Konten dari Pengguna

Doktor Komunikasi Pertama di Indonesia?

Abdullah Fadllan Harist

Abdullah Fadllan Harist

Mahasiswa Universitas Pamulang - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdullah Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Dr. Muhammad Alwi Dahlan. Source: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Foto Dr. Muhammad Alwi Dahlan. Source: ChatGPT

Komunikasi merupakan kebutuhan hidup bagi setiap manusia. Sebagai mahkluk sosial, komunikasi sangat berperan penting. Karena dalam setiap ruang lingkup aktivitas, pasti terdapat komunikasi di dalamnya.

Sayangnya komunikasi sering dianggap remeh. Komunikasi dianggap sebagai suatu kegiatan berbicara yang sederhana. Padahal, komunikasi lebih kompleks daripada itu.

Sebagai suatu hal yang kompleks, Indonesia memiliki seseorang yang menjadi kiblat dalam kajian bidang Ilmu Komunikasi. Gagasan dan pemikirannya menjadi acuan bagaimana pengembangan ilmu ini diterapkan dalam konteks akademik.

Ia adalah Dr. Muhammad Alwi Dahlan, Bapak Komunikasi Indonesia. Lahir di Padang, 15 Mei 1933. Beliau adalah tokoh sekaligus role model dalam dunia komunikasi Indonesia.

Prof. Alwi memulai pendidikan tingginya di Universitas Indonesia, namun tidak menyelesaikannya. Kemudian ia melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan gelar sarjana hingga doktornya di Amerika Serikat.

Menyelesaikan S1 di American University, lalu melanjutkan gelarnya di Stanford University, dan mengambil gelar doktornya di University Illinois Urbana-Campaign, Amerika pada 1967.

Prof. Alwi menjadi orang pertama dari Indonesia yang mendapatkan gelar doktor di bidang komunikasi. Hal tersebut membuat pengembangan bidang Ilmu Komunikasi di Indonesia menjadi progresif. Karena ilmu yang dipelajari di Amerika saat itu sudah jauh lebih konkrit dari negara lain.

Selain sukses dalam dunia akademik, Prof. Alwi dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berdiskusi dan berjejaring. Melansir dari berbagai sumber, dirinya turut berperan aktif di HIPIIS (Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial), dan PERHUMAS (Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia). Selain itu, Prof. Alwi juga sering bertukar gagasan dan berdialog dalam aktivitas pers mahasiswa.

Bekal-bekal yang ia dapatkan sebagai mahasiswa kritis dan peminatannya pada komunikasi publik membawa dirinya menjadi seorang yang berpengaruh dalam dunia politik. Dirinya pernah menjabat sebagai Asisten Menteri Negara bidang Keserasian Kependudukan dan Lingkungan Hidup, dan Menteri Penerangan saat masa kepemimpinan Soeharto.

Selain aktif sebagai tokoh politik dan pakar komunikasi, Dr. Muhammad Alwi Dahlan merupakan seseorang yang kerap terlibat dan membantu proses pembuatan skenario film-film di Indonesia saat itu. Dirinya turut andil dalam proses pembuatan film 3 Dara, Harimau Tjampa, dan masih banyak lagi. Hebatnya, salah satu karya yang berjudul Harimau Tjampa mendapatkan nominasi skenario film terbaik di festival film Indonesia. Keterlibatannya dalam industri ini menunjukan minat dan perhatiannya pada media populer sebagai konsep praktik komunikasi.

Dr. Muhammad Alwi Dahlan telah berpulang, namun ia meninggalkan bekas yang terdalam bagi negeri ini. Melalui karya-karya akademiknya, ia meletakan pondasi pikiran tentang ilmu komunikasi sebagai proses yang bermakna.

Ketekunan, kerendahan hati, dan konsistensinya pada dunia akademik, pantas menjadi sorotan yang hangat. Karena bukan hanya soal karya yang ia tinggalkan, tapi tentang makna komunikasi yang nyata pada negeri ini.