Kebaikan Sesaat di Tengah Bencana Disengaja

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fadly Nur Azzidane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banjir yang kembali melanda berbagai wilayah di sumatra kerap disebut sebagai bencana alam.Namun,jika peristiwa ini terus berulang dengan pola yang sama, sudah sepatutnya kita bertanya apakah banjir benar-benar murni kehendak alam atau hasil dari kelalaian manusia. Kerusakan hutan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta lemahnya penegakan hukum telah menciptakan kondisi yang membuat bencana seolah sengaja dipelihara.

Ditengah penderitaan warga, berbagai bentuk kebaikan bermunculan.Bantuan logistik, kunjungan penjabat, dan aksi solidaritas menjadi pemandangan umum setiap kali benjir terjadi. Sekilas, kepedulian ini tampak mulia dan menenangkan. Namun, kebaikan tersebut sering kali hanya sesaat, tanpa didikuti upaya serius untuk mencegah bencana serupa di masa depan.
Ironisnnya, bantuan yang mengalir deras justru menutupi akar persoalan. Perhatian publik teralihkan pada aksi kemanusiaan, sementara praktik perusakan lingkungan terus berlangsung tanpa pertanggungajawaban. Kebaikan akhirnya berubah menjadi topeng, menutupi kejahatan struktural yang secara perlahan menenggelamkan kehidupan masyarakat.
Masyarakat korban banjir tidak hanya kehilangan harta benda,tetapi jiga hak atas lengkunagn yang aman dan berkelanjutan. Mereka dipaksa menerima keadaan, seolah banjir adalah nasib yang tak terelakkan. Padahal ,tanpa perubahan kebijakan dan kesadaran kolektif, kebaikan yang datang setiap musim hujan hanyalah pengulangan luka yang sama.
sudah saatnya kebiakan tidak berhenti pada simpati dan bantuan darurat. Kepedulian sejati harus diwujudkan dalam keberanian menghentikan perusakan lingkungan dan menegakkan tanggung jawab. Jika tidak,banjir di sumatra akan terus menjadi bencana yang "disengaja", sementara kebaikan hanya hadir sebagai penghibur sementara di tengah penderitaan yang berkepanjanagan.
