Konten dari Pengguna

Konflik Antara Iblis dan Malaikat dalam Struktur Kepribadian Manusia

Fadli cahya Ramadan

Fadli cahya Ramadan

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadli cahya Ramadan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi konflik antara Id, Ego, dan Superego dalam struktur kepribadian manusia. /pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi konflik antara Id, Ego, dan Superego dalam struktur kepribadian manusia. /pixabay.com

Bayangkan, ada Iblis yang berbisik di sisi kiri dan Malaikat di sisi kanan. Mana yang akan kita turuti? Bisakah kita menentukan pilihan tanpa menimbulkan kecemasan dan penyesalan?

Dalam film-film kartun, kita sering kali menemukan adegan di mana ada seorang tokoh yang sedang dihadapkan pada dua pilihan yang membuatnya bimbang. Kemudian, tiba-tiba di atas pundak kiri dan kanannya muncul dua sosok berbaju merah dan putih.

Kita mengenal dua sosok tersebut sebagai Angel (Malaikat) dan Demon (Iblis). Dua sosok tersebut membisikkan dua hal yang saling berlawanan pada Sang Tokoh. Sang Demon membisikkan hal-hal yang bersifat kesenangan semata tanpa memedulikan moralitas.

Sementara, Sang Angel memberi nasihat-nasihat yang lebih bermoral. Adegan tersebut merupakan ilustrasi dari struktur kepribadian menurut Sigmund Freud tentang hubungan Id, Ego, dan Superego di mana Id berperan sebagai Demon, Ego berperan sebagai Sang Tokoh, dan Superego berperan sebagai Angel.

Pada tahun 1923, seorang tokoh psikoanalisis bernama Sigmund Freud mengenalkan tiga model struktur kepribadian, yakni: das Es, das Ich, dan das Uber Ich (Id, Ego, dan Superego) (Alwisol, 2005). Lalu seperti apa detailnya? Yuk, simak.

1. Id (das Es)

Bagian kepribadian yang paling tua dan paling primitif adalah Id. Id itu adalah pikiran yang kita miliki sejak kita lahir, ia merupakan kumpulan hasrat yang sepenuhnya egois serta dorongan untuk segera memuaskan segala keinginan.

Prinsip kerja Id adalah berusaha menghindari rasa sakit dan memperoleh kesenangan tanpa memedulikan situasi eksternal. Saat kita berkembang dan bertambah tua, kita harus meninggalkan Id, mengekang tuntutannya yang mendesak dan membuatnya sesuai dengan kenyataan.

Namun, menurut Rennison (2001) kita tidak akan pernah benar-benar menghilangkan Id, tuntutannya mungkin ditekan, tetapi, ia akan tetap ada. Dibanding das Ich (Ego) dan das Uber Ich (Superego), das Es (Id) merupakan bagian terbesar yang memengaruhi kehidupan manusia secara terus-menerus dengan dorongan-dorongan nafsu yang tinggal di dalamnya (Gerson, 1977). Kalau diilustrasikan, Id ini seperti Iblis yang seringnya berbisik kepada kita untuk selalu mencari kesenangan.

2. Ego (das Ich)

Ego adalah bagian yang paling rasional dalam pikiran, ia merupakan bagian yang bereaksi terhadap dunia luar dan memungkinkan kita untuk beradaptasi dengan realitas. Ego itu (sebuah kata dalam bahasa Latin untuk “I” atau “Aku”) berkembang dari Id, tetapi ia datang untuk mengendalikannya.

Ego membantu kita untuk mengawasi tuntutan naluriah Id dan memutuskan apakah, kapan, dan bagaimana tuntutan itu dapat dipuaskan. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yakni dorongan atau tuntutan harus ditunda sampai ditemukan kondisi lingkungan yang tepat untuk menghindari konsekuensi negatif dari masyarakat.

Freud menganalogikan hubungan antara Id dan Ego seperti hubungan kuda dan penunggangnya. Terkadang, seekor kuda akan lepas dari kendali penunggangnya, sama halnya dengan tuntutan naluriah dari Id yang kadang-kadang menghindari pengekangan Ego. Tetapi, seringnya kuda itu dibimbing dan dikendalikan oleh penunggangnya.

Ego merupakan komponen pengambilan keputusan dari kepribadian. Idealnya, Ego ini bekerja dengan akal, sedangkan Id justru kacau dan sama sekali tidak rasional. Sama halnya dengan Id, Ego juga mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit, tetapi ia tidak seperti Id. Ego lebih disibukkan dengan merancang strategi yang lebih realistis untuk mendapat kesenangan.

3. Superego (das Uber Ich)

Superego merupakan seperangkat nilai-nilai atau moral yang ditakuti oleh individu. Misalnya, orang tua mengajarkan anak-anak tentang perilaku apa saja yang dapat diterima dan tidak dapat diterima oleh moral dalam berbagai situasi. Sebagai seorang anak, pastilah kita akan menuruti apa yang orang tua ajarkan kepada kita dan membawanya hingga kita dewasa.

Richard Ryckman (1967) menyatakan bahwa fungsi utama Superego adalah untuk menggantikan tujuan moralistis dengan sikap realistis, dan berjuang untuk kesempurnaan. Superego berkembang sebagai respons terhadap hadiah dan hukuman yang diberikan oleh orang tua kepada anak. Anggaplah Superego ini sebagai Malaikat yang memberikan pedoman moral pada kita agar terhindar dari konsekuensi negatif dari masyarakat.

Lalu, Bagaimana Hubungan antara Id, Ego, dan Superego?

Hubungan antara Id, Ego, dan Superego ini sama seperti ilustrasi yang sudah saya tulis di atas. Id bertindak sebagai Iblis yang mendorong individu untuk segera memenuhi tuntutannya dengan mencari kepuasan dan kesenangan.

Lalu, Ego bertindak sebagai manusia itu sendiri yang berhadapan langsung dengan realitas. Ketika realitas yang dihadapi Ego tidak memungkinkannya untuk memenuhi tuntutan Id, maka Ego akan menahan tuntutan tersebut. Sementara itu, Superego di sini berperan sebagai Malaikat yang akan menentang Id dan membujuk Ego agar selalu menaati nilai serta moral yang berlaku, atau setidaknya yang telah orang tua ajarkan kepada kita.

Terkadang ketiga komponen kepribadian tersebut saling bertentangan, seperti saat Ego menunda pemuasan yang diinginkan segera oleh Id, dan Superego menentang Id maupun Ego karena perilaku sering kali tidak memenuhi nilai moral yang diwakilinya. Situasi seperti itu nantinya akan menimbulkan kecemasan pada diri kita, lho. Tetapi normalnya, ketiga komponen kepribadian tersebut seringnya bekerja sama untuk menghasilkan perilaku yang padu.

Seperti itulah hubungan antara Id, Ego, dan Superego. Oleh karena itu, sebagai manusia yang memiliki akal dan moral, sudah seharusnya kita bisa mengendalikan nafsu (Id) yang ada pada diri kita. Memang, nafsu itu tidak akan bisa dihilangkan dari dalam diri kita, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengendalikannya. Sebab, jika kita mampu mengendalikan nafsu tersebut, maka kita akan terhindar dari kecemasan maupun penyesalan. Maka dari itu, teman-teman, bijaksanalah!

Daftar Pustaka:

Rennison, N. (2001). Freud & Psychoanalysis. Great Britain: The Pocket Essential.

Dobbert, D. L. & Mackey, T. X. (Eds). (2015). Deviance: Theories on Behaviors That Defy Social Norms. California: Praeger An Imprint of ABC-CLIO, LLC.

Ja’far, S. (2015). Struktur Kepribadian Manusia Perspektif Psikologi dan Filsafat. Psympathic, Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(2), 209-221.

McLeod, S. A. (2016). Id, Ego and Superego. Retrieved from www.simplypsychology.org/psyche.html

Freud, S. (1923/1962). The Ego and The Id (Joan Riviere, trans). New York: Norton.