Karena Cak Nun sangat mencintai Indonesia

Penikmat sepakbola yang angin-anginan, fan Liverpool, sering nyinyir.
Tulisan dari Fahmi Agustian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Kok bisa ya ada orang gondrong masuk ke Istana Negara”, begitulah komentar Indra Sjafrie ketika dulu menyaksikan Presiden Soeharto mengumukan keputusan berhenti sebagai Presiden pada 21 Mei 1998. Saat itu ia melihat sosok Cak Nun muncul di layar televisi, menjadi salah satu dari 9 tokoh yang diundang oleh Pak Harto ke Istana Negara beberapa hari sebelum pengumuman keputusan dirinya untuk berhenti dari jabatan Presiden saat itu.
Beberapa hari terakhir, beredar sebuah cuplikan video singkat yang membuat gempar warga Nahdliyin khususnya. Oleh sebagian orang, Cak Nun dianggap mendeskreditkan NU, bahkan dianggap menjatuhkan marwah NU. Dalam cuplikan video berdurasi tidak lebih dari 3 menit itu Cak Nun menyebutkan beberapa kata kunci; Perppu, 1,5 Trilliun, NU, HTI, FPI, Ummat Islam, Ngrakoti Duit dan Politik Pecah Belah Bangsa. Bagaimana kita menyikapi apa yang diungkapkan oleh Cak Nun itu, bebas saja kita menafsirkannya. Secara pribadi, saya merasa perlu untuk menulis tentang hal ini. Sepenuhnya saya sadar, tulisan ini akan dianggap sebagai pembelaan saya terhadap Cak Nun. Dan andaikan pun iya, apakah itu salah?
Membaca tulisan-tulisan Cak Nun yang sudah ditulis sejak tahun 70-an, kita akan mendapati kritik keras nan tajam khas Cak Nun kepada penguasa yang berkuasa saat itu; Orde Baru. “Lautan Jilbab”, “Pak Kanjeng” dan “Perahu Retak” merupakan sebagian kritik yang diungkapkan oleh Cak Nun melalui teater pada medio 80-an hingga 90-an awal. Tidak heran jika hari ini pun bersuara keras mengkritik Pemerintah. Karena memang apabila ada hal yang tidak pantas, Cak Nun akan bersuara keras untuk memperingatkannya. Tak terkecuali Gus Dur. Cak Nun adalah yang mengantarkan Gus Dur menjadi Presiden, sebelum masuk proses pemilihan di Parlemen dengan kendaraan Poros Tengah saat itu. Hingga akhirnya ketika Gus Dur dilengserkan oleh Parlemen pun, Cak Nun adalah yang membujuk Gus Dur untuk segera meninggalkan Istana Negara, dan kembali ke Ciganjur.
Cak Nun dibesarkan oleh orang tua yang sangat dekat dengan rakyat kecil. Di masa kecilnya beliau diajak oleh Ibunda beliau; Ibu Chalimah, untuk mengunjungi rumah-rumah tetangganya, menanyakan apakah ada beras di dapur mereka, apakah masih punya mukena untuk digunakan sholat, menanyakan tentang bagaimana sekolah anak-anak mereka. Kisah-kisah masa kecil itu sangat membekas, sehingga sepanjang hidup beliau, rakyat kecil adalah fokus utama perjuangannya.
Banyak orang datang kepada Cak Nun untuk meminta bantuan penyelesaian persoalan hidup, mulai dari yang skalanya kecil hingga besar. Persoalan-persoalan seperti terlilit hutang, pernikahan yang berada di ambang perceraian, seorang anak yang bermusuhan dengan ayah kandungnya, seorang perempuan yang sudah menikah namun tak kunjung hamil, hingga orang yang meminta disembuhkan dari penyakit yang dideritanya. Dan banyak lagi jenisnya, semua diterima oleh Cak Nun. Dibantu mencarikan solusinya.
Kembali ke soal video pendek itu. Kebetulan saat Cak Nun mengucapkan kata-kata itu, saya tepat berada di sebelah kiri Cak Nun, di Kenduri Cinta edisi Juli 2017 lalu. Sukar saya pahami kenapa Cak Nun dianggap menjatuhkan marwah NU hanya karena sebuah video singkat yang tidak lebih dari 3 menit, yang disebarluaskan melalui media sosial, kemudian dibesar-besarkan oleh media massa yang tidak berskala nasional bahkan. Berita-berita yang diangkat bukan diangkat oleh Tempo atau Kompas misalnya, tetapi oleh portal-portal berita online yang sesungguhnya jika kita abaikan juga tidak masalah sama sekali. Sangat aneh jika Cak Nun dianggap merendahkan marwah NU, sementara selama 20 tahun terakhir, bersama KiaiKanjeng Cak Nun sering menemani Warga Nahdliyin di berbagai tempat di setiap Maiyahan.
Cak Nun bukanlah orang yang baru pertama kali berbicara di depan audiens yang jumlahnya ratusan. Bahkan, beberapa Maiyahan Cak Nun bersama KiaiKanjeng seringkali dihadiri ribuan orang. PadhangmBulan di Menturo, Jombang pada akhir 90-an bahkan pernah mencapai puluhan ribu jamaahnya yang berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia. Di setiap Maiyahan berlangsung, durasinya bisa lebih dari 6 jam. Tidak jarang Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dihadiri oleh Warga Nahdliyin yang memang memiliki tradisi sholawatan. Dan Cak Nun sudah sejak lama bersama KiaKanjeng menggunakan metode Sholawatan dalam setiap Maiyahan di berbagai tempat.
Isu Khilafah yang akhir-akhir ini marak di masyarakat juga menjadi salah satu yang dipikirkan oleh Cak Nun akhir-akhir ini. Perwakilan HTI dan Mabes Polri pun bergantian bertemu dengan Cak Nun untuk membahas isu ini. Pandangan-pandangan terkait itu semua juga sudah Cak Nun sampaikan kepada masing-masing pihak. Tidak ada yang berbeda, baik kepada HTI maupun Mabes POLRI diberikan wejangan yang sama kontennya.
Bagi Cak Nun, Perppu tentang Ormas yang disahkan oleh Pemerintah baru-baru ini seperti sebuah mata pisau yang tajam, suatu saat bisa saja menjadi legalitas untuk membubarkan Ormas-Ormas lain yang sudah eksis hari ini. Bukan hanya yang berbau “radikal” atau anti Pancasila semata. Inilah yang sebenarnya diantisipasi oleh Cak Nun terkait ucapan beliau tentang Perppu akhir-akhir ini. Simaklah beberapa serial tulisan Cak Nun sepanjang Ramadhan lalu dan beberapa Tajuk di website resmi Cak Nun akhir-akhir ini, ada banyak pesan yang disampaikan dengan jelas mengenai isu-isu terkini.
Sayangnya, banyak diantara kita yang tidak mau membaca tulisan-tulisan itu memang. Sehingga menghakimi Cak Nun atas video singkat itu seperti sebuah momentum yang sudah lama ditunggu-tunggu. Ditengah kegaduhan ini, oleh beberapa orang dimanfaatkan untuk mencari panggung. Saat ini, media sosial sangat mendukung untuk menjunjung-junjung seseorang agar tercitrakan dan populer, tetapi sebenarnya pada saat bersamaan, media sosial juga bisa menjadi alat untuk menjatuhkan seseorang dan menghancurkan nama baik seseorang.
Di Kenduri Cinta bulan Juni, Cak Nun menyampaikan bahwa ada perbedaan jelas antara Pemerintah Indonesia dengan Rakyat Indonesia, antara Islam dengan Ummat Islam. Ada gradasi, dimensi, lapisan-lapisan yang jelas membedakan antara keduanya. Dijelaskan oleh Cak Nun bahwa Islam tidak sama dengan FPI, Islam tidak sama dengan NU, Islam tidak sama dengan Muhammadiyah, Islam tidak sama dengan HTI dan lain sebagainya, sebagaimana juga Islam tidak hanya sekadar Habib Rizieq, Said Aqil Siraj, Haedar Nashir, Bachtiar Nasir, Ismail Yusanto, dan yang lainnya. Begitu juga dengan PP Muhammadiyah yang juga tidak sama dengan Warga Muhammadiyah, PBNU tidak sama dengan Nahdliyin. NU, Muhammadiyah, FPI, HTI dan yang lainnya merupakan bagian dari perilaku Islam, yang sangat mungkin berlaku salah dan harus diperingatkan jika melakukan kesalahan.
Saya mencoba melihat sedikit lebih jernih bahwa pernyataan Cak Nun tentang 1,5 Trilliun yang diberikan oleh Pemerintah kepada PBNU –melalui MoU yang ditandatangani oleh masing-masing perwakilan; PBNU dan Pemerintah di bulan Februari silam—itu tidak lebih merupakan sebuah peringatan yang diberikan oleh Cak Nun agar jangan sampai apabila dana tersebut benar-benar digulirkan nantinya disalahgunakan dan dimanfaatkan oleh segelintir pihak demi kepentingan tertentu. Ini bukan soal suudzon, karena ini bukan hanya soal uang sejumlah 1,5 Trilliun. Tetapi saya melihat, bahwa ini juga tentang martabat dan marwah NU sendiri sebagai sebuah Ormas Islam di Indonesia. Jika dana tersebut dipergunakan dengan baik, diawasi penggunaannya dan dipertanggungjawabkan dengan baik, maka NU akan “lulus” dalam ujian besar ini. Tetapi sebaliknya, jika ada sedikit saja informasi yang muncul yang menyatakan dana yang digulirkan tersebut disalahgunakan oleh oknum di PBNU, tentu NU akan juga turut menanggung resikonya.
Saya mengamati dengan seksama isu-isu terkait video singkat Cak Nun tersebut. Mulai dari yang pro maupun yang kontra. Saya pahami satu persatu, baik yang pro maupun yang kontra. Hingga akhirnya saya menemukan satu kesimpulan bahwa memang harus seperti inilah Cak Nun mengingatkan kita. Sekilas, jika kita berhenti dengan hanya melihat video pendek itu, maka kesimpulan yang kita dapatkan adalah; Cak Nun mendeskreditkan NU, titik.
Saya justru melihat banyak orang kemudian menjadi sangat memperhatikan tema "1,5 Trilliun"( yang hendak digulirkan untuk pemberdayaan ekonomi dalam rangka bantuan usaha modal usaha ultra mikro) ini. Bisa jadi, akan semakin banyak Warga Nahdliyin yang kemudian melihat kesempatan emas untuk memanfaatkan bantuan Pemerintah ini untuk membangun usaha mereka. Kita tahu, betapa banyaknya jumlah Warga Nahdliyin di Indonesia, tentu bantuan sebesar 1,5 Trilliun rupiah untuk pengembangan ekonomi ini akan sangat berguna jika benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apalagi kemudian ada informasi yang menyatakan bahwa bantuan tersebut tidak hanya untuk Warga Nahdliyin saja. Tetapi juga bisa diakses oleh seluruh rakyat Indonesia. Tentu ini merupakan sebuah kabar gembira bagi para pelaku usaha mikro yang sedang merintis usaha mereka.
Di sisi lain, PBNU akan menjadi sorotan karena mereka adalah pihak yang terlibat langsung dalam penandatanganan MoU bantuan Pemerintah tersebut. Jika kelak dana tersebut digulirkan dan tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, maka PBNU akan tersorot dan tentu saja NU akan turut menanggung resikonya.
Banyak orang menyayangkan mengapa Cak Nun tidak menggunakan kata “PBNU”, melainkan langsung menyebut “NU”. Seandainya kata yang digunakan oleh Cak Nun adalah “PBNU” bukan “NU”, saya tidak yakin bahwa video tersebut akan menjadi sangat viral dan menjadi perhatian banyak orang akhir-akhir ini di media sosial.
Dan seandainya, sosok yang ada dalam video singkat itu bukanlah Cak Nun, melainkan adalah Habib Rizieq misalnya? Atau Bachtiar Nasir? Atau bahkan Ismail Yusanto? bisakah anda membayangkan situasinya saat ini? Saya yakin akan lebih gaduh.
Alhamdulillah, Cak Nun yang muncul dalam video tersebut. Cak Nun sosok yang selama ini diterima oleh banyak pihak, banyak orang datang kepada Cak Nun, bukan hanya Ummat Islam sendiri bahkan, bukan hanya orang Indonesia saja bahkan. Dakwah yang dibawakan oleh Cak Nun menggunakan metoden sholawatan dengan melibatkan KiaiKanjeng, menyapa rakyat-rakyat kecil di berbagai daerah, tidak terkecuali Warga Nahdliyin yang memang memiliki tradisi sholawatan yang sangat kental. Hampir semua jenis sholawatan pernah dibawakan oleh Cak Nun bersama KiaiKanjeng.
Dan memang Cak Nun seperti itu apa adanya. Pro dan Kontra terhadap statemen yang diucapkan oleh Cak Nun bukan kali ini saja saya dapati. Sungguh saya melihat lebih jernih, Cak Nun sangat menyayangi Warga Nahdliyin, Cak Nun sedang menjaga martabat NU dan Warga Nahdliyin. Cak Nun sama sekali tidak sedang merendahkan martabat NU. Dan Cak Nun bukan dalam rangka mencari popularitas atau eksistensi atas itu semua. Rakyat kecil adalah fokus utama Cak Nun selama ini dalam berjuang. Karena Cak Nun sangat mencintai Indonesia.
