Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
3 Layer of Question : Teknik Komunikasi Supaya Tidak Dibilang Kepo
30 Maret 2025 14:48 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Abdullah Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
“Kepo banget sih”
Rasanya kita sudah tidak asing dengan kalimat menyakitkan seperti itu. Kalimat yang sering diucapkan oleh individu lain saat mereka bertemu dengan orang baru atau tidak terlalu dekat, namun lawan bicaranya sudah bertanya ke ranah yang privasi dan membuat risih.
ADVERTISEMENT
Tentu kita tidak ingin orang lain berkata seperti itu ke kita. Selain menyakitkan, itu akan membuat sebuah hubungan sosial seseorang menjadi terganggu. Apalagi kalau konteksnya dengan orang yang baru kenal, pasti akan membuat first impression dari salah satu pihak menjadi tidak baik.
Sebenarnya, terdapat salah satu teknik komunikasi yang mampu digunakan untuk membuat percakapan dengan orang baru menjadi lebih efektif. Teknik tersebut adalah 3 Layer of Question, ini merupakan teknik bertanya yang digunakan untuk membangun proses percakapan yang terstruktur dan membangun percakapan yang lebih berkmana.
Pada dasarnya, teknik ini tidak dikenalkan dari satu tokoh tertentu, tetapi teknik ini merupakan strategi komunikasi yang sering digunakan dalam psikologi, interaksi sosial, organisasi, dan beberapa bidang lainnya.
ADVERTISEMENT
Seperti pada namanya, teknik ini memperkenalkan bagaimana sebuah pertanyaan terbagi menjadi 3 lapisan, yakni lapisan permukaan, lapisan menengah, dan lapisan inti. Setiap lapisan berisikan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda sifat, mulai dari ringan, sedang, dan dalam. Adapun pengertian lebih lengkap dari tiap lapisan tersebut;
Pertama, lapisan permukaaan. Lapisan permukaan ini merupakan lapisan awal atau gerbang utama sebuah percakapan akan berlangsung. Seluruh pertanyaan dalam lapisan ini bersifat umum dan mudah dijawab. Beberapa contohnya adalah namamu siapa, kesibukannya apa, tinggal dimana.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada lapisan pertama ini adalah bagaimana kita bisa melihat respon dari lawan bicara kita. Jika lawan bicara kita merespon pertanyaan-pertanyaan sederhana tadi dengan sangat baik, maka sudah dipastikan kita dibukakan pintu masuk untuk masuk ke lapisan selanjutnya.
ADVERTISEMENT
Kedua, lapisan menengah. Pada lapisan ini setiap pertanyaan lebih sedikit menuju pada pengalaman, pendapat, dan perasaan seseorang. Sifatnya lumayan serius, dan membutuhkan jawaban yang lebih reflektif. Seperti apa yang membuatmu tertarik dengan hal tersebut, masalah apa yang sedang kamu hadapi hari ini, kenapa kamu memilih pilihan tersebut.
Dengan masuk ke dalam lapisan yang kedua, kita bisa lebih mengetahui sedikit informasi yang lebih dalam dari lawan bicara kita. Biasanya, pada lapisan ini lah orang-orang mampu bertukar informasi dan wawasan.
Terakhir, lapisan inti. Lapisan ini merupakan lapisan terakhir dari teknik 3 Layer of Question. Pertanyaan-pertanyaan pada lapisan ini bersifat personal, sangat serius, dan memerlukan emosional. Pada lapisan ini, setiap pertanyan menitik beratkan pada nilai, keyakinan, atau emosi seseorang. Beberapa contoh pertanyaannya adalah apa hal yang paling membuatmu takut di dunia ini, hal apa yang mampu membuatmu masih bertahan untuk hidup, bagaimana kamu menilai keyakinan dirimu dalam menjalani kehidupan.
ADVERTISEMENT
Karena sifatnya yang sangat personal, setiap orang yang berhasil masuk ke dalam lapisan ini sudah dipastikan memiliki nilai tersendiri, atau memiliki kepercayaan yang mendalam dari lawan bicaranya.
Kesimpulannya, teknik ini membantu kita untuk membangun percakapan yang lebih terstruktur, bermakna, dan memberi kesan untuk menghargai lawan pembicara kita. Selain itu, 3 Layer of Question tidak hanya digunakan oleh komunikator saja, melainkan komunikan mampu menggunakan dan menerapkan teknik ini.
Sebagai komunikator, perlu diperhatikan untuk memberi pertanyaan yang sifatnya tidak menyingung, jika memang ingin menanyakan hal yang tau akan menyingung, lebih baik dikonfirmasi terlebih dahulu. Selain itu, kita perlu tau bagaimana respon lawan bicara kita terhadap pertanyaan yang kita berikan. Kita tidak bisa memaksa mempertanyakan hal-hal yang sudah jelas ia hindari. Namun jika dalam konteks yang memang benar-benar membutuhkan, berikanlah pertanyaan-pertanyaan ringan untuk mempengaruhi mereka memberikan jawaban yang kita butuhkan.
ADVERTISEMENT
Lalu sebagai komunikan, dari teknik ini kita mampu mempelajari pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang layak kita jawab dari orang yang baru pertama kita temui. Kita perlu memperhatikan apakah pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan merupakan lapisan pertama, menengah, atau langsung ke lapisan inti. Dengan begitu, kita bisa mengatur jawaban kita supaya tidak terlihat oversharing.
Sebenarnya tidak masalah jika ada orang yang bertanya pada kita mulai dari lapisan permukaan, dan dilanjut langsung ke lapisan inti. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita menilai orang tersebut dan seberapa penting jawaban yang akan kamu sampaikan ini.