News
·
21 April 2021 8:38

OSIS Masih Jadi Budak Guru?

Konten ini diproduksi oleh Fahmy Fauzy
OSIS Masih Jadi Budak Guru? (235130)
siswa dan siswi sedang melaksanakan upacara bendera (sumber @sman2lembang)
Organisasi Siswa Intra Sekolah atau yang disingkat OSIS, pasti sudah tidak asing didengar oleh kebanyakan masyarakat Indonesia terutama yang pernah menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Siswa dan Siswi yang pernah atau sedang menempuh pendidikan SMP atau SMA otomatis pernah menjadi anggota OSIS sedangkan untuk menjadi pengurus OSIS biasanya dilakukan rekrutmen khusus.
ADVERTISEMENT
Pengurus OSIS biasanya menjadi pengatur saat ada acara di sekolah atau paling tidak saat upacara hari senin akan dimulai, selain itu biasanya para pengurus OSIS pun mengadakan penggalangan dana untuk korban bencana alam atau orang yang membutuhkan. Hal tersebut menjadi salah satu fungsi didirikan nya OSIS sebagai salah satu wadah organisasi untuk mengembangkan bakat kepemimpinan siswa untuk masa mendatang.
Pengurus OSIS biasanya juga berperan sebagai penegak disiplin dan menindak pelanggaran kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Tak jarang para siswa tidak menyukai cara penindakan pengurus OSIS, karena pernah diberikan tindakan pendisiplinan atau hukuman oleh pengurus OSIS, yang membuat pengurus OSIS "dibenci" oleh beberapa siswa yang pernah mereka hukum.
ADVERTISEMENT
Tak heran jika ada siswa yang menyebut pengurus OSIS sebagai "Budak Guru" karena kentalnya keberpihakan OSIS terhadap guru dalam menegakan peraturan yang ada di sekolah. Berdasarkan pengalaman saya sebagai siswa, tindakan pendisiplinan oleh pengurus OSIS sejatinya bertujuan untuk menjadikan siswa sebagai pribadi yang disiplin dan taat terhadap aturan.
Namun saya pikir, rasanya ada hal yang juga penting, tetapi sering kali diabaikan oleh pengurus OSIS dalam menjalankan tugas nya sebagai pengurus, yaitu menjadi pendengar dan penyampai aspirasi siswa kepada sekolah dan guru. Para pengurus OSIS seharusnya menjadi mulut dan telinga para anggota nya dalam menyampaikan aspirasi, baik itu kepada guru atau sekolah.
Jika kegiatan Advokasi seperti itu dilakukan oleh pengurus OSIS, maka stigma orang yang mengatakan "OSIS Budak Guru" mungkin akan hilang dan OSIS bukan hanya menjadi organisasi yang bergerak dalam pendisiplinan siswa, melainkan juga sebagai penyampai aspirasi siswa.
ADVERTISEMENT
Dengan begitu, salah satu tujuan dibentuknya OSIS untuk mengembangkan bakat kepemimpinan pun sudah bisa dikatakan tercapai, karena selayaknya seorang pemimpin yang berani dan bijak dalam melakukan sesuatu.