mengasah tulisan kita? Kali ini yang bertanya rupanya peserta lain. Bagi saya, sastra menawarkan cara pengungkapan yang istimewa dalam melihat kejadian sehari-hari. Sastra mampu bercerita dengan indah tentang hal-hal yang mungkin luput karena terlampau banyak gangguan. Mata batin penulis sangat peka dan tajam dalam mengamati hal-hal yang mungkin tak tampak di permukaan. Selain itu, sastra memperkaya cara kita bercerita, cara mengungkapkan gagasan dengan runtut, serta bagaimana mengelola tenaga dan keasyikan cerita dari awal sampai akhir. Saat sedang buntu, saya seringkali memastikan ada buku di samping meja kerja saya. Mengamati bagaimana penulis lain membuka dan menutup paragraf tulisannya menjadi suatu subjek dan pelajaran yang mengasyikan.

Nah, itulah caranya memulai sebuah tulisan. Tulis saja dulu, jangan berpikir soal bagus atau buruknya. Sebuah tulisan harus dinikmati diri sendiri sebelum dibagikan ke orang lain. Bagaimana kalau nanti memang harus menulis untuk mengikuti selera 'pasar'? Itu tentu lain soal.