Pasang surut air laut dan dampaknya

Mahasiswa ITS
Tulisan dari Ilmi Fahdi Rasman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa permukaan bumi terdiri dari daratan dan lautan, lautan mendominasi dengan mencakup kurang lebih 70% permukaan bumi dan daratan dengan 30%. Indonesia sebagai salah satu negara/wilayah yang ada di bumi merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki 17.499 pulau dengan luas total wilayah Indonesia sekitar 7,81 juta km2. Dari total luas wilayah tersebut, 3,25 juta km2 adalah lautan dan 2,55 juta km2 adalah Zona Ekonomi Eksklusif. Hanya sekitar 2,01 juta km2 yang berupa daratan. Dengan adanya geografis Indonesia seperti ini aktivitas berkaitan dengan Laut bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.
Aktivitas kelauatan sangat bergantung pada keadaan laut itu sendiri, seperti cuaca dan gelombang. Fenomena yang sangat sering terjadi tidak hanya di Indonesia maupun di lautan bumi manapun yaitu fenomena pasang surut air laut. Untuk masyarakat Indonesia pasang surut air laut bukanlah hal yang asing.
Pasang surut air laut adalah fenomena naik dan turunnya tinggi permukaan laut secara periodik. Fenomena ini dapat di amati sepanjang hari dan malam, dan terjadi di lautan dalam maupun di pantai.
Pasang surut disebabkan oleh adanya interaksi antara gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi. Dikarenakan bulan jauh lebih dekat dengan bumi dibandingkan matahari maka dampak gravitasinya pun lebih besar terhadap bumi dibandingkan matahari. Dikarenakan adanya pengaruh posisi di permukaan bumi, perbedaan batimetri dan struktur pantai maka pola pasang surut dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Ada 3 tipe pasang surut, yaitu :
Diurnal, pasang surut hanya satu kali terjadi dalam 24 jam
Semi-diurnal, pasang surut terjadi 2 kali dalam 24 jam
Mixed tides, pasang surut yang tidak diurnal maupun semi-diurnal namun condong ke salah satu tipe
Fenomena ini merupakan hal yang lumrah terjadi di Indonesia maupun belahan bumi lainnya. Fenomena ini memiliki sisi positif yang dapat dimanfaatkan manusia maupun negatif bahkan ekosistem dan lingkungan laut sendiri.
Sisi positif pasang surut air laut :
Pada saat pasang kapal berlayar dan berlabuh di dermaga yang agak dangkal, sehingga jarak dengan daratan lebih dekat.
Pada saat pasang air laut petani garam dapat mengisi petak petak untuk membuat garam. Dan pada saat surut air laut akan mengering dan akan menjadi garam.
Ketika air laut sedang mengalami pasang, maka ikan-ikan banyak yang ikut terbawa hingga sangat dekat dengan pesisir pantai. Dan ketika surut, banyak pula ikan-ikan yang terdampar di pinggir pantai. Hal inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh para penduduk di pesisir pantai untuk digunakan sebagai mata pencarian di laut atau di pantai.
Pasang surut air laut sebagai sumber enegri atau sumber tenaga listrik. Gaya pasang surut air laut dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan generator yang dapat menjadi sumber listrik bagi pemukiman sekitar pesisir pantai. Karena di daerah pesisir pantai sulit untuk mencari sumber tenaga listrik, sehingga pasang surut air laut bisa di manfaatkan untuk menjadi sumber tenaga listrik.
Pasang air laut dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan watersport dengan menggunakan gelombang yang ada.
Adapun sisi negatif dala beberapa kasus :
Pendangkalan dermaga, Pasang dan surut air laut dapat menimbulkan dermaga akibat tanah yang menumpuk karena tanah yang terkikis. Pendangkalan dermaga menyebabkan semua kapal tidak dapat berlabuh.
Ikan yang terdampar di lautan bukan hanya ikan yang dapat dimanfaatkan untuk konsumsi dan pangan, sebanyak 270 Paus terdampar di Pantai Barat Tasmania, Australia September 2020 lalu.
Gelombang pasang air laut juga dapa berisiko ombak besar bahkan tsunami. Salah satu Peristiwa yang terjadi di Indonesia merupakan pada Desember 2018 silam, terjadi gelombang pasang air laut yang terjadi di Lampung Selatan dan Anyer mengakibatkan 1 meninggal dan 11 luka-luka (https://darilaut.id/berita/gelombang-pasang-di-anyer-dan-lampung-selatan-satu-meninggal-11-luka-luka)
Dengan adanya manfaat positif bagi manusia, pasang air laut dapat berguna, namun dibalik itu ada pun sisi negatifnya, manusia tidak bisa mengontrol hal ini namun dengan teknologi yang ada sekarang, gelombang pasang surut air laut dapat diprediksi dan tindakan pencegahan dapat dilakukan.
Refrensi :
https://darilaut.id/berita/gelombang-pasang-di-anyer-dan-lampung-selatan-satu-meninggal-11-luka-luka
https://langitselatan.com/2017/06/13/seluk-beluk-pasang-surut-air-laut/
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/laut/manfaat-pasang-surut-air-laut
https://peta-maritim.bmkg.go.id/index.php/area/pelayanan
https://www.kompas.com/skola/read/2020/06/01/100000969/sumber-energi-pasang-surut-air-laut?page=all
