Konten dari Pengguna

Dari Observasi ke Aksi: KKN UMY Olah Sabut Kelapa Jadi Cocopeat

Fadli Ardi Ansyah

Fadli Ardi Ansyah

Fadli Ardi Ansyah, mahasiswa manajemen UMY yang aktif di GESFID, Youthpreneur, dan KSPM. Ia memiliki minat pada bisnis, pemasaran, serta manajemen operasional, dengan prestasi Top 3 Business Idea Competition Vessel Program 2025.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadli Ardi Ansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

YOGYAKARTA – Smisemangat pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) diwujudkan dalam sebuah program kerja pemberdayaan masyarakat. Sejak penerjunan pada 3 Februari 2026, sekelompok mahasiswa yang bertugas di Dusun Ngulakan ini fokus mengolah limbah sabut kelapa yang melimpah menjadi media tanam cocopeat. Puncaknya, mereka menggelar demonstrasi dan sosialisasi di Balai Sunan Geseng pada 10 Februari 2026 yang disambut antusias luar biasa oleh ibu-ibu PKK setempat.

Suasana interaktif saat demonstrasi proker KKN UMY. Ibu-ibu PKK tak hanya menonton, tapi juga ikut serta mencoba. (Foto: Dok. KKN UMY)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana interaktif saat demonstrasi proker KKN UMY. Ibu-ibu PKK tak hanya menonton, tapi juga ikut serta mencoba. (Foto: Dok. KKN UMY)

Kegiatan demonstrasi yang berlangsung meriah ini tidak terjadi secara instan. Di baliknya, ada proses persiapan matang yang dilakukan para mahasiswa jauh hari sebelum penerjunan. "Sebelum turun ke lapangan pada 3 Februari, kami sudah melakukan riset ekstensif mengenai cocopeat. Mulai dari cara pembuatan, alat yang dibutuhkan, hingga menyesuaikannya dengan budget dan durasi KKN yang terbatas. Kami ingin ilmunya benar-benar mantap," ujar Raihan, koordinator tim KKN UMY.

Setelah yakin dengan teori, tantangan berikutnya adalah aplikasi di lapangan. Pasca-penerjunan, mereka tidak langsung mengadakan sosialisasi. Tim KKN UMY justru memulai dengan serangkaian trial and error dalam skala kecil. Pencarian bahan baku pun menjadi petualangan tersendiri. Setelah berbagai pertimbangan, mereka memutuskan untuk menggunakan copper sebagai alat untuk mendapatkan serabut kelapa yang berkualitas. Proses uji coba ini berjalan intensif hingga akhirnya mereka menemukan formula dan metode yang tepat. "Alhamdulillah, proses trial and error dari awal hingga tahap akhir berjalan dengan baik. Ini yang membuat kami percaya diri untuk mendemonstrasikannya kepada warga," tambahnya.

Puncak dari persiapan panjang tersebut adalah acara demonstrasi pembuatan cocopeat yang digelar di Balai Sunan Geseng pada 10 Februari 2026. Target utama kegiatan ini adalah ibu-ibu PKK, dan respon yang diberikan sungguh di luar dugaan. "Kami sangat bersemangat melihat antusiasme ibu-ibu PKK. Beberapa dari mereka bahkan menonton dari jarak yang sangat dekat, tidak sabar ingin melihat prosesnya lebih jelas," kenang Raihan. "Mereka juga aktif bertanya tentang cara dan proses pembuatan lebih lanjut. Bahkan, tak sedikit yang ikut mencoba langsung praktik pembuatannya."

Kemasan cocopeat yang dipamerkan saat sosialisasi. Ibu-ibu PKK terkesan dengan hasil olahan yang rapi dan siap pakai. (Foto: Dok. KKN UMY)

Suasana semakin meriah ketika tim KKN memperkenalkan cocopeat yang telah dikemas dengan packaging yang sangat menarik. Kemasan yang rapi dan informatif ini langsung memikat perhatian. Puncaknya terjadi ketika tim KKN mencoba memberikan salah satu produk jadi kepada seorang ibu yang diketahui sangat gemar menanam bunga. Reaksinya spontan dan mengharukan. "Beliau sampai ingin membayar produk yang kami berikan. Itu menjadi momen yang membekas bagi kami, karena menunjukkan bahwa produk ini benar-benar memiliki nilai dan diminati," ujar salah satu anggota tim dengan senyum bangga.

Apresiasi tidak hanya datang dari satu peserta. Ketua ibu-ibu PKK dan seluruh anggota yang hadir menyampaikan rasa senang dan antusiasme mereka atas kegiatan tersebut. "Mereka merasa apa yang kami demonstrasikan dan paparkan sangat mudah dipahami, murah, dan bahan bakunya mudah didapatkan. Inilah tujuan utama kami, bukan sekadar memberi teori, tapi solusi praktis yang bisa langsung diterapkan," tegas Raihan.

Dengan berakhirnya acara demonstrasi ini, tim KKN UMY berharap apa yang telah mereka bagikan dapat memberikan manfaat berkelanjutan. "Kami hanya berharap ilmu ini dapat menjadi nilai ekonomi baru yang bisa diterapkan di Desa Ngulakan. Lebih dari itu, kami ingin program ini dapat membantu mengurangi limbah sabut kelapa yang sangat melimpah di desa ini, mengubahnya dari masalah menjadi berkah," pungkasnya. Program ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi sederhana berbasis kearifan lokal dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat dan ekonomi sirkular.