Jurnalistik dan Kedai Kopi

Mahasiswa Universitas Pamulang - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Abdullah Fadllan Harist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang menyangka bahwa kedai kopi memiliki peran penting dalam sejarah jurnalistik? Tempat yang saat ini identik dengan nyaman dan hangat, ternyata sudah lama menjadi pilihan utama untuk orang-orang bertukar informasi, berdiskusi, dan menafsirkan dunia.
Hal ini disampaikan oleh Elik Susanto, akademisi sekaligus pemateri dalam kegiatan Forum Edukasi dan Komunikasi (FREKUENSI) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang. Dalam kegiatan seminar tersebut, ia menyampaikan bahwa kedai kopi bukanlah sekedar tempat nongkrong biasa. Di balik suasana akrabnya, ada sejarah panjang yang menjadikan kedai kopi menjadi episentrum pertemuan gagasan.
Jauh di benua biru, khususnya di Inggris pada abad ke-17, kedai kopi menjadi pilihan tempat untuk setiap golongan masyarakat mengadakan pertemuan. Tidak hanya nongkrong dan minum kopi, kedai kopi menjadi tempat untuk bertukar informasi yang populer.
Mulai dari masyarakat biasa, pedagang, dan kaum intelektual berkumpul untuk membahas setiap informasi yang mereka miliki. Tidak lupa dengan agamawan, hingga bangsawan dari kerajaan, mereka berbicara dari hal politik, seni, bisnis, ekonomi, hingga mengkritik pihak otoritas.
Elik Susanto juga menyampaikan bahwa isu politik dan ekonomi menjadi cikal bakal konten jurnalistik. Diskusi yang awalnya informal dan perlahan, akhirnya membentuk budaya membaca dan berpikir secara tajam dan berarah.
Pernyataan ini selaras dengan pemikiran Cowan Brian pada bukunya The Social Life of Coffe: The Emergence of the British Coffehouse. Dalam karyanya itu, ia menyampaikan bahwa orang-orang mengakses informasi resmi melalui surat kabar seperti The London Gazatte. Surat kabar tersebut diterbitkan secara resmi oleh pemerintah untuk menyampaikan pengumuman, perintah kerajaan, dan berita resmi lainnya. Karena koran tersebut resmi, maka isinya menjadi bahan perbincangan bagi mereka yang butuh informasi yang kredibel dan akurat.
Namun, tidak semua golongan mampu mengakses surat kabar tersebut. Keterbatasan biaya untuk berlangganan dan membeli koran menjadi alasannya. Melihat itu, kedai kopi memanfaatkan perannya sebagai tempat yang populer. Ia menyediakan salinan surat kabar tersebut dan membiarkan orang-orang untuk mengakses dan mendiskusikannya. Efeknya, kedai kopi membuat The London Gazatte serta surat kabar lain menjadi dikenal dan tersebar luas.
Jika saja pembuat kedai kopi pertama tidak mendirikan bangunan yang penuh makna itu, jurnalistik akan tetap berkembang di tempat yang berbeda. Akan ada banyak tempat-tempat yang bisa menjadi tempat orang berdiskusi, bertukar informasi, dan bertukar gagasan. Namun kenyataan bahwa kedai kopi memiliki peran penting tidak bisa diubah. Ia akan tetap menjadi tempat yang penuh cerita dan penuh makna.
Bahkan hingga sekarang, kedai kopi yang sudah menjelma dengan nama yang beragam seperti warung kopi, rumah kopi, dan kafe tetap memiliki makna bagi mereka yang mengunjunginya. Tidak hanya jurnalistik, kedai kopi telah menjadi saksi bisu dari ribuan diskusi. Kedai kopi telah berhasil menghadirkan ruang yang nyaman, dan menciptakan memori yang indah.
