Konten dari Pengguna

Mendalami Hakikat Demokrasi Dari sosok Socrates

Ahmad Fadli Fathurrohman

Ahmad Fadli Fathurrohman

Merupakan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Program studi Hukum Pidana Islam dan merupakan salah satu mahasiswa yang tertarik dalam hal penulisan.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Fadli Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/illustrations/socrates-sejarah-yunani-7738773/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/illustrations/socrates-sejarah-yunani-7738773/

Socrates, merupakan sosok filsuf yang sangat berpengaruh bagi peradaban ilmu pengetahuan di Yunani pada masanya. Berbagai macam hal dipertanyakan dalam pemikirannya sehingga melahirkan banyak konsep yang berpengaruh bagi dunia, salah satu pemikirannya adalah demokrasi.

Socrates, merupakan salah satu pencetus lahirnya bentuk demokrasi yang seiring mengikuti perkembangan zaman sehingga dikenal oleh dunia.

Demokrasi lahir dari pemikiran tokoh-tokoh hebat dunia, salah satunya adalah Socrates, yang artinya demokrasi lahir di tempat yang menjadi saksi bisu berkembangnya ilmu pengetahuan dengan pemikiran hebat para filsuf yaitu Yunani. Hal tersebut terbukti secara etimologi demokrasi berasal dari bahasa yunani.

Singkatnya, demokrasi merupakan sistem dalam tata negara yang menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan baik secara langsung maupun tidak secara langsung.

Meskipun sekilah sistem tersebut dirancang seakan-akan efektif tetapi, Socrates sebagai pencetus sistem tersebut mempunyai kehawatiran tersendiri.

Socrates memberi contoh yaitu ketika terdapat dua orang yang sedang ingin menyalonkan diri sebagai pemimpin. Satu orang tersebut adalah seorang dokter dan di sisi lain orang kedua adalah seorang penjual permen.

Seorang dokter tersebut mengatakan bahwa dia akan memberikan pelayan kesehatan dan dia juga mengatakan bahwa permen itu berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Di sisi lain, penjual permen mengatakan bahwad ia akan memberikan permen gratis bagi masyarakat dan mengatakan bahwa belum terbukti permen itu berbahaya mengingat rasanya yang enak dan manis.

Singkat cerita pemenang atau orang yang berhasil mengambil hati supaya memilihnya menjadi seorang pemimpin adalah penjual permen, karena masyarakat berpikir sesuatu yang menguntungkan dirinya, dan saat kepemimpinannya penjual permen tersebut gagal menjalankan tugasnya.

Dari contoh tersebut dapat disimpulkan, janji manis dari seseorang dalam kehidupan demokrasi merupakan sesuatu yang berbahaya di samping masyarakat yang tidak berpikir jauh kedepannya.

Contoh dan keresahan Socrates tersebut merupakan sisi gelap dari indahnya konsep demokrasi.

Bentuk nyata terhadap hal tersebut dapat dilihat dari jalannya roda pemerintahan yang diarahkan oleh demokrasi.

Para penjabat saat berkampanye mengeluarkan kata-kata manis yang saat kepemimpinannya tidak dilaksanakan, karena janji manis tersebut adalah jalan untuk mengambil simpati masyarakat.

Terlebih lagi saat tulisan ini ditulis, Indonesia sedang tidak baik-baik saja di mana, kerusuhan antara masyarakat yang menentang pemerintahan yang bobrok merupakan imbas dari hal tersebut.

Yang artinya keresahan Socrates terdahap demokrasi bukan hanya kata-kata bohong tetapi sudah menjadi kenyataan.