Konten dari Pengguna

Redaktur Nasib dan Resolusi 2026

Mas Fit

Mas Fit

Jurnalis yang menavigasi dunia berita dengan akal sehat seadanya, sebab realitas kerap lebih aneh dari fiksi ilmiah.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mas Fit tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi/Fahruddin Fitriya.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi/Fahruddin Fitriya.

Sebagai seorang redaktur, di kantor saya adalah penentu arah berita, ‘Raja Kecil’ pemegang kekuasaan tertinggi, setidaknya bagi para reporter muda yang naskahnya masih berantakan. Saya terbiasa berteriak, “Judulnya kurang nendang! Anglenya nggak tajam! Tulis ulang!”

Tentu saja hal membuat saya merasa gagah, merasa memegang kendali atas kata-kata dan fakta. Tapi, begitu tiba di rumah, kekuasaan yang nyaris absolut itu rontok seketika. Di hadapan istri (seorang perawat bergelar Ners dan Magister yang sangat higienis dan terstruktur) saya hanyalah naskah penuh typo yang butuh banyak perbaikan.

Selain itu, punya dua anak (Laki-laki 6 tahun, Perempuan 3 tahun) rasanya seperti mengasuh reporter pemula yang ngeyel.

Si Sulung adalah tipe reporter kritis yang kebanyakan tanya.

“Yah, kenapa kita nggak boleh makan permen banyak-banyak? Dasarnya apa? Sumbernya dari mana?”. Kalau di kantor, saya bisa bilang, “Cari sendiri datanya!”. Tapi di rumah, saya harus menjelaskan dengan sabar, atau dia akan mengadu ke Dewan Pers (ibunya).

Sementara, si Bungsu lebih parah. Dia adalah tipe kontributor yang kerjanya bikin hoax dan drama. Dia bisa nangis guling-guling bilang kakinya sakit cuma supaya digendong, padahal lima menit kemudian lari kencang mengejar tukang bakso. Sebagai redaktur (ayah), saya selalu tertipu oleh berita bohongnya yang menggemaskan itu.

Di penghujung tahun ini, saya duduk merenung. Bukan merenungi nasib korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar, tapi merenungi betapa banyaknya ‘typo’ dalam hidup saya.

Demi kelangsungan hidup yang lebih damai, saya harus menyusun Resolusi 2026 yang sangat serius. Ini bukan sembarang resolusi. Ini adalah Pakta Pertahanan Diri. Berikut poin-poin revisi kehidupan untuk tahun depan.

Revisi Total Manajemen Deadline Rumah Tangga

Istri minta tolong ganti lampu teras hari Senin, baru saya kerjakan hari Minggu depannya. Alasannya diplomatis: “Lagi nunggu momen yang pas, Nok. Biar feel-nya dapet.”

Resolusi 2026; Permintaan istri adalah Breaking News. Sifatnya mendesak dan harus tayang saat itu juga.

Kalau istri bilang “Benerin kran!”, itu artinya deadline adalah 5 menit yang lalu. Menunda pekerjaan rumah sama dengan mengundang bencana alam lokal (baca: omelan istri).

Stop Mengedit Istri

Ini penyakit profesi. Kalau istri lagi ngomel panjang lebar di WhatsApp, kadang saya merasa gatal dan membalas, “Nok, ini kalimatnya kurang efektif, subjek predikatnya membingungkan”. Hasilnya? Saya didiamkan dua hari.

Resolusi 2026; Saya berjanji akan mematikan mode redaktur saat chatting sama istri. Biarkan dia ngetik typo, biarkan dia pakai singkatan alay. Tugas saya, balas dengan stiker peluk atau transfer uang. Itu lebih efektif daripada membenarkan tata bahasa.

Mengurangi Judul Clickbait pada Janji ke Anak

Saya sadar, saya sering memperlakukan anak-anak seperti pembaca berita online yang mudah ditipu judul bombastis. Contoh dosa tahun ini.

“Ayo mandi sekarang! Nanti Ayah belikan robot yang bisa terbang sampai bulan!”.

Faktanya? Robotnya cuma mainan plastik 15 ribuan yang sayapnya patah dalam lima menit.

Si Abang sekarang sudah pintar protes, “Ayah bohong, ini berita palsu!” (Ya, dia belum tahu istilah hoax, tapi intinya sama).

Resolusi 2026; Saya akan menyajikan fakta yang berimbang dan akurat.

“Ayo mandi, nanti Ayah belikan es krim. Tapi yang lagi ada diskon ya, Nak. Dompet Ayah lagi defisit.” Jujur itu menyakitkan, tapi menyehatkan.

Hilirisasi Gaji untuk Ketahanan Pangan (Susu)

Selama ini saya sering khilaf. Habis gajian, merasa kaya raya, lalu traktir teman-teman kantor ngopi cantik seolah-olah saya ini Sultan. Padahal, seminggu kemudian saya bingung cari recehan di saku celana buat bayar parkir.

Resolusi 2026; Saya akan sadar diri.

Gaji redaktur itu pas-pasan. Pas buat beli susu dua anak, pas buat bayar listrik, dan pas buat bikin istri tersenyum tipis.

Saya akan berhenti membeli gadget pendukung kerja yang sebenarnya nggak penting-penting amat (ngapain beli keyboard mekanik mahal kalau ngetiknya cuma dua jari?). Fokus utama tahun depan adalah adalah Swasembada Popok dan Susu.

Menjaga Kode Etik Kewarasan

Menghadapi si Adik yang umur 3 tahun butuh mental baja. Saat dia nangis guling-guling di mal minta mainan, naluri redaktur saya kadang muncul, “Dek, tolong ekspresinya dikurangi sedikit, terlalu dramatis. Kurang natural”. Tentu saja, itu tidak membantu.

Resolusi 2026; Saya akan lebih banyak sabar. Saya tidak akan menganggap teriakan anak sebagai gangguan siaran, melainkan sebagai backsound kehidupan yang harus dinikmati.

Catatan Akhir

Menjadi redaktur memang membanggakan, bisa memoles naskah jelek jadi berita bagus. Tapi menjadi ayah dan suami adalah pekerjaan yang tidak bisa disunting ulang. Tidak ada tombol delete, tidak ada undo.

Salah atau benar, berantakan atau rapi, inilah naskah hidup terbaik yang saya punya. Dan jujur saja, meski sering kena marah Pemimpin Redaksi di rumah, saya tidak berniat resign.

Seburuk apapun naskah aslinya (hidup saya), kalau diedit dengan penuh kesabaran dan cinta, saya yakin akhirnya pasti akan enak dibaca juga.

Sekian! Saya harus pamit, Pemimpin Redaksi sudah memanggil dari dapur. Kayaknya ada berita penting yang harus segera saya tangani (baca: cuci piring).