Robot Masa Depan dan Eksistensi Manusia

Tulisan dari Fahrudin Haris P tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah video yang dirilis oleh Boston Dinamic memperlihatkan robot yang bisa melompat dari satu pijakan ke pijakan yang lain. Robot tersebut lalu melompat naik ke pijakan yang tingginya setengah tinggi badannya dan ditutup dengan gerakan backflip yang sempurna. Belum selesai sampai di situ, masih akan banyak kemampuan lain yang akan bisa dilakukan oleh robot pada masa depan.
Kemajuan teknologi robotika memang berkembang sangat cepat. Didukung oleh penemuan-penemuan material baru dan pengembangan kecerdasan buatan yang masif. Robot masa depan tidak mustahil akan mengalahkan kemampuan manusia pada umumnya.
Kelebihan robot dibanding manusia adalah mereka tidak punya—atau lebih tepatnya—belum punya elemen rasa dalam dirinya. Dalam contoh video, digambarkan robot melakukan gerakan backflip dengan sempurna. Tentu saja banyak manusia yang bisa melakukannya, dan saya yakin manusia pasti bisa melakukannya. Kebanyakan manusia tidak mau melakukan karena salah satunya adanya ketakutan dalam dirinya. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh robot. Atau lebih tepatnya belum dimiliki oleh robot. Dan kalaupun suatu saat nanti elemen rasa sudah ada dalam diri robot masa depan, elemen ini akan dengan sangat mudah diatur kadarnya bahkan dihilangkan sama sekali. Bayangkan, ada makhluk yang punya kemampuan fisik bahkan kemampuan berpikir lebih dari manusia tanpa rasa takut.
Saya jadi teringat pendapat Stephen Hawking dan Ellon Musk tentang Artificial Inteligence (AI). Barangkali benar kata mereka, artificial inteligence harus dibatasi jika tidak ingin mengancam umat manusia—yang ironisnya adalah pencipta mereka. Jika elemen rasa sudah dapat disintesis melalui artificial inteligence, lalu apa lagi kelebihan manusia yang tersisa dibanding robot? Pada hari ini, (mungkin) harus kita akui kemampuan fisik dan berpikir robot sudah jauh melampaui manusia.
Oleh karena itu, sebelum elemen rasa itu diungguli oleh robot suatu saat nanti, marilah kita gunakan dengan sebaik-baiknya sejak hari ini. Tunjukkan kalau kita adalah manusia yang masih punya empati, yang masih punya rasa peduli. Karena hari ini, kita (masih) bukan robot.
Wassalam.
