Pendidikan Aceh: Gelora Kemerdekaan SDM di Era Mualem
Tulisan dari Fahrul Razi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan Aceh memasuki momentum penting dalam upaya memerdekakan sumber daya manusia (SDM) dari keterbatasan akses, keterampilan, dan kesempatan kerja. Di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf atau Mualem, penguatan kualitas manusia menjadi salah satu fondasi strategis untuk membangun masa depan Aceh yang maju, mandiri, dan bermartabat.
Pembangunan jalan, jembatan, dan gedung tentu penting. Namun, pembangunan fisik tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila

tidak diikuti peningkatan kualitas manusia. Infrastruktur membuka akses, sedangkan SDM unggul mengubah akses tersebut menjadi peluang ekonomi dan kesejahteraan.
Dalam konteks ini, langkah Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf atau Mualem bersama Wakil Gubernur Fadhlullah dalam memperkuat pengembangan SDM patut mendapat perhatian.
Sejumlah inisiatif Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh menunjukkan upaya memperluas kesempatan pendidikan, meningkatkan keterampilan tenaga pendidik, serta memperkuat profesionalisme aparatur pemerintah.
Kebijakan tersebut menjadi penting karena masa depan Aceh tidak cukup dibangun melalui proyek fisik. Aceh membutuhkan investasi jangka panjang yang mampu melahirkan generasi berdaya saing, produktif, dan memiliki integritas.
Program Language Training for Academic Purpose Test (LTAPT) 2026 yang diinisiasi BPSDM Aceh menjadi salah satu langkah untuk menjawab tantangan tersebut.
Penguatan kemampuan bahasa asing dan persiapan akademik dapat membuka peluang generasi muda Aceh mengakses perguruan tinggi berkualitas dan beasiswa internasional.
Namun, keberhasilan program tidak semestinya hanya dihitung berdasarkan jumlah peserta atau hasil tes bahasa. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak peserta berhasil melanjutkan pendidikan, mengembangkan kompetensi, dan memberikan kontribusi bagi daerah.
Pemerintah juga perlu memastikan kesempatan tersebut dapat dijangkau generasi muda dari seluruh kabupaten dan kota di Aceh, termasuk masyarakat di wilayah pedalaman, pesisir, dan kepulauan.
Memerdekakan SDM berarti membuka kesempatan berdasarkan kemampuan dan potensi, bukan berdasarkan asal daerah, kondisi ekonomi, atau kedekatan dengan pusat informasi.
Karena itu, program pengembangan pendidikan perlu didukung seleksi yang transparan, pendampingan berkelanjutan, serta jejaring alumni yang dapat membantu peserta berikutnya.
Aceh membutuhkan generasi yang mampu belajar dari kemajuan dunia, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian menghadirkan manfaat bagi masyarakatnya.
Kajian Su, Ji, dan Li (2025) menunjukkan adanya keterkaitan antara investasi pendidikan, perkembangan teknologi, dan pembangunan ekonomi berkualitas. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Memerdekakan SDM tidak berhenti pada terbukanya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Pendidikan juga harus mampu memberikan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Aceh menghadapi tantangan untuk menghubungkan pendidikan dengan potensi ekonomi daerah. Lulusan sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengantongi ijazah, tetapi harus memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka bekerja secara produktif.
Program Beasiswa Guru SMK Produktif Dalam Negeri 2026 dengan kuota 20 peserta merupakan salah satu inisiatif yang relevan untuk memperkuat pendidikan vokasi.
Bidang pertanian cerdas berbasis Internet of Things (IoT), pengelasan, serta kelistrikan industri minyak dan gas memiliki hubungan dengan kebutuhan keterampilan dan peluang pengembangan ekonomi Aceh.
Peningkatan kompetensi guru SMK menjadi penting karena kualitas guru berpengaruh terhadap kesiapan peserta didik menghadapi dunia kerja.
Namun, pelatihan guru harus diikuti pembaruan fasilitas praktik, penyesuaian kurikulum, dan kemitraan dengan dunia industri.
Penelitian Piyasena dan Takahashi (2026) mengenai pendidikan vokasi di Sri Lanka menunjukkan bahwa pendidikan keterampilan dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan pada tahap awal, tetapi belum tentu menjamin kestabilan pekerjaan dan peningkatan pendapatan.
Temuan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan vokasi tidak cukup diukur melalui sertifikat atau jumlah peserta pelatihan.
Bagi Aceh, pendidikan vokasi perlu terhubung dengan sektor pertanian, perikanan, energi, pariwisata, industri pengolahan, dan ekonomi digital.
Generasi muda harus dibekali kemampuan untuk tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.
Inilah makna penting kemerdekaan ekonomi melalui pendidikan. Masyarakat memiliki kemampuan mengelola potensi daerahnya sendiri dan memperoleh manfaat dari aktivitas ekonomi yang berkembang.
Aceh tidak boleh terus berada dalam keadaan ketika kekayaan sumber daya alam tersedia, tetapi kesempatan kerja dan penguasaan keterampilan bagi masyarakat lokal masih terbatas.
Pembangunan SDM juga harus menyentuh aparatur pemerintah. Sebab, kebijakan pembangunan yang baik dapat kehilangan manfaat apabila tidak didukung birokrasi yang profesional dan responsif.
Pengembangan Aceh Corporate University serta sosialisasi aplikasi Human Capital Development Plan (HCDP) menjelang Musrenbangkom 2026 menunjukkan arah penguatan kompetensi aparatur secara lebih terencana.
Langkah ini relevan untuk memastikan pengembangan kemampuan aparatur sipil negara (ASN) sesuai dengan kebutuhan organisasi dan pelayanan publik.
Namun, tantangan utamanya bukan banyaknya kegiatan pelatihan, melainkan penerapan pengetahuan dan keterampilan setelah aparatur kembali bekerja.
Eksperimen Haunstrup dan Jensen (2024) terhadap manajer sektor publik di Denmark menunjukkan bahwa pelatihan kepemimpinan dengan dukungan pengingat tepat waktu dapat membantu penerapan perilaku kepemimpinan dalam pekerjaan.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa pengembangan kompetensi harus terhubung dengan perubahan perilaku dan kinerja.
Bagi Aceh, pelatihan ASN perlu menghasilkan pelayanan yang lebih cepat, koordinasi yang lebih baik, penyelesaian masalah masyarakat, serta penguatan akuntabilitas pemerintahan.
Memerdekakan birokrasi berarti mendorong perubahan dari budaya administratif yang berorientasi pada rutinitas menuju budaya kerja yang mengutamakan hasil dan kepentingan masyarakat.
ASN tidak cukup hanya memahami prosedur. Mereka juga harus mampu menghadirkan solusi atas persoalan publik.
Berbagai inisiatif BPSDM Aceh layak diapresiasi karena menyentuh tiga kebutuhan penting pembangunan, yakni akses pendidikan, keterampilan kerja, dan kapasitas birokrasi.
Namun, apresiasi harus berjalan bersama evaluasi yang objektif.
Pembangunan SDM sering kali menghadapi persoalan ketika keberhasilan program lebih banyak diukur dari jumlah peserta, sertifikat, kegiatan, dan realisasi anggaran.
Padahal, pertanyaan terpenting adalah apa yang berubah setelah program selesai.
Apakah peserta pelatihan berhasil memperoleh pekerjaan? Apakah penerima beasiswa mampu meningkatkan kompetensinya? Apakah guru yang mengikuti pelatihan mampu memperbaiki kualitas pembelajaran? Apakah ASN yang memperoleh pengembangan kompetensi memberikan pelayanan publik yang lebih baik?
Pertanyaan tersebut perlu menjadi dasar evaluasi kebijakan pengembangan SDM Aceh.
Setidaknya terdapat tiga agenda yang perlu diperkuat.
Pertama, pemerataan akses program bagi masyarakat di seluruh Aceh melalui seleksi yang terbuka, adil, dan transparan.
Kedua, pengembangan sistem pelacakan alumni untuk mengetahui dampak program terhadap kelanjutan pendidikan, kesempatan kerja, keterampilan, dan kualitas pelayanan publik.
Ketiga, menjaga kesinambungan program yang terbukti efektif serta memperbaiki program yang belum memberikan hasil optimal berdasarkan evaluasi terbuka.
Langkah tersebut penting agar investasi SDM tidak berhenti sebagai capaian administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah juga perlu memastikan pengembangan SDM menjadi prioritas lintas pemerintahan. Sebab, hasil pendidikan dan peningkatan keterampilan membutuhkan waktu panjang untuk terlihat secara nyata.
Kepemimpinan Mualem bersama Wakil Gubernur Fadhlullah memiliki momentum untuk memperkuat pembangunan Aceh melalui investasi manusia yang berkelanjutan.
Berbagai terobosan BPSDM Aceh dapat menjadi fondasi penting apabila dijalankan secara konsisten, inklusif, dan berorientasi pada hasil.
Tentu, pekerjaan ini tidak dapat diselesaikan pemerintah sendiri. Dukungan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), lembaga pendidikan, dunia usaha, perguruan tinggi, serta masyarakat diperlukan untuk membangun ekosistem pengembangan SDM yang kuat.
Pembangunan manusia juga perlu ditempatkan sebagai investasi strategis dalam kebijakan anggaran daerah. Sebab, pendidikan dan keterampilan bukan sekadar kebutuhan sosial, melainkan fondasi pertumbuhan ekonomi dan kemandirian Aceh.
Mualem memiliki kesempatan untuk meninggalkan warisan pembangunan yang tidak hanya terlihat melalui infrastruktur, tetapi juga melalui meningkatnya kualitas generasi Aceh.
Warisan pembangunan manusia mungkin tidak langsung terlihat seperti jalan atau gedung. Namun, manfaatnya dapat bertahan jauh lebih lama karena pengetahuan, keterampilan, dan karakter akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Aceh membutuhkan anak muda yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keacehan. Aceh membutuhkan tenaga kerja yang produktif, guru yang kompeten, pelaku usaha yang inovatif, dan aparatur yang melayani masyarakat dengan integritas.
Pada akhirnya, memerdekakan SDM Aceh bukan sekadar menghadirkan lebih banyak beasiswa atau pelatihan. Lebih dari itu, memerdekakan manusia berarti memberikan kesempatan untuk tumbuh, bekerja, berkarya, dan menentukan masa depannya secara bermartabat.
Keberhasilan pembangunan Aceh tidak cukup dinilai dari seberapa banyak infrastruktur dibangun, tetapi juga dari seberapa banyak generasi yang berhasil dibebaskan dari keterbatasan.
Jika investasi manusia menjadi prioritas yang konsisten, Aceh tidak hanya akan memiliki sumber daya alam yang kaya, tetapi juga manusia unggul yang mampu mengelola kekayaan tersebut untuk kesejahteraan bersama.
Di situlah makna sesungguhnya memerdekakan SDM Aceh: membangun generasi yang mandiri, berdaya saing, beradab, dan berakhlakul karimah.
Dan di situlah pula kepemimpinan Mualem berpeluang menanam investasi paling berharga bagi masa depan Aceh.

