Konten dari Pengguna

"Belenggu" Ketidakadilan di Balik Lomba Cerdas Cermat

Fahma Aisyah Putri Alwa

Fahma Aisyah Putri Alwa

Seorang mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahma Aisyah Putri Alwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah riuh media sosial, mendadak ramai diperbincangkan soal lomba cerdas cermat yang diadakan akhir-akhir ini. Ada siswa yang dianggap “berani” karena memprotes dugaan kecurangan dalam lomba cerdas cermat. Namun, di balik keberanian itu, ada sesuatu yang lebih besar yakni rasa kecewa seorang siswa ketika keadilan terasa tidak hadir di ruang yang seharusnya menjunjung sportivitas.

Kasus ini bukan sekadar soal lomba cerdas cermat saja, melainkan soal bagaimana seseorang bisa merasa sendirian ketika sistem yang dipercaya justru membuatnya ragu.

Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi

Perasaan semacam itu pernah digambarkan Armijn Pane dalam novel Belenggu. Novel ini memang berbicara tentang cinta, rumah tangga, dan keterasingan batin. Namun, inti terdalamnya adalah tentang manusia yang terjebak dalam kebimbangan dan ketidakmampuan menemukan tempat yang benar-benar berpihak padanya.

Tokoh Sukartono hidup di tengah dua dunia memiliki istri yang modern dan independen, serta perempuan lain yang memberinya rasa dipahami. Tetapi pada akhirnya, ia kehilangan keduanya karena terlalu lama terbelenggu oleh keraguannya sendiri.

Dalam novel itu, ada kalimat yang terasa relevan dengan banyak keadaan hari ini:

“Bukan karena hal yang sebenarnya kita takut, tetapi karena kita tiada tahu, apa yang akan dikatakan orang.”

Kalimat itu terasa dekat dengan apa yang dialami banyak siswa ketika melihat ketidakadilan yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka tahu ada yang salah, tetapi takut bicara karena khawatir dianggap pembuat masalah. Bahkan, ketika berani mengungkapkan kebenaran dan mulai bicara, justru keadaan diubah menjadi terbalik layaknya kebenaran yang seolah salah.

Padahal, keberanian menyampaikan protes justru sering lahir dari rasa cinta terhadap kejujuran.

Dalam novel Belenggu, tokoh Sukartono terus-menerus menunda mengambil sikap tegas. Ia memilih diam, membiarkan dirinya hanyut dalam kebingungan. Akibatnya, ia kehilangan arah karena sikap diam yang terlalu lama justru menjadi penjara.

Bukankah itu juga yang sering terjadi dalam dunia pendidikan kita?

Ketika ada dugaan ketidakadilan, banyak orang memilih diam demi menjaga nama baik acara. Banyak yang lebih sibuk meredam suara protes daripada memeriksa substansi persoalan. Akhirnya, siswa yang bersuara malah dianggap mengganggu ketertiban. Padahal, pendidikan tidak hanya mengajarkan cara menang lomba, tetapi juga keberanian membela sesuatu yang dianggap benar.

Armijn Pane menulis:

“Kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan lain-lain.”

Keyakinan itulah tampaknya dimiliki siswa yang mengalami kecurangan dalam lomba. Ia mungkin sadar bahwa suaranya akan menuai komentar, cibiran, bahkan serangan. Tetapi ada saat ketika diam justru terasa lebih menyakitkan daripada berbicara.

Yang menarik, novel Belenggu memperlihatkan bahwa manusia sering kali lebih takut pada penilaian sosial dibanding kehilangan dirinya sendiri. Sukartono hidup dalam ketakutan terhadap pandangan orang lain, hingga akhirnya tidak mampu menentukan apa yang sebenarnya ia perjuangkan.

Kita juga hidup dalam masyarakat yang sering meminta anak muda untuk “tenang saja” dan “jangan memperbesar masalah”. Namun, bagaimana mungkin generasi muda belajar tentang demokrasi jika keberatan mereka dianggap ancaman?

Lomba cerdas cermat seharusnya tidak hanya menguji hafalan pasal dan sistem ketatanegaraan. Lebih dari itu, semestinya lomba itu menjadi ruang belajar tentang nilai demokrasi: keterbukaan, kejujuran, dan keberanian menyampaikan kritik.

Ironis jika justru nilai itu hilang di dalam praktiknya.

Kasus kecurangan ini memperlihatkan bahwa ketidakadilan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga tentang bagaimana suara diperlakukan. Ketika seseorang merasa harus viral terlebih dahulu agar didengar, itu tanda ada yang tidak sehat dalam cara kita merespons kritik.

Pada akhirnya, novel Belenggu mengajarkan satu hal penting: manusia bisa terjebak bukan hanya oleh orang lain, tetapi juga oleh ketakutannya sendiri.

Dan mungkin, keberanian seorang siswa untuk berkata “ini tidak adil” adalah usaha kecil untuk memutus belenggu itu.