Konten dari Pengguna

Kunci Sukses itu: Kerja Keras atau Privilese?

Fahbi Hidayanto

Fahbi Hidayanto

Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahbi Hidayanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay.com

Orang Indonesia memang cenderung menganggap kerja keras itu kunci sukses, asalkan belajar dengan tekun, tidak neko - neko, dan terus bekerja keras, niscaya kesuksesan datang menghampiri diri kita sendiri. Tidak ada martabat dalam kemiskinan aku pernah kaya, aku pernah miskin, dan jelas aku akan selalu memilih kaya.

Benarkah kerja keras satu - satunya kunci kesuksesan?

Zaman sekarang tidak bisa hanya dengan mengandalkan kerja keras dan bakat, uang dan orang dalam punya banyak pengaruh jika ingin sukses. Asalkan bekerja keras bisa sukses saat ini sepertinya mustahil untuk orang berpendapatan kecil rasanya sulit untuk berkembang dengan usaha sendiri, banyak penghambatnya.

Kami mengikuti perkembangan sekitar 1.522 anak usia 8 sampai 17 tahun ditahun 2000, kami ikuti perkembangannya selama 14 tahun hingga mereka itu mencapai usia 22 sampai 31 tahun ditahun 2014 dan telah bekerja untuk memperoleh penghasilan yang ditemukan dalam kasus ini adalah yang pertama, anak yang terlahir miskin memiliki penghasilan yang lebih rendah sebesar 87 persen dibandingkan dengan anak yang tidak terlahir miskin.

Singkat kata, mereka yang lahir dan besar dari keluarga miskin, cenderung akan miskin ketika dewasa sedih lain menyebut faktor keluarga juga berperan penting membentuk masa depan anak.

Nah, privilese ekonomi ternyata mempengaruhi tingkat Kesuksesan kita, lalu kenapa banyak orang masih yakin bahwa kerja keras kunci utama kesuksesan?

INOVASI berpendapat ada tiga hal penyebabnya, yaitu:

  1. Yang pertama orang Indonesia belum sadar betul bahwa ekonomi kita timpang.

  2. Yang kedua ketimpangan kelas menyebabkan sekat-sekat dalam bermasyarakat. Ini menyebabkan warga miskin cenderung hidup dan bersekolah dilingkungan miskin, sedangkan orang-orang kaya relatif hidup dan sekolah dilingkungan yang mewah.

  3. Yang ketiga masyarakat gemar akan produk - produk soal motivasi. Lewat para motivator, semua orang terlihat mampu mencapai kemakmuran. Meski demikian, kerja keras tetap berperan dalam mencapai kesuksesan.

Contohnya bisa kamu lihat dari kanan-kirimu, bukan? Syaratnya, 2 kerja keras itu perlu bertemu faktor kesempatan, yang salah satunya didorong pendidikan. Sudah sejak lama, kekuatan utama meningkatkan kesetaraan adalah penyebaran pengetahuan dan keterampilan.