Membongkar Misteri: Wahyu Pertama Yang Diterima Nabi Muhammad

Mahasiswa PTIQ
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Muhammad Fadzlurrahman Al Yunusi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam perjalanan sejarah umat manusia, tidak ada momen yang lebih monumental daripada saat Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Sejak ribuan tahun yang lalu, dua momen penting dalam sejarah spiritual umat manusia telah terukir dalam ingatan kolektif: saat pertama kali wahyu Allah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terdapat sebuah perjalanan yang penuh dengan penemuan, tantangan, dan transformasi. Dari suara lembut yang bergema di Gua Hira yang mengatur kehidupan umat, wahyu-wahyu ini tidak hanya membentuk fondasi ajaran Islam, tetapi juga mengubah arah sejarah dunia.
Artikel ini akan membongkar misteri di balik wahyu pertama yang mengawali perjalanan kenabian dan di dalam kitab suci Al-Qur'an, kita akan menyelami kedalaman makna dari wahyu pertama yang mengubah arah hidup seorang manusia menjadi utusan Allah, serta yang menyempurnakan petunjuk-Nya bagi umat manusia. Menggali makna dan dampaknya bagi umat manusia sepanjang zaman. Mari kita telusuri jejak spiritual yang menghubungkan momen bersejarah ini dan mengungkap hikmah di baliknya.
Sebelum memasuki pembahasan apa itu yang dimaksud dengan wahyu? Wahyu terbagi menjadi dua pengertian, Yang pertama yakni wahyu secara Etimologi yaitu merupakan serapan dari bahasa arab: وَحَى-يَحِى-وَحْيًا yang artinya isyarah atau petunjuk, dan pemberitahuan yang disampaikan secara tersembunyi dan cepat. Yang kedua yakni wahyu secara terminologi yaitu proses penyampaian pesan atau perintah dari Tuhan kepada para nabi atau rasul. Dalam konteks agama, wahyu dianggap sebagai sumber pengetahuan yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, dan biasanya berisi petunjuk, hukum, atau ajaran yang harus diikuti oleh umat.
Adapun wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT yaitu berupa Al-Quran yang melalui perantara dari malaikat Jibril. Ungkapan bahwasanya Nabi Muhammad SAW menerima Al-Quran yang diturunkan kepadanya itu mengesankan, suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun dari tempat yang lebih tinggi. Hal itu karena tingginya kedudukan Quran dan agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah pelajaran hidup umat manusia, yang menghubungkan langit dengan bumi, dan dunia dengan akhirat.
Dalam hal ini apa yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhanmad SAW, para ulama mempunyai banyak pendapat tentang ini, berikut pembahasannya. Mengutip dari kitab Mannā' Khalīl al-Qaṭṭān, yang turun pertama kali diturunkan yaitu terdapat beberapa pendapat yakni
Pertama
Adapun yang pertama pendapat yang pertama kali turun paling sahih ialah firman Allah yang berbunyi
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-'Alaq [96]:1-5).
Pendapat ini didasarkan pada suatu hadis yang diriwayatkan yang berbunyi :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: "أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ كَانَتْ فِي النَّوْمِ. كَانَتْ تَأْتِيَ كَأَشْرَاقِ الْفَجْرِ. ثُمَّ حَبَّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ، فَكَانَ يَخْلُو إِلَى غَارِ حِرَاءَ، فَيَعْبُدُ فِيهِ أَيَّامًا. ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَتُزَوِّدُهُ بِذَاتِ الْحَاجَةِ. فَفِي غَارِ حِرَاءَ أُحِسَّ بِالْحَقِّ. فَأَتَاهُ الْمَلَكُ فَقَالَ: "اقْرَأْ!" فَقَالَ: "مَا أَنَا بِقَارِئٍ". فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَطْلَقَنِي، فَقَالَ: "اقْرَأْ!" فَقُلْتُ: "مَا أَنَا بِقَارِئٍ". فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَطْلَقَنِي، فَقَالَ: "اقْرَأْ!" فَقُلْتُ: "مَا أَنَا بِقَارِئٍ". فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ، ثُمَّ أَطْلَقَنِي، فَقَالَ: "اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ... حَتَّى بَلَغَ... مَالَمْ ".يَعْلَم
Dalam hadis tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengalami mimpi yang benar sebelum wahyu pertama turun. Mimpi ini merupakan salah satu cara Allah memberikan petunjuk kepada nabi, proses turunnya wahyu pertama dijelaskan secara rinci, di mana Nabi Muhammad SAW mengalami pelukan dari Malaikat Jibril sebanyak tiga kali. Ini menggambarkan betapa beratnya beban wahyu yang harus ditanggung oleh Nabi, serta ketidak pastian dan keragu-raguan yang dialaminya saat pertama kali menerima perintah untuk membaca. Perintah "Bacalah!" yang diulang oleh Malaikat Jibril menunjukkan pentingnya membaca dan menuntut ilmu dalam Islam. Ayat-ayat yang pertama kali diturunkan mengandung pesan tentang penciptaan dan pengetahuan, yang menjadi dasar bagi ajaran Islam. Hadis ini juga menunjukan bahwa wahyu adalah bentuk komunikasi langsung antara Allah dan Nabi-Nya. Ini mengingatkan kita akan pentingnya hubungan spiritual dan komunikasi dengan Allah didalam hidup kita.
Kedua
Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun adalah firman Allah: Ya ayyuhal muddassir (wahai orang yang berselimut). Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadis: Dari Abu Salamah bin Abdurrahman; dia berkata: "Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: Yang manakah di antara Quran itu yang turun pertama kali? Dia menjawab: Yâ ayyuhal muddassir, Aku bertanya lagi: Ataukah iqra bismi rabbik? Dia menjawab: Aku katakan kepadamu apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. kepada kami:
"إِنِّي كُنتُ أَتَحَنَّثُ فِي غَارِ حِرَاءَ، فَلَمَّا قَضَيْتُ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، نَزَلْتُ، فَتَجَوَّلْتُ فِي الْوَادِي، فَنَظَرْتُ أَمَامِي وَخَلْفِي وَيَمِينِي وَشِمَالِي، ثُمَّ نَظَرْتُ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا أَنَا بِجِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَلَى شَكْلِ رَجُلٍ، فَرَجَعْتُ إِلَى خَدِيجَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقُلْتُ: زَملُونِي، زَملُونِي، فَزَمَّلُونِي، فَأَنزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: "يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ، قُم فَأَنذِرْ "."
Mengenai hadis Jabir ini, dapatlah dijelaskan bahwa pertanyaan itu mengenai surah yang diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah Muddasir-lah yang turun secara penuh sebelum surah lqra' selesai diturunkan, karena yang turun pertama sekali dari surah Iqra' itu hanyalah permnulaannya saja. Hal yang demikian ini juga diperkuat oleh hadis Abu Salamah dari Jabir yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Jabir berkata:
فَقَالَ: "بَيْنَمَا أَنَا أَمْشِي، سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا الْمَلَائِكَةُ الَّذِي أَتَانِي فِي غَارِ حِرَاءَ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَأَحْسَسْتُ مِنْهُ بِرُعْبٍ، فَأَتَيْتُ فَأَقُولُ: زَمِّلُونِي، زَمِّلُونِي، فَزَمَّلُونِي، فَأَنزَلَ اللَّهُ: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ."
"Aku telah mendengar Rasulullah SAW ketika ia berbicara mengenai terputusnya wahyu, maka katanya dalam pembicaraan itu: 'Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku angkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua Hira itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang dan aku katakan: Selimuti aku! Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan: Ya ayyuhal muddassir."
Hadis ini mnenunjukkan bahwa kisah tersebut lebih kemudian daripada kisah gua Hira, atau Muddassir itu adalah surah perama yang diturunkan setelah terhentinya wahyu. Jabir telah mengeluarkan yang demikian ini dengan ijtihadnya, akan tetapi riwayat Aisyah lebih mendahuluinya. Dengan demikian, maka ayat Qur an yang pertama kali turun secara mutlak ialah Iqra dan surah yang pertama diturunkan secara lengkap dan pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu ialah Ya ayyuhal muddassir.
Ketiga
Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun adalah surah Al-Fatihah. Mungkin yang dimaksudkan adalah surah yang pertama kali turun secara lengkap.
Menurut Imam Jalaluddin Al-Suyuti menjelaskan Pernyataan bahwa "yang pertama kali turun adalah Surah Al-Fatihah" sering kali membingungkan, karena wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah ayat-ayat dari Surah Al-Alaq (QS. 96:1-5). Namun, beberapa ulama berpendapat bahwa Surah Al-Fatihah adalah surah yang pertama kali diturunkan secara lengkap. Surah Al-Fatihah, yang terdiri dari tujuh ayat, dikenal sebagai "Umm Al-Kitab" (Induk Al-Qur'an) dan sangat penting dalam ibadah, karena dibaca dalam setiap rakaat shalat. Meskipun bukan wahyu pertama, kedudukan Surah Al-Fatihah sangat sentral dalam ajaran Islam, menjadikannya istimewa dalam konteks spiritual dan praktik keagamaan.
Keempat
Disebutkan juga bahwa yang pertama kali turun adalah Bismilllahirrahmanirrahiim, karena basmalah itu turun mendahului setiap surah.
Dalam kitab "Manna khalil Al-Qattan", Bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang) diinterpretasikan sebagai ungkapan yang sangat penting dalam konteks wahyu Al-Qur'an. Meskipun wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah dari Surah Al-Alaq, beberapa ulama berpendapat bahwa Bismillah adalah bagian dari wahyu yang turun sebelum surah-surah lainnya, sehingga bisa dianggap sebagai yang pertama dalam konteks pembuka.
Jadi dapat disimpulkan Dalam perjalanan sejarah umat manusia, momen ketika Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira menjadi titik balik yang monumental. Wahyu pertama ini, yang dikenal sebagai ayat-ayat dari Surah Al-Alaq (QS. 96:1-5), menandai awal dari ajaran Islam dan membawa transformasi besar dalam kehidupan umat manusia. Proses penerimaan wahyu ini melibatkan pengalaman spiritual yang mendalam, di mana Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk "Bacalah!" oleh Malaikat Jibril, menekankan pentingnya ilmu dan pengetahuan.
Dalam kitab "Mannakhalil Al-Qattan," terdapat beberapa pendapat mengenai wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW:
1. Surah Al-Alaq
2. Surah Al-Muddassir
3. Surah Al-Fatihah
4. Bismillahirrahmanirrahim
Keseluruhan wahyu ini tidak hanya membentuk fondasi ajaran Islam, tetapi juga mengubah arah sejarah dunia, menghubungkan manusia dengan petunjuk ilahi yang abadi. Dengan demikian, wahyu pertama ini menjadi simbol dari hubungan spiritual yang erat antara Allah dan umat-Nya, serta pentingnya pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun faedah pembahasan pengetahuan mengenai wahyu pertama kali di turunkan salah satunya yaitu menjelaskan perhatian yang diperoleh Qur`an guna menjaganya dan menentukan ayat-ayatnya. Para sahabat telah menghayati Qur`an ini ayat demi ayat, sehingga mereka mengerti kapan dan dimana ayat itu diturunkan. Mereka telah menerima dari Rasulullah ayat-ayat Qur'an yang diturunkan kepadanya dengan sepenuh hati, hati-hati dan percaya bahwa Qur'an adalah dasar agama, penggerak iman dan sumber kemuliaan serta kehormatannya. Dan ini membawa akibat positif yaitu bahwa Qur'an selamat dari perubahan dan kekacaubalauan.
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya."(Al– Hijr [15]:9)
Muhammad Fadzlurrahman Al Yunusi, Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta, Fakultas Syariah, Program Studi ekonomi Syariah
