Konten dari Pengguna

Apakah benar Agama adalah sebuah "Warisan"?

Fahmi Agustian

Fahmi Agustian

Penikmat sepakbola yang angin-anginan, fan Liverpool, sering nyinyir.

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Agustian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di awal Bulan Ramadhan kali ini, kita digemparkan dengan sebuah tulisan yang sangat viral di dunia maya. Sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang siswi SMA yang masih belia, dan memiliki wawasan yang sangat luas. Dari tulisan yang ia buat, harus diakui bahwa dia menulis dengan kecerdasan. Tidak banyak anak seusia Afi Nihaya yang memiliki pandangan seperti itu. Saya sendiri tak sepakat dengan justifikasi liberal yang disematkan oleh beberapa pihak kepada Afi ini. Bagi saya, Afi ini hanya mencoba mengungkapkan yang ada di fikiran dia, layaknya sebuah pendapat ada yang setuju dan ada yang tidak. Wajar saja.

Dalam Islam, kita mengenal Qodlo dan Qodar. Qodlo adalah segala sesuatu hal yang berkaitan dengan ketentuan dan keputusan Allah atas segala yang akan terjadi pada setiap makhluk-Nya. Sementara Qodar adalah Qodlo yang sudah terjadi. Ada satu istilah lagi yang disebut sebagai Irodah. Idzaa arooda syaian an yaquula lahu kun fayakun. Dalam ayat tersebut ada kata arooda. Yang kemudian memiliki pembagian kata yang lain yaitu irodah. Irodah adalah kehendak Allah, apapun yang dikehendaki oleh Allah maka akan terjadi; kun fayakuun.

Sebelum risalah untuk Rasulullah SAW turun, manusia memiliki hak untuk mencari siapa Tuhan itu. Meskipun sebelumnya sudah diturunkan Taurat, Zaburdan Injil, manusia tidak benar-benar menemukan Tuhan. Semua Nabi dan Rasul itu membawa dakwah Tauhid, yaitu Tuhan Yang Satu. Hanya saja, manusia dahulu menemukan sendiri atau bisa dikatakan menyimpulkan sendiri nama Tuhan; Sang Hyang Wenang, Yehova, Sang Hyang Widhi, Jesus Kristus dan lain sebagainya yang pada akhirnya itu hanyalah kesimpulan atas pencarian mereka. Sampai akhirnya Al Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dari Al Qur'an inilah kemudian Tuhan memperkenalkan nama Allah untuk menyebut diri-Nya.

Dalam Rukun Iman, ummat muslim wajib meyakini Kitab-Kitab Allah yang 4; Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur'an. Saya mendapat sebuah penjelasan dari Cak Nun mengenai evolusi Kitab Allah ini. Secara sederhana, Cak Nun menjelaskan bahwa Allah menurunkan Kitab-KitabNya ini dalam rangka mengajarkan manusia secara bertahap agar mampu menemukan pedoman dalam kehidupan. Sehingga tidak seharusnya dibedakan bahwa Taurat, Zabur dan Injil itu bukan bagian dari Islam. Keempat Kitab itu adalah proses evolusi, Nabi Musa AS ditugasi berdakwah dengan pedoman Taurat, kemudian Zabur adalah Kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Daud AS, dan Injil adalah Kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Isa AS. Sementara Al Qur'an adalah penyempurnaan dari 3 Kitab sebelumnya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ya, Cak Nun menjelaskan terminologi ini di Maiyah, dan saya sendiri memang aktif di salah satu simpul Maiyah; Kenduri Cinta.

Dari proses evolusi Kitab Allah yang empat ini saja kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata Islam tidak dimulai pada masa Rasulullah SAW mendapat wahyu yang pertama. Islam jauh sudah berlangsung sejak awal penciptaan alam semesta. Sejauh ini saya tidak menemukan literatur yang benar-benar meyakinkan saya bahwa Islam dimulai dari kata Iqra'. Saya meyakini bahwa Islam bermula sejak Allah menciptakan alam semesta dan segala kelengkapannya, kemudian menciptakan Nabi Adam AS dan berlangsung hingga hari ini. Yang saya fahami adalah bahwa wahyu terakhir yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW adalah; alyauma akmaltu lakum diinakum, wa atmamtu 'alaikum ni'matii, wa rodlitu lakum islaama diinaan. Sehingga jelas bahwa diturunkannya Al Qur'an adalah dalam rangka menyempurnakan Islam sejak awal penciptaan alam semesta dan seluruh isinya.

Lantas, apakah kemudian Agama yang kita yakini hari ini adalah warisan? Apakah benar-benar kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim siapa dan dilahirkan di negara mana? Sehingga kemudian kita juga tidak memiliki hak untuk memilih keyakinan tentang Agama yang kita peluk hari ini? Coba anda buka Surat Al Hadiid ayat 8 dan Surat Al A'raf ayat 172. Bahwa sebenarnya, sebelum manusia dilahirkan ia sudah memiliki perjanjian dengan Allah tentang segala hal yang berkaitan dengan Ketauhidan Allah terutama.

Lantas mengapa manusia memiliki banyak macam keyakinan? Karena memang tugas manusia adalah mencari, bukan menemukan. Hari ini yang kita lihat adalah manusia merasa sudah menemukan, manusia tidak menikmati proses mencari. Ketika ia sadar bahwa ia dilahirkan dalam keluarga muslim misalnya, seharusnya kesadaran selanjutnya adalah mencari apakah itu Islam, seluas mana Islam, bukan lantas menyempitkan pengetahuannya dengan mengeliminir semua informasi yang berasal dari luar Islam. Bahkan sekarang pun kita melihat, sesama ummat muslim sendiri saling menyempitkan diri masing-masing. Merasa Islamnya paling benar. Merasa Islamnya paling Kaffah.

Tidak salah sebenarnya jika setiap orang meyakini bahwa apa yang diyakini adalah yang paling benar. Yang salah adalah ketika keyakinan itu dipaksakan kepada orang lain untuk diyakini. Bukankah kebenaran itu datangnya dari Allah; Al Haqqu min robbikum. Manusia hanya menjalani prosesnya untuk mencari. Petani itu tugasnya hanya memastikan sawah telah dibajak, kemudian benih padi ditanam dan ia rawat, tidak ada Petani yang berhak memastikan apakah padi yang ia tanam itu akan panen. Kepastian panennya padi yang ia tanam adalah hak prerogatif Allah.

Saya bersykur dilahirkan di keluarga muslim yang moderat, yang pandangan terhadap Islamnya tidak kaku. Ayah dan Ibu saya membebaskan saya untuk mencari informasi tentang Islam lebih jauh dengan cara saya sendiri. Dan proses pencarian itu masih terus belangsung hingga hari ini. Alhamdulillah, perjalanan saya kemudian dipertemukan dengan Cak Nun dan Maiyah. Di forum inilah saya belajar lebih jauh tentang apa itu Islam. Saya bergaul dengan banyak orang, tidak hanya dengan latar belakang akademis dan suku yang berbeda, juga keyakinan yang berbeda.

Pada akhirnya, saya memiliki pandangan bahwa keyakinan atau yang kita sebut agama itu bukan warisan. Kita hidup di dunia ini adalah dalam rangka proses mencari Yang Sejati. Terserah apa dan bagaimana jalan yang kita pilih, saya meyakini bahwa kemanapun manusia lari ia akan kembali kepada Yang Sejati. Karena saya meyakini bahwa Allah adalah Yang Sejati, maka saya juga meyakini bahwa kita semua kelak akan kembali kepada Yang Sejati itu; innaalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Jika memang Tuhan mentakdirkan kita lahir di Indonesia dan lahir dari rahim seorang Ibu yang beragama Islam, kenapa kita harus menggugat dengan perandaian yang jauh dari apa yang kita alami? Allah sendiri berfirman; faman syaa'a fa-l-yu'min waman syaa'a fa-l-yakfur. Barang siapa beriman, maka berimanlah. Dan barang siapa ingkar, silahkan kufur. Tidak ada paksaan dalam Islam. Tapi ingat, anda tidak bisa menghindari dari Yang Sejati itu.

Jadi, tak perlu kita berandai-andai "jika kita dilahirkan di Amerika atau Afrika, mungkin kita tidak akan memeluk dan meyakini Islam sebagai agama yang paling benar", cukup kita syukuri saja bahwa kita dilahirkan di Indonesia dan dilahirkan di keluarga muslim. Tak usah kemudian kita menganggap orang lain yang tidak satu keyakinan dengan kita adalah orang yang merugi apalagi tersesat. Cukup anda yakini bahwa apa yang mereka yakini adalah proses pencarian mereka menuju Yang Sejati. Daripada kita sibuk mengurusi orang lain, alangkah lebih baik kita mengurusi diri kita sendiri?