Konten dari Pengguna

Kasus Daycare dan Beban Perempuan: Cermin dari "Kehilangan Mestika"

Fahma Aisyah Putri Alwa

Fahma Aisyah Putri Alwa

Seorang mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahma Aisyah Putri Alwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kasus daycare dan beban perempuan belakangan ini menjadi perbincangan di Indonesia. Ramainya kasus daycare bukan hanya soal pengasuhan anak, tapi juga membuka realita tentang bagaimana perempuan masih memikul tanggung jawab utama dalam keluarga. Hal ini dapat kita lihat dengan cermin novel "Kehilangan Mestika"

Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi

Siapa sebenarnya yang memikul tanggung jawab utama dalam pengasuhan anak di Indonesia?

Di tengah meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja, kebutuhan akan layanan daycare memang semakin tinggi. Namun di sisi lain, muncul berbagai kekhawatiran—mulai dari kualitas pengasuhan hingga keamanan anak.

Di balik semua itu, ada satu realita yang sering tidak disadari, bahwa beban pengasuhan masih sangat lekat pada perempuan. Sehingga fenomena ini terasa modern, tapi sebenarnya bukan hal baru.

Dalam novel Kehilangan Mestika karya Hamidah , tokoh perempuan digambarkan hidup dalam keterbatasan pilihan. Ia harus berhadapan dengan tekanan keluarga, kondisi sosial, dan tanggung jawab yang tidak sepenuhnya bisa ia tentukan sendiri. Meski latarnya berbeda zaman. Namun, ada satu hal yang tetap sama: perempuan sering menjadi pihak yang paling terdampak ketika sistem di sekitarnya tidak mendukung.

Hari ini, semakin banyak perempuan Indonesia yang aktif bekerja dan mandiri secara ekonomi. Namun, sistem pendukungnya belum sepenuhnya mengikuti. Banyak keluarga akhirnya bergantung pada daycare atau pengasuh. Sayangnya, kualitas layanan ini belum merata, dan pengawasan pun masih menjadi tantangan. Ketika terjadi masalah, perhatian publik sering langsung tertuju pada orang tua—terutama ibu.

Padahal, persoalannya jauh lebih luas. Lantas, ini bukan hanya soal pilihan individu, tapi tentang fasilitas pengasuhan anak yang terjangkau dan berkualitas, namun juga masih memiliki kekurangan regulasi yang kuat, dan belum meratanya kesadaran bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama

Beban Ganda yang Masih Nyata

Perempuan hari ini tidak hanya dituntut untuk bekerja, tetapi juga tetap menjalankan peran domestik. Ketika anak mengalami masalah, pertanyaan yang sering muncul adalah:

“Kenapa ibunya tidak mengurus sendiri?”

Narasi seperti ini memperlihatkan bahwa peran ayah masih sering dianggap sekunder, pengasuhan masih dilihat sebagai “tugas utama perempuan”. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Banyak perempuan bekerja bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan ekonomi.

Dilema yang Tidak Pernah Sederhana

Kasus daycare memperlihatkan dilema yang dihadapi banyak ibu:

Di satu sisi, mereka ingin memastikan anak tumbuh dengan aman dan penuh perhatian. Di sisi lain, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pilihan menggunakan daycare sering bukan pilihan ideal, melainkan pilihan yang paling mungkin. Dan di situlah muncul tekanan yang tidak terlihat: rasa bersalah, kekhawatiran, dan ketakutan akan penilaian sosial.

Pelajaran yang Sudah Lama Ada

Dalam novel Kehilangan Mestika, tokoh perempuan tidak sepenuhnya bebas menentukan hidupnya. Ia bergerak dalam ruang yang dibatasi oleh norma, tekanan, dan kondisi. Hari ini, batasan itu mungkin tidak lagi terlihat dalam bentuk yang sama. Namun esensinya masih terasa, bahwa perempuan harus menyesuaikan diri dengan sistem, bukan sistem yang menyesuaikan diri dengan perempuan. Kasus daycare menjadi pengingat bahwa persoalan ini belum selesai.

Daripada alih-alih menyalahkan individu, penting untuk melihat persoalan ini secara lebih luas. Ternyata yang perlu dipertanyakan bukan hanya: “mengapa orang tua memilih daycare?”

Tapi juga:

apakah negara sudah menyediakan sistem pengasuhan yang memadai? apakah tempat kerja cukup ramah bagi orang tua? apakah peran pengasuhan sudah dibagi secara setara?

Seperti yang tergambar dalam Kehilangan Mestika, perempuan sering kali berada di titik persimpangan antara pilihan dan keterbatasan. Dan sampai hari ini, banyak dari mereka masih berada di posisi yang sama—hanya dengan bentuk tekanan yang berbeda.