Meracik Harapan dari Setetes Parfum: Cerita KKN yang Menggerakkan Ekonomi Desa

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fahriza Khusnul Muna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah udara sejuk Dusun Tritis, Girikerto, Turi, Sleman, sekelompok mahasiswa KKN Reguler 124 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menghadirkan perubahan kecil yang berdampak besar. Melalui Pelatihan DIY Parfum Laundry, mereka tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga harapan baru bagi ibu-ibu rumah tangga yang ingin mandiri secara ekonomi. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar yang membumi, di mana keterampilan praktis bertemu dengan semangat kewirausahaan lokal. Di bawah bimbingan dosen pembimbing Dr. Siti Dyah Handayani, S.E., M.M., program ini menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Bagi warga, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan KKN, melainkan awal dari mimpi baru tentang usaha rumahan yang berkelanjutan.
Suasana pelatihan berlangsung hangat dan penuh antusiasme, dengan diskusi, praktik pencampuran bahan, hingga simulasi pengemasan sederhana yang diikuti 35 peserta. Para ibu tidak hanya belajar membuat parfum laundry, tetapi juga memahami peluang usaha, strategi produk, hingga potensi pasar melalui analisis SWOT yang disampaikan mahasiswa. Proses belajar yang interaktif membuat kegiatan ini terasa dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Setiap tetes parfum yang diracik bukan hanya produk, tetapi simbol tumbuhnya kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi. Dari ruang sederhana itu, lahir semangat kolektif untuk membangun usaha kecil yang bermakna bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Lebih dari sekadar program kerja, pelatihan ini menjadi bukti bahwa kehadiran mahasiswa di desa mampu menciptakan dampak sosial yang nyata. Program KKN tidak lagi dipandang sebagai aktivitas akademik semata, tetapi sebagai jembatan perubahan yang menghubungkan ilmu kampus dengan kebutuhan masyarakat. Testimoni warga mencerminkan bagaimana pengetahuan sederhana bisa menjadi pintu masuk bagi peluang ekonomi baru. Inisiatif ini sekaligus memperkuat makna tri dharma perguruan tinggi sebagai pengabdian yang hidup di tengah masyarakat. Dari parfum laundry hingga mimpi kemandirian, KKN menjadi cerita tentang harapan, kolaborasi, dan masa depan desa yang lebih berdaya.
