Konten dari Pengguna

Gandeng Mahasiswa UMY, MUI Bantu Sertifikasi UMKM di Banguntapan

Fadli Ardi Ansyah

Fadli Ardi Ansyah

Fadli Ardi Ansyah, mahasiswa manajemen UMY yang aktif di GESFID, Youthpreneur, dan KSPM. Ia memiliki minat pada bisnis, pemasaran, serta manajemen operasional, dengan prestasi Top 3 Business Idea Competition Vessel Program 2025.

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadli Ardi Ansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANTUL - Program magang tidak hanya menjadi ajang untuk menerapkan ilmu di dunia kerja, tetapi juga kesempatan untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat. Inilah yang saya dan sembilan rekan lainnya dari Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) rasakan selama delapan minggu terakhir.

Mahasiswa Manajemen UMY berkolaborasi dengan MUI dan ‘Aisyiyah Banguntapan dalam program magang untuk mendukung pemberdayaan UMKM lokal melalui pendampingan legalitas dan sertifikasi halal.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Manajemen UMY berkolaborasi dengan MUI dan ‘Aisyiyah Banguntapan dalam program magang untuk mendukung pemberdayaan UMKM lokal melalui pendampingan legalitas dan sertifikasi halal.

Kami sedang melaksanakan program magang di Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berkolaborasi dengan wilayah Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Fokus utama kami adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.

Hari ini, Rabu 15 Oktober 2025, kami memasuki minggu kedelapan magang. Pagi tadi, kami berkesempatan menghadiri rapat strategis bersama para pengurus ‘Aisyiyah setempat. Pertemuan ini membahas langkah-langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi UMKM yang ada di Banguntapan.

Dalam rapat tersebut, kami melihat sebuah peluang besar. Banyak usaha rumahan dan lokal yang memiliki produk unggulan, namun masih membutuhkan pendampingan dalam hal legalitas dan sertifikasi. Melihat peluang ini, kami pun bergerak.

Bersama MUI dan ‘Aisyiyah, kami berkomitmen untuk mendukung para pelaku UMKM mulai dari aspek paling dasar, yaitu pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga yang menjadi nilai tambah utama di pasar, yaitu Sertifikasi Halal.

“Kami melihat antusiasme yang tinggi dari ibu-ibu ‘Aisyiyah. Banyak dari mereka yang sudah memiliki usaha, seperti keripik, jajanan tradisional, dan produk olahan lainnya, tetapi belum memiliki legalitas yang lengkap. Padahal, sertifikasi seperti NIB dan Halal adalah kunci untuk memperluas pasar, baik secara offline maupun online,” ujar salah satu rekan magang.

Komitmen kami ini tidak hanya sekadar wacana. Dalam minggu-minggu ke depan, kami akan terjun langsung untuk mendampingi para pelaku UMKM dalam mengurus administrasi, memahami prosedur, dan mempersiapkan produk mereka untuk diajukan sertifikasi halal.

Program magang yang awalnya merupakan kewajiban akademik, kini terasa lebih bermakna. Kami tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga bisa memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi kerakyatan di wilayah tempat kami belajar dan tumbuh.

Semoga langkah kecil kami ini dapat menjadi pemantik bagi kemajuan UMKM di Banguntapan, mendongkrak daya saing, dan membawa kesejahteraan yang lebih baik untuk masyarakat.