Bukan Pengalaman yang Membentuk Perilaku Kita

Mahasiswa Universitas Pamulang - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Abdullah Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kehidupan manusia sangatlah dinamis, semakin lama ia menjalani kehidupan maka semakin banyak pengalaman yang mereka dapatkan. Pada kenyataanya pengalaman tidak pernah bisa ditebak. Ia hadir dalam kehidupan manusia dengan berbagai bentuk, bisa sebagai kebahagiaan, kesedihan, pelajaran, hingga penyesalan.
Situasi tersebut mempengaruhi kehidupan seseorang. Pengalaman yang berjalan beriringan dengan kehidupan mereka, mampu membentuk, membantu, bahkan mengubah banyak hal yang terjadi dalam diri manusia.
Pengalaman yang baik, bisa membantu seseorang tumbuh dan memberikan kebahagiaan yang mendalam. Mereka bisa menjalani hidup lebih bahagia, karena pengalaman yang mereka dapatkan.
Sedangkan pengalaman yang buruk, bisa memberikan rasa traumatis dan penyesalan yang tak terlupakan. Seseorang bisa menjalani kehidupannya dengan sulit, bahkan bisa memilih untuk berhenti melanjutkan kehidupannya.
Padahal yang terjadi, pengalaman tidak membentuk perilaku seseorang. Hal tersebut bisa terjadi karena manusia mempersepsikan pengalaman dengan cara yang berbeda.
Statement tersebut didukung oleh seorang psikiater dan psikoterapis asal Austria, Alfred Adler. Dirinya menjelaskan bahwa perilaku seseorang bukan dibentuk oleh pengalaman yang didapat, melainkan dibentuk oleh persepsi terhadap pengalaman tersebut.
Seseorang bisa menanggapi pengalaman buruk dengan perspektif yang baik. Dirinya tidak perlu merasa terjebak dan berlarut-larut pada hal tersebut. Jika ia mau mengubah perspektifnya, maka pengalaman itu bisa saja menjadi motivasi untuk mencapai hal yang lebih baik.
Sayangnya, tidak semua bisa menerapkan teori ini. Banyak orang yang memilih untuk berlarut dalam kesedihan. Selain itu, banyak juga yang tidak bisa memilih karena rasa trauma yang melekat. Berikut adalah cara untuk berdamai dan memperbaiki perspektif seseorang pada pengalaman yang pahit:
Pertama, seseorang yang ingin berdamai dengan pengalaman pahit harus sepakat bahwa pengalaman tersebut tidak bisa dihapus, namun bisa diubah maknannya. Jika sedari awal seseorang memaknai pengalaman itu dengan kesedihan, kesialan, keterpurukan, maka ubahlah makna dari pengalaman tersebut. Tanamkan dan jadikan pengalaman tersebut menjadi sebuah pelajaran yang berharga.
Sebagai contoh, jika terdapat dua orang mendapatkan nilai “E” pada sebuah ujian. Orang yang menganggap itu sebagai kegagalan, hanya akan terpuruk dan merasa minder, alhasil ia akan malas untuk belajar. Namun bagi orang yang melihat itu sebagai sebuah pembelajaran, dirinya akan dengan mudah untuk tumbuh lebih baik, dan merelakannya.
Kedua, seseorang tidak boleh terpuruk di masa lalu, ia harus fokus pada masa depan. Akan berat rasanya jika seseorang masih terjebak pada pengalaman pahit yang telah ia terima. Itu hanya akan memperburuk dan memperlambat seseorang untuk berdamai dan mengubah perspektif dari pengalaman tersebut.
Mulai tanyakan pada diri, “Apa yang membuat pantas seseorang harus berlarut di masa lalu?”. Jika hanya sebuah kesedihan dan keterpurukan yang didapat, maka fokuslah pada masa sekarang dan masa depan. Itu jauh lebih baik dari pada harus terkekang pada masa yang telah usai.
Ketiga, temukan orang yang positif dan bangun koneksi yang kuat. Berjalan dan berdiri sendiri dengan pengalaman yang pahit, akan terasa lebih berat. Bagaimanapun, manusia adalah mahluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Maka keluarlah dari zona nyaman, temukan banyak hal luas yang belum pernah diketahui. Bangunlah jaringan dengan komunitas yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Teori Adler mengajarkan kita bahwa setiap manusia punya kesempatan untuk tumbuh dan mendapatkan hal yang lebih baik. Terlepas dengan segala pengalaman yang didapat, manusia hanya butuh berdamai dengan pikiran dan cara pandangnya.
Tidak ada alasan yang kuat untuk seseorang harus terkekang pada pengalaman yang pahit. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan kebahagiaan. Cobalah untuk berdamai, bentuk persepsi baru atas pengalaman yang menjerat selama ini. Karena sejatinya, tidak ada orang yang pantas dengan keterpurukan.
