Konten dari Pengguna

Sampai Kapan Kita akan Beradu Kebenaran?

Fahmi Agustian

Fahmi Agustian

Penikmat sepakbola yang angin-anginan, fan Liverpool, sering nyinyir.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Agustian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toleransi dalam Pancasila (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Toleransi dalam Pancasila (Foto: Istimewa)

Sejak dua tahun terakhir, bangsa Indonesia menjalani masa-masa dimana hampir seluruh elemen bangsa saling beradu kebenaran satu sama lain, utamanya dalam hal pilihan politik. Yang kemudian melebar hingga berbagai bidang. Tetapi, jika dirunut, maka akan bertemu pada satu muara: politik.

Pemilihan Umum tahun 2014, atau lebih spesifik lagi Pemilihan Presiden 2014 membawa Bangsa ini berada dalam wilayah yang membuat rakyat terbagi menjadi dua kelompok; Pendukung Jokowi dan Pendukung Prabowo dan mengeleminir bahwa ada pilihan lain. Pada akhirnya semua dipukul rata, jika ada orang yang tidak suka dengan Jokowi maka akan dianggap pendukung Prabowo, begitu juga sebaliknya jika ada yang benci dengan Prabowo, maka akan dianggap sebagai pendukung Jokowi.

Inilah resiko demokrasi yang kita pilih. Ketika Orde Lama berkuasa, Bangsa Indonesia masih meraba-raba, sistem pemerintahan seperti apa yang cocok diterapkan. Orde Baru berkuasa, kita merasakan penguasa yang diktator dan otoriter, pokoknya asal bapak senang. Orde Baru tumbang, nyatanya kita memang belum siap untuk melakukan reformasi. Saya paham, banyak dari kita yang sangat benci kepada Soeharto. Dan banyak orang yang bergembira ketika Soeharto dipastikan lengser. Hari-hari selanjutnya, Indonesia seperti kembali harus merangkak lagi untuk menentukan sistem pemerintahan seperti apa yang cocok untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 dilakukan, beberapa Lembaga Negara yang baru didirikan, MPR tidak lagi menjadi Lembaga Tertinggi Negara dan lain sebagainya, banyak rumusan-rumusan baru yang dilahirkan untuk Negara kita yang tercinta ini.

Orde Baru (Foto: Tiger Panzer)
zoom-in-whitePerbesar
Orde Baru (Foto: Tiger Panzer)

Jika dahulu ketika Orde Baru berkuasa, sangat beresiko bagi rakyat yang ingin mengungkapkan pendapatnya. Setelah Orde Baru tumbang, salah satu yang dirayakan adalah betapa rakyat kini memiliki kebebasan dalam berpendapat. Semua orang bebas mengungkapkan ekspresinya. Apalagi sekarang, media sosial begitu dimanfaatkan untuk urusan mengungkapkan pendapat di depan umum. Mungkin ini salah satu penyebab kenapa Mahasiswa sekarang jika melakukan Demonstrasi tidak seperti era Angkatan 66 dan Angkatan 98, misalnya.

Sayangnya, kebebasan berpendapat yang kita alami hari ini juga ternyata tidak menghasilkan kerukunan bangsa. Padahal, ketika Soeharto berkuasa mayoritas suara rakyat di Indonesia bersepakat bahwa Soeharto harus turun dari kursi Kepresidenan di tahun 1998. Ternyata, setelah Soeharto turun, rakyat Indonesia tidak lagi memiliki satu suara. Apakah kemudian kita akan menyalahkan kebebasan berpendapat yang kita rasakan hari ini? Tentu tidak. Yang kita butuhkan sebenarnya adalah bagaimana kita mampu menerima pendapat orang lain.

Setiap orang berhak memiliki kebenaran yang diyakini. Kebenaran soto daging sapi itu enak hanya diyakini oleh para penggemar soto daging sapi. Bagi penggemar soto ayam, keyakinan bahwa soto daging sapi itu enak belum tentu bisa diterima. Nah, hari ini kita melihat para penggemar soto daging sapi memaksakan kebenaran soto daging sapi kepada penggemar soto ayam. Begitu juga sebaliknya. Padahal, ada orang yang menyukai soto daging sapi sekaligus menyukai soto ayam, bahkan ada juga yang tidak menyukai soto daging dapi dan soto ayam.

Anda yang saat ini memiliki anak kecil, apakah siap menghadapi 10-20 tahun yang akan datang mereka dibesarkan dengan kondisi bangsa yang seperti hari ini?

Hari-hari ini, isu pluralisme, nasionalisme, toleransi, kebhinnekaan, radikalisme dan banyak lagi tema-tema yang dimunculkan pada akhirnya hanya menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan media sosial hari ini semakin menyuburkan perpecahan anak Bangsa Indonesia ini. Sampai kapan kita akan bertahan dengan kondisi ini?

Saya sendiri memahami, bahwa semua rakyat di Indonesia ingin keadaan bangsa yang kita cintai bersama ini dalam keadaan aman, damai, tentram, sejahtera, semuanya guyub, rukun, saling asah-asih-asuh satu sama lain. Tetapi, tidak mungkin harapan itu kita raih manakala yang kita suburkan adalah memaksakan kebenaran kita kepada orang lain. Kita berteriak kelompok lain intoleran, pada saat bersamaan kita berlaku intoleran. Kita berteriak "Saya Pancasila!", pada saat yang bersamaan menuduh kelompok yang lain tidak Pancasila. Kita berteriak Bhinneka Tunggal Ika, tetapi pada saat yang bersamaan kita tidak mau menerima perbedaan.

Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Generasi yang akan datang tidak mungkin diwariskan dengan perpecahan yang kita lihat hari ini. Anda yang saat ini memiliki anak kecil, apakah siap menghadapi 10-20 tahun yang akan datang mereka dibesarkan dengan kondisi bangsa yang seperti hari ini? Kenapa kita tidak duduk bersama, mengesampingkan egoisme kita masing-masing, menanggalkan kebenaran kita masing-masing, membicarakan bersama, mencari solusi bersama, menuju Indonesia yang lebih baik?

Wahai para orang tua Bangsa Indonesia, para negarawan, ulama, cendekiawan, duduklah bersama, berkumpullah! Rumuskan solusi terbaik untuk masa depan bangsa Indonesia. Lepaskan hasrat memuaskan diri sendiri, buang jauh-jauh nafsu kepentingan diri sendiri maupun kelompok. Semakin kita mempertahankan itu, semua semakin kita sulit mewujudkan sila kelima dalam Pancasila.