KKN UMY Berdayakan Warga Olah Sabut Kelapa Jadi Media Tanam

Fadli Ardi Ansyah, mahasiswa manajemen UMY yang aktif di GESFID, Youthpreneur, dan KSPM. Ia memiliki minat pada bisnis, pemasaran, serta manajemen operasional, dengan prestasi Top 3 Business Idea Competition Vessel Program 2025.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fadli Ardi Ansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalurahan Hargorejo, Kabupaten Bantul – Limbah sabut kelapa yang melimpah di Padukuhan Ngulaan, Kalurahan Hargorejo, kini tidak lagi terbuang percuma. Berkat inisiatif Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 012 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sabut-sabut tersebut diolah menjadi cocopeat, media tanam ramah lingkungan yang bernilai ekonomi.

Inisiatif ini berangkat dari observasi awal kelompok pada Rabu, 13 Januari 2026. Saat bertemu dengan perangkat desa, sepuluh mahasiswa yang terdiri dari 4 perempuan dan 6 laki-laki itu mendapati bahwa tumpukan sabut kelapa adalah masalah sekaligus potensi yang belum tergarap maksimal.
“Awalnya, kami ingin langsung mencari solusi yang tepat guna dan bisa diaplikasikan dalam durasi KKN kami yang satu bulan ini. Dari diskungan dengan perangkat desa dan melihat potensi perkebunan alpukat dan pertanian di sini, ide untuk membuat cocopeat dirasa paling tepat,” jelas salah seorang perwakilan kelompok.
Cocopeat dipilih karena memiliki banyak keunggulan. Media tanam dari serabut kelapa ini dapat menyimpan air lebih baik, aerasi yang bagus, dan ramah lingkungan karena menggunakan bahan limbah. Produk ini tidak hanya bisa dimanfaatkan langsung oleh warga untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman di kebun alpukat dan pekarangan mereka, tetapi juga berpotensi diproduksi secara lebih besar untuk dijual ke luar daerah, menambah pendapatan ekonomi masyarakat.
Program kerja utama kelompok KKN 012 UMY selama sebulan pengabdian adalah melakukan pendampingan dan pelatihan kepada warga mengenai proses pembuatan cocopeat, mulai dari pengeringan sabut, pencacahan, pengayakan, hingga pengemasan.
“Harapan kami, inovasi sederhana ini bisa menjawab dua masalah sekaligus: mengurangi limbah dan membuka peluang ekonomi baru. Yang terpenting, setelah kami pulang, pengetahuan dan semangat untuk mengolah sabut kelapa ini bisa terus diteruskan oleh warga sendiri,” tambahnya.
Program pengolahan sabut kelapa ini mendapat apresiasi dari perangkat Kalurahan Hargorejo. Diharapkan, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat ini dapat menjadi pemicu bagi tumbuhnya usaha produktif berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
