Kenapa semangatnya adalah "Saya" bukan "Kita"?

Penikmat sepakbola yang angin-anginan, fan Liverpool, sering nyinyir.
Tulisan dari Fahmi Agustian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya begitu bersyukur ketika akhir-akhir ini semangat Nasionalisme Bangsa Indonesia ini tumbuh dengan suburnya. Kemeriahan ekspresi Nasionalisme mereka ungkapkan dengan salah satunya adalah menyatakan ikrar "Saya Indonesia, Saya Pancasila". Betapa bahagianya saya, karena ternyata diam-diam banyak orang yang begitu bangga dengan Garuda Pancasila sebagai ideologi NKRI. Semoga mereka yang berikrar "Saya Pancasila, Saya Indonesia" tidak hanya hafal 5 sila dalam Pancasila, tetapi juga memahami butir-butir Pancasila. Aamiin.
Semangat Nasionalisme itu penting, dan memang harus terus dijaga agar jangan sampai luntur. Kebanggaan kita sebagai Bangsa Indonesia atas segala nikmat dan anugerah yang sudah Tuhan berikan untuk NKRI ini salah satu wujud kesyukuran kita adalah dengan cara menjaga semangat Nasionalisme dalam diri kita. Pernahkah anda meneteskan air mata ketika lagu Indonesia Raya bergaung di sebuah arena olahraga karena seorang atlit olahraga Indonesia meraih medali emas?. Saya rasa ada banyak orang yang sudah pernah merasakan hal ini. Kita begitu terharu melihat salah satu putera atau puteri terbaik bangsa meraih medali emas di sebuah kompetisi olahraga internasional. Tentu saja, sang atlit pun tak kalah terharunya, karena ia adalah aktor di lapangan yang berhasil meraih medali emas tersebut. Perjuangannya di sebuah arena olahraga tersebut tentu saja adalah salah satu buah dari Nasionalisme terhadap NKRI.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini begitu semarak. Presiden Jokowi sampai merilis sebuah video singkat yang kemudian menjadi viral. "Saya Indonesia, Saya Pancasila", begitu bunyi tagline dari campaign tersebut. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan kalimat "Saya Indonesia, Saya Pancasila". Kalimat tersebut tidak salah sama sekali. Hanya saja, saya melihat penggunaan kata "Saya" dalam tagline tersebut tidak berada pada momentum yang tepat jika kita gunakan akhir-akhir ini.
Kita semua mengetahui, betapa polarisasi rakyat Indonesia akhir-akhir ini semakin mengerucut pada terbaginya dua kubu; Nasionalis dan Islamis. Beberapa kawan saya menyatakan ini akibat dari keriuhan Pilkada Jakarta beberapa waktu yang lalu. Saya mengamininya.
Maka, saya nyatakan bahwa tagline "Saya Indonesia, Saya Pancasila" dikampanyekan pada momentum yang tidak tepat. Ditengah perpecahan bangsa saat ini, seharusnya yang dibangun adalah semangat persatuan. Maka, seandainya tagline tersebut diganti menjadi "Kita Indonesia, Kita Pancasila" tentu akan menjadi lebih indah.
Akhir-akhir ini semangat budaya literasi sangat didengungkan dimana-mana, menurut saya yang tak juga kalah pentingnya adalah bagaimana kita membangun pola komunikasi yang baik, sehingga setiap kata yang kita ungkapkan merupakan wujud kebaikan bagi bersama. Tidak menyakiti orang lain, tidak menyinggung perasaan orang lain.
Di halaman Facebook saya, saya menulis; Kalau urusan keyakinan agama, anda berani menyatakan "Ah, itu kan urusan keyakinan hati masing-masing, ndak usah lah keyakinan itu kita pamer-pamerkan, saya ndak enak kalau dibilang alim sama orang lain". Anda sangat percaya diri bahwa urusan keyakinan ini adalah urusan privat. Tapi, kalau urusan Nasionalisme, seakan-akan anda justru tidak percaya diri dan perlu memberitahu kepada semua orang "Saya Indonesia, saya Pancasila". Seakan-akan orang lain masih banyak yang tidak percaya terhadap Nasionalisme yang anda miliki.
Dua hari yang lalu, Cak Nun merilis tulisan yang berjudl "Telor Ayam Jantan dan Ibu Garuda Pertiwi", tulisan yang awalnya disebar melalui Whatsapp, kemudian dirilisi di website resmi caknun.com dan di portal Kumparan ini. Pembuka dari tulisan tersebut adalah pengeliminiran sikap egoisme dalam diri seorang Cak Nun. Dalam tulisan tersebut, Cak Nun menyatakan jika yang diutamakan adalah kata "Saya" maka justru orang akan kehilangan kepercayaan terhadap sisi keEmhaannya dan kemanusiaannya.
Andaikan yang dimunculkan adalah tagline "Kita Indonesia, Kita Pancasila" tentu akan menjadi sebuah aransemen yang indah. Kita bersama-sama membangun kembali kebersamaan dan keharmonisan Bangsa yang akhir-akhir ini terpecah belah akibat kepentingan politik seseaat bagi segelintir pihak. Seharusnya, momentum Hari Lahir Pancasila adalah momentum yang tepat untuk merangkul semua elemen Bangsa. Terlebih, momentum tersebut tahun ini bersamaan dengan Bulan Ramadhan.
Pada tulisan selanjutnya, Cak Nun menulis Esai yang berjudul "Rindu Menyatu". Dari tulisan itu, saya mencoba memahami bahwa Cak Nun ingin menyampaikan sebuah pesan, sebenarnya Bangsa ini sangat merindukan untuk bersatu, saling berangkulan satu sama lain. Bukan mempertahankan pendapatnya sendiri, hanya bergabung dengan kelompok yang memiliki pandangan yang sama. Sementara yang tidak memiliki satu pandangan, menjadi pihak yang dimusuhi, dinyinyiri, dihujat, diejek, dijelek-jelekkan.
Saya melihat, urgensi untuk berkumpulnya para Orang Tua Bangsa Indonesia, Ulama, Cendekiawan, Negarawan dalam satu forum merupakan kebutuhan yang sudah sangat mendesak. Jika tidak segera dilakukan, maka perpecahan Bangsa ini akan semakin membahayakan bagi masa depan NKRI sendiri.
