Pengrajin Songkok Gresik, Kekhawatiran Pada Penerus yang Beralih Profesi

UIN Sunan Ampel Surabaya Surabaya, Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fadya Majida Az-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Songkok bukan hanya sebagai kebutuhan spiritual, lebih jauh dari itu songkok telah menjadi warisan budaya dan juga mata pencaharian warga." -Zahra

Songkok Gresik- terkenal dengan kualitas dan keunikan desainnya, telah menjadi identitas daerah sekaligus sumber penghidupan bagi banyak pengrajin. Salah satunya di kampung songkok Kemuteran, Gresik.
Menurunnya Minat Pengrajin Muda
Di temui di kediamannya Pak Khoirul Jayadi sebagai ketua RT mengatakan bahwa profesi sebagai pengrajin songkok kian kehilangan daya tariknya bagi generasi muda.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Kerajinan songkok memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi. Pengrajin harus bekerja berjam-jam untuk menghasilkan satu songkok berkualitas, sementara upah yang didapat sering kali tak sebanding dengan jerih payah mereka. Di sisi lain, produk impor yang lebih murah dan mudah didapatkan membuat songkok lokal sulit bersaing. Generasi muda yang tumbuh di era globalisasi pun cenderung melihat pekerjaan ini sebagai sesuatu yang usang dan kurang prestise.
Banyak di antara mereka yang lebih memilih profesi modern seperti bekerja di sektor industri, teknologi, atau layanan digital yang menjanjikan pendapatan lebih stabil dan prestise yang lebih tinggi. Pandangan ini bukan tanpa alasan. Kerajinan songkok sering kali dianggap pekerjaan yang melelahkan, kurang menjanjikan, dan terbatas pada lingkup tradisional.
Padahal, para pengrajin senior yang saat ini masih bertahan mengeluhkan bahwa kehilangan regenerasi ini akan berdampak besar pada kelangsungan tradisi.
“Kalau anak-anak muda tidak tertarik lagi, siapa yang akan meneruskan? Lama-lama kerajinan ini bisa punah,”
ujar salah satu pengrajin yang telah berkecimpung dalam bisnis songkok selama lebih dari 15 tahun.
Langkah dan Antisipasi Masyarakat
Namun, kekhawatiran ini bukan sekadar masalah pilihan profesi. Hal ini juga mencerminkan kurangnya apresiasi terhadap budaya lokal. Tradisi kerajinan songkok, yang seharusnya menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Gresik, perlahan tergeser oleh produk massal yang lebih praktis. Di tengah tantangan ini, upaya untuk menjaga keberlanjutan kerajinan songkok menjadi semakin mendesak.
Beberapa langkah telah dilakukan, seperti mengadakan pelatihan bagi generasi muda dan pameran kerajinan untuk memperkenalkan songkok Gresik kepada pasar yang lebih luas. Namun, hasilnya belum memuaskan. Pak Khoirul Jayadi dan pengrajin lainnya berharap ada inovasi yang bisa membuat kerajinan ini relevan kembali. Misalnya, mengembangkan desain songkok yang lebih modern dan sesuai dengan selera anak muda, atau memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk mereka secara lebih luas.
Di sisi lain, edukasi tentang pentingnya melestarikan budaya lokal juga perlu digencarkan. Anak-anak muda perlu disadarkan bahwa melestarikan kerajinan songkok bukan hanya soal mempertahankan pekerjaan, tetapi juga menjaga identitas dan warisan leluhur. Jika tidak ada yang peduli, tradisi ini mungkin hanya akan tinggal cerita, tersimpan dalam museum sebagai bagian dari masa lalu.
Songkok Gresik adalah bukti keindahan dan kearifan lokal yang tak ternilai. Di tengah derasnya arus modernisasi, menjaga keberlanjutan kerajinan ini adalah tanggung jawab bersama, baik masyarakat, pemerintah, maupun generasi muda. Jangan biarkan tradisi yang penuh makna ini hilang ditelan waktu. Sebab, kehilangan songkok Gresik bukan hanya kehilangan sebuah kerajinan, tetapi juga kehilangan ciri khas kota Gresik.
Temukan kisah lengkap bisnis ekonomi syariah warga kampung songkok Gresik melalui link video dibawah ini.
https://www.instagram.com/reel/C_MscRbvy4a/igsh=a3F4NW1tanUzbGVu
Informasi Penulis
Nama Pengirim: Fadya Majida Az-Zahra
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.
