Konten dari Pengguna

Tawaran dari Dunia Penuh Janji

Fahruddin Fitriya
Jurnalis yang menavigasi dunia berita dengan akal sehat seadanya, sebab realitas kerap lebih aneh dari fiksi ilmiah. Biarlah ejaan nama saya jadi korban inkonsistensi administrasi (Fahruddin Fitria/Fahrudin Fitriya), asalkan kewarasan tetap terjaga.
2 Desember 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tawaran dari Dunia Penuh Janji
Fitrah, mantan wartawan, hadapi dilema moral di politik. Dia pilih bongkar korupsi internal partai daripada karier, kembali ke jalan sunyi kebenaran.
Fahruddin Fitriya
Tulisan dari Fahruddin Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fitrah berbicara dihadapan sejumlah wartawan muda sebagai juru bicara partai politik. (Ilustrasi)
zoom-in-whitePerbesar
Fitrah berbicara dihadapan sejumlah wartawan muda sebagai juru bicara partai politik. (Ilustrasi)
ADVERTISEMENT
Babak baru dimulai. Kemenangan atas kasus bansos itu membawa Fitrah pada persimpangan jalan baru. Reputasinya yang menjulang membuatnya menjadi target, bukan hanya oleh koruptor, tapi juga oleh pihak-pihak yang melihat potensinya sebagai ‘alat’ yang efektif.
ADVERTISEMENT
Beberapa minggu setelah vonis inkrah, Bos Top memanggil Fitrah ke ruangannya. Suasana redaksi terasa lebih tenang, tapi Bos Top terlihat gelisah, mungkin karena overthinking soal biaya listrik AC yang makin kencang.
"Fit, kamu sudah jadi aset nasional," kata Bos Top. "Tapi redaksi ini, sejujurnya, terlalu kecil untuk kamu sekarang. Ada tawaran yang datang, yang nilainya bisa bikin kita semua pensiun dini."
Fitrah mengerutkan dahi. "Tawaran? Dari mana, Bos? Media lain? TV swasta yang bayarannya lebih gede?"
"Bukan. Dari partai politik," jawab Bos Top singkat, suaranya sedikit bergetar, mungkin karena terkejut sendiri dengan tawaran itu. "Mereka melihat integritas (atau kenekatan?) dan nyali kamu. Mereka menawarimu posisi juru bicara muda, bahkan ada yang membujukmu untuk nyaleg di pemilu berikutnya. Mereka bilang, 'Orang baik harus masuk sistem' (seperti virus baik masuk ke tubuh yang sakit)."
ADVERTISEMENT
Fitrah terdiam. Politik? Dunia yang jauh lebih kotor daripada UGD yang penuh muntah, Polresta yang bau rokok, atau bahkan Pengadilan Tipikor yang dingin. Di dunia jurnalistik, dia mencari kebenaran dengan jurus res ipsa loquitur; di politik, kebenaran sering kali dinegosiasikan, didiversi, atau bahkan dibungkus rapi dalam eufemisme yang memuakkan.
"Bos, saya wartawan. Job desk saya membongkar kebusukan, bukan duduk di meja yang sama dengan pembuat kebusukan," tolak Fitrah spontan, sambil membayangkan dirinya pakai jas rapi dan senyum palsu.
"Dengar dulu," Bos Top memotong, "Ini bukan sembarang partai. Ini partai yang didirikan oleh tokoh reformasi, yang tulus ingin perubahan. Mereka butuh orang sepertimu, yang tahu betul bagaimana rasanya jadi korban rekayasa hukum dan black campaign. Ini kesempatan emas untuk memperbaiki sistem tapi dari dalam."
ADVERTISEMENT
Fitrah akhirnya setuju untuk bertemu dengan petinggi partai tersebut di kedai kopi mahal langganan Jaksa Bahar. Dia diyakinkan bahwa ini adalah cara yang lebih efektif untuk membawa perubahan; dari dalam sistem, bukan hanya mengkritisi dari luar.
Dengan berat hati, dan setelah berdiskusi panjang dengan Bu Cynthia (pengacara judes yang kini jadi konsultan hukum pribadinya), Fitrah menerima pinangan itu, seolah-olah dia menerima vonis baru dalam hidupnya.
Dia meninggalkan lencana wartawannya di meja Bos Top, sebuah isyarat simbolis bahwa dia sedang menjalani cuti panjang dari kebenaran murni.
Job desk barunya sungguh sebuah ujian iman tingkat dewa. Dunia politik sangat berbeda dengan investigasi lapangan. Di sini, musuhnya bukan lagi jaksa licin yang bisa kena red-handed, melainkan politisi ulung dengan senyum manis kayak gula biang, yang ahli dalam seni public speaking dan damage control.
ADVERTISEMENT
Fitrah, sang juru bicara muda, harus belajar bahasa baru. Bahasa yang penuh eufemisme, janji manis (yang rasanya mirip ceker ayam oplosan), dan diplomasi yang terkadang membuatnya mual. Dia ditugaskan untuk membersihkan citra partai yang tersandung isu korupsi kecil di tingkat kabupaten.
Ironisnya, dia kini harus berhadapan dengan wartawan-wartawan muda yang haus berita, yang tatapan matanya sama tajamnya dengan tatapan matanya dulu, seolah-olah dia tersangka utama.
Ujian terberat datang ketika dia menemukan adanya 'main mata' baru di internal partainya sendiri. Salah satu calon legislatif senior, seorang tokoh yang diagungkan sebagai 'sesepuh reformasi', ternyata terlibat dalam proyek penggelembungan dana pengadaan alat kesehatan—sebuah kasus yang baunya mirip dengan bansos yang pernah dia tangani, bahkan mungkin lebih busuk dari kaus kaki Bang Jack.
ADVERTISEMENT
Fitrah dihadapkan pada dilema moral tingkat dewa. Sebagai juru bicara, tugasnya adalah melindungi partai, menjalankan asas 'soliditas'. Sebagai Fitrah Nusantara, sang pencari kebenaran, tugasnya adalah membongkar kebusukan itu, menegakkan fiat justitia ruat caelum.
"Ini cuma riak kecil, Fit. Jangan dibesar-besarkan," ujar sang sesepuh dengan senyum kebapakan yang penuh mens rea, di ruang rapat mewah ber-AC yang melanggar pasal hemat energi. "Semua bisa diselesaikan secara internal. Kita butuh soliditas partai untuk menang pemilu, untuk kemaslahatan umat."
Fitrah menatap mata politisi tua itu. Dingin dan penuh perhitungan, sama seperti mata Jaksa Bahar dulu. Aroma kopi mahal dan kertas HVS baru kembali menghantuinya. Dia menyadari, Hantu Dana Bansos bereinkarnasi menjadi Hantu Dana Alkes, dan dia kini terjebak di sarang mereka, di locus delicti korupsi baru.
ADVERTISEMENT
Malam itu, Fitrah tidak bisa tidur. Dia merenungkan nasihat Bos Top; Semakin tinggi kamu terbang, semakin kencang anginnya. Angin politik ini jauh lebih kencang dan menyesatkan daripada angin topan di UGD.
Dia harus membuat keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya sekali lagi. Apakah dia akan mengkhianati nuraninya demi karier politik yang cerah, atau kembali ke jalan sunyi kebenaran, meski harus berstatus persona non grata (orang yang tidak diinginkan) di dunia barunya?
Dia meraih ponsel lamanya, yang baterainya masih awet (dan sepertinya jadi satu-satunya benda paling jujur yang dia punya). Jarinya mengetik pesan singkat untuk Bos Top.
“Bos Top, sepertinya saya salah kostum. Aroma tinta lebih jujur dari aroma janji palsu. Siapkan headline baru. Saya punya info A1 tentang Hantu Alkes di internal partai saya sendiri. Skakmat, para koruptor!"
ADVERTISEMENT
Fitrah tahu, dia baru saja mengakhiri karier politiknya yang singkat, tapi dia kembali menemukan arahnya sendiri. Dia sudah siap untuk babak selanjutnya, seberat apapun itu. (Bersambung - Jalan Pulang Sang Wartawan, Harga Sebuah Nurani)