Konten dari Pengguna

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu: Sebuah Petuah Ajaran Hidup

Fadlan Khatami Ahmad

Fadlan Khatami Ahmad

Mahasiswa Bahasa Indonesia UIN Jakarta. 19 tahun. Hobi membaca cerita, menonton film, mendengarkan musik sambil bernyanyi dengan suara sumbang, dan bermotoran ria sambil taat aturan. Wibu pintar, walau tampang di bawah standar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadlan Khatami Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen Pribadi

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra paling umum, namun juga paling tua. Banyak karya puisi yang menyimpan sejuta misteri mengenai makna di dalamnya, tidak terkecuali puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Pemaknaan puisi-puisi Sapardi akan berbeda tergantung dari siapa yang membaca dan menelaahnya. Namun, ada satu hal yang mungkin kita bisa setuju mengenai puisi-puisi karya Sapardi, yakni seluruh puisi beliau mempunyai tempo yang tenang, tidak menggebu-gebu melontarkan semangat, namun mempunyai makna yang dalam.

Puisi semacam itu, menurut saya hanya bisa muncul dari kepekaan penulisnya terhadap alam, keadaan lingkungannya, dan pengalaman yang dimiliki oleh sang penulis. Selanjutnya saya kan memberikan impresi pribadi saya mengenai salah satu puisi Sapardi yang berjudul Hujan, Jalak, dan Daun Jambu. Perlu diingat bahwa semua yang saya tulis di sini merupakan opini pribadi saya. Saya tidak akan menyajikan fakta-fakta dengan metode ilmiah, melainkan saya akan menyajikan pendapat dan opini dengan bahasa yang ringan yang cocok dibaca sambil menyeruput secangkir kopi pada sore hari.

HUJAN, JALAK, DAN DAUN JAMBU (1992)

Karya Sapardi Djoko Damono

Hujan turun semalaman. Paginya

jalak berkicau dan daun jambu bersemi;

mereka tidak mengenal gurindam

dan peribahasa, tapi menghayati

adat kita yang purba,

tahu kapan harus berbuat sesuatu

agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka

tidak pernah bisa menguraikan

hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu

kapan harus berbuat sesuatu, agar kita

merasa tidak sepenuhnya sia-sia

Impresi dan Simbolisasi Puisi Hujan, Jalak, dan Daun Jambu

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu adalah salah satu puisi dari antologi puisi Hujan Bulan Juni yang diterbitkan Grasindo pada 1994. Ketika pertama membaca puisi ini, saya langsung terpikat pada kata-kata yang menjadi judul puisi ini, yakni kata “hujan”, “jalak”, dan “daun jambu”. Saat awal membaca saya merasa kalau kata-kata tersebut hanya menggambarkan kondisi pagi hari setelah hujan semalaman, di mana burung jalak muncul dengan suara indahnya menyambut pagi, ditemani dengan tetesan embun yang mengalir di daun jambu.

Puisi tersebut dapat membawa suasana yang tenang pada awal-awal membaca. Lalu, saya mencoba membaca puisi tersebut beberapa kali lagi. Nah, saya mulai melihat pemaknaan yang mungkin coba digambarkan oleh Sapardi dalam puisinya.

"Hujan" menggambarkan peristiwa atau pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Setelah hujan turun semalaman yang memberi gambaran kalau peristiwa tidak menyenangkan tersebut telah selesai. Setelah itu, muncul jalak yang berkicau dan daun jambu yang bersemi. Itu menggambarkan dibalik masalah yang ada terdapat akhir yang indah.

"Burung jalak" menggambarkan seseorang yang mempunyai sifat kepekaan yang tinggi dan tidak suka merepotkan sesama. Ia juga mempunyai sikap yang teguh dan setia pada cita-cita/harapan yang ia inginkan. Hal ini sesuai dengan sifat burung jalak yang mempunyai sifat kepekaan yang tinggi, dan dalam mencari makan tidak merugikan manusia malah memberikan simbiosis mutualisme kepada lingkungan. Selain itu jalak terkenal sebagai spesies yang setia. Sehingga diharapkan selalu teguh dan setia dalam cita cita, dan tidak merugikan bagi sesama dan alam semesta.

"Daun jambu" menggambarkan makna keteguhan dan kemandirian. Setelah diterpa hujan semalaman ia masih bertahan sehingga dapat menikmati cahaya mentari pagi. Jika saja daun itu menyerah dan tersapu oleh hujan, maka ia tidak akan bisa menikmati cahaya mentari pagi yang harusnya ia dapatkan.

Selanjutnya kita melihat bahwa “hujan”, “jalak”, dan “daun jambu” dikatakan tidak mengenal gurindam, peribahasa, namun menghayati adat yang purba. Demi manusia yang bahagia. Menurut saya bagian ini merupakan sebuah ungkapan bahwa semuanya sudah diatur oleh Tuhan untuk berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada berat sebelah atau dirugikan. Jika dirimu merasa sedang sial atau memiliki masalah yang pelik, ingatlah bahwa itu semua pasti ujian dari Tuhan dan kamu akan mendapat penyelesaiannya.

Hal ini kemudian ditegaskan kembali dalam bagian selanjutnya bahwa, mereka tidak pernah bisa menguraikan kata-kata mutiara, tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar manusia tidak merasa sia-sia. Menurut saya bagian ini menegaskan bahwa kita harus mengambil tindakan dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan bukan hanya mencari pembenaran atau mengelak dari masalah itu. Jangan juga menyerah karena kita harus seperti “daun jambu”, di mana telah diterpa hujan, namun masih kuat bertahan dan tidak menyerah sehingga pada akhirnya dapat menikmati hasil yang telah diperjuangkan.

Gaya Bahasa

Saya tidak akan membahas gaya bahasa secara terperinci. Saya hanya akan membahas menurut pemahaman saya dan impresi saya mengenai gaya bahasa dalam puisi ini.

Saya menyukai pemakaian kata-kata “hujan”, “jalak”, dan “daun jambu” sebagai simbol yang menginterpretasikan makna-makna yang mendalam. Melalui simbolisme itu juga pembaca diberi kebebasan untuk menginterpretasikan makna dari kata-kata itu, sehingga makna dari puisi ini tidak berhenti pada satu pemahaman saja.

Selanjutnya saya menyukai susunan kata yang digunakan karena mampu memberikan pengalaman yang dekat dengan alam. Ketika membacanya kita akan merasa tenang dan damai, bukan sedih, marah, semangat, atau pedih. Tentu saja hal ini menjadi poin penting bagi para penikmat sastra yang sekadar mencari hiburan dengan membaca puisi.

Pemaknaan Puisi

Saya mungkin sebelumnya telah mengatakan bahwa dengan simbolisme membuat makna dari puisi ini bisa berbeda-beda dan tidak terpaku pada satu pemahaman, semua itu tergantung pembacanya. Namun, kalau boleh saya katakan, bagi saya puisi erat kaitannya dengan ajaran hidup.

Ajaran-ajaran hidup tersebut dapat dilihat dari pemaknaan simbol yang sebelumnya sudah saya paparkan. Selain itu, bila kita hanya membaca puisi ini tanpa memerhatikan makna tersiratnya, maka puisi tetap memberi kesan bahwa sebagai manusia kita harus mensyukuri segala hal yang ada, sekaligus juga mengatakan jika segala hal yang ada di dunia ini diciptakan guna membantu kehidupan manusia.

Sekian tulisan saya mengenai puisi Hujan, Jalak, dan Daun Jambu. Bagaimana puisi ini menurut pemahaman Anda? Apakah sama seperti saya? Saya harap Anda dapat menemukan makna puisi ini sendiri. Semoga tulisan ini dapat menghibur sekaligus membuka wawasan Anda semua. Terima kasih.