Baru Pertama Nonton Gigs, Langsung Ditendang Sepatu

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fahra Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat datang ke Jogja dari Solo, niatku sederhana mau nonton band-band yang aku suka, sing along bareng mereka secara live, dan pulang dengan kenangan yang mungkin susah dilupain. Tapi ternyata aku pulang dengan oleh-oleh yang sedikit berbeda. Malam itu jauh lebih interaktif dari bayanganku. Interaksi pertamaku bahkan datang dalam bentuk tendangan yang mendarat tepat di kepalaku.
Saat Eastcape memainkan Hope You Found Me salah satu lagu melow yang bikin ruangan terasa berat, tiba-tiba ada sesuatu nyenggol keras ke bagian atas mukaku. Awalnya aku kira ketiban apa. Ternyata dari belakang ada yang crowd surf dan orang-orang langsung bergerak minggir. Sebelum aku sempat geser, sepatunya sudah mampir duluan ke kepalaku dan nyisain jejak abu di pangkal hidungku.
Aku sempat bengong, ngerasain ngilunya, terus malah ketawa. Ya karena ini gigs hal seperti itu sudah jadi bagian dari kulturnya. Orang di sebelahku langsung noleh, megang pundakku, dan nanya, “Aman, kak?" Aku jawab, “Aman, cuma dapet bonus,” dan kami dua-duanya ketawa kayak itu hal paling biasa yang bisa terjadi di tengah ke-chaosan gigs.
Dari situ aku sadar sesuatu yang agak aneh. Di tempat se-chaos ini, aku justru merasa aman. Padahal beberapa menit sebelumnya aku kena tendang, keseret kerumunan, dan hampir jatuh karena dorongan massa yang tiba-tiba banget. Semua cepat, gaduh, dan agak sakit, tapi entah kenapa tetap terasa aman. Ada sesuatu yang akrab dari kekacauan itu.
Soalnya semua orang otomatis saling jaga. Penonton cowok melindungi penonton cewek dari kaki-kaki crowd surf. Kalau ada yang hampir jatuh, langsung ada tangan yang narik. Kalau ada yang lewat di atas kepala, badan-badan maju buat nahan. Bentuk kepedulian spontan yang nggak pernah perlu diumumin lewat mikrofon.
Dan mungkin itu juga alasan kenapa aku selalu balik ke gigs. Bukan cuma karena musiknya, tapi karena rasa kebersamaan yang anehnya muncul dari hal-hal yang kelihatannya kacau.
Ketika lagu terakhir selesai dan lampu menyala terang, aku masih ngeraba pangkal hidungku yang kena tendang. Sedikit ngilu, tapi lucu. Aku pulang dengan campuran perasaan capek, senang, dan entah kenapa lebih dekat sama orang-orang asing yang bahkan nggak tahu namaku.
Gigs malam itu ngingetin aku satu hal, kadang tempat paling berisik justru tempat yang bikin kita merasa paling nyambung. Kadang chaos adalah bahasa keakraban yang cuma dimengerti orang-orang yang pernah berdiri bareng di depan panggung. Dan meskipun kepalaku sempat jadi target sepatu nyasar, aku tahu aku bakal balik lagi.
Terima kasih, siapa pun kamu, yang sudah ninggalin cap biru di pangkal hidungku.
