Balita Butuh Teladan, Remaja Butuh Kepercayaan

Berkarir sebagai ASN di Pemerintah Kota Depok dan aktif menulis buku dan karya ilmiah di jurnal nasional.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Faika Rachmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengasuh anak bukanlah pekerjaan dengan satu resep yang berlaku untuk semua usia. Anak yang baru belajar berbicara membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan anak yang mulai berani mempertanyakan aturan. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, orang tua kerap menggunakan cara yang sama untuk menghadapi anak di setiap fase perkembangannya.
Padahal, balita membutuhkan teladan, sementara remaja membutuhkan kepercayaan.
Dua fase ini sama-sama penting, tetapi memiliki kebutuhan yang berbeda. Balita sedang membangun rasa aman dan mengenal dunia melalui apa yang mereka lihat dan rasakan. Sementara remaja sedang mencari identitas, belajar mandiri, dan perlahan ingin dipercaya untuk menentukan pilihan hidupnya.
Karena itu, pola asuh yang tepat bukan sekadar soal bagaimana membuat anak patuh, tetapi bagaimana orang tua mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan perkembangan anak.
Saat Balita Lebih Banyak Melihat daripada Mendengar
Bagi balita, rumah adalah sekolah pertama. Orang tua adalah guru pertama, dan perilaku orang tua merupakan pelajaran yang paling sering mereka lihat.
Kita bisa berkali-kali mengatakan kepada anak agar berbicara dengan sopan. Namun, jika setiap hari anak melihat orang tuanya membentak ketika marah, pesan yang diterima anak bukanlah nasihat, melainkan contoh nyata dari perilaku tersebut.
Inilah mengapa mengasuh balita tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan fisik seperti makanan bergizi, kesehatan, dan tempat tinggal yang nyaman. Anak juga membutuhkan pelukan, perhatian, respons yang hangat, serta rasa aman secara emosional.
Pada usia ini, anak belum selalu mampu menyampaikan apa yang mereka rasakan. Tangisan, tantrum, atau perilaku yang dianggap “rewel” sering kali menjadi cara mereka berkomunikasi. Orang tua dituntut untuk lebih peka: apakah anak lelah, lapar, takut, membutuhkan perhatian, atau sedang mengalami sesuatu yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata?
Di sinilah pentingnya hubungan emosional.
Balita juga sedang belajar mengenal empati, kasih sayang, berbagi, dan memahami perasaan orang lain. Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah tertanam melalui pengalaman sehari-hari daripada melalui ceramah panjang. Jadi, jika ingin anak belajar bersikap lembut, orang tua perlu menunjukkan kelembutan. Jika ingin anak belajar meminta maaf, orang tua juga tidak perlu gengsi untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Anak mungkin belum memahami semua nasihat kita, tetapi mereka sangat pandai meniru apa yang kita lakukan.
Ketika Anak Tumbuh, Cara Mengasuh Pun Harus Berubah
Ketika anak tumbuh menjadi remaja. Mereka tidak lagi selalu ingin dipeluk. Mereka mulai punya teman sendiri, kesukaan sendiri, pendapat sendiri, bahkan terkadang memiliki dunia yang tidak sepenuhnya mereka ceritakan kepada orang tua.
Di titik inilah banyak orang tua merasa kehilangan kendali.
Anak yang dulu mudah diarahkan kini mulai membantah. Anak yang dulu selalu bercerita kini lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Pertanyaan sederhana dari orang tua terkadang dijawab singkat: “Iya”, “nggak tahu”, atau “biasa aja”.
Namun, mungkin bukan anak yang berubah menjadi jauh. Bisa jadi, cara orang tua mendekatinya yang perlu berubah.
Remaja sedang berada pada fase pencarian identitas. Mereka ingin dianggap mampu mengambil keputusan, tetapi pada saat yang sama masih membutuhkan arahan. Mereka ingin bebas, tetapi belum selalu siap menghadapi konsekuensi dari setiap pilihan.
Karena itu, mengasuh remaja membutuhkan keseimbangan antara kepercayaan dan batasan.
Remaja Tidak Hanya Butuh Nasihat, tetapi Juga Didengarkan
Salah satu kunci penting dalam pengasuhan remaja adalah komunikasi dua arah.
Orang tua mungkin merasa sudah memberikan banyak nasihat. Tetapi pertanyaannya, apakah anak juga mendapatkan kesempatan untuk berbicara?
Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua keinginan anak. Mendengarkan berarti memberikan ruang agar anak merasa pendapat dan perasaannya dianggap penting.
Orang tua bisa bertanya, “Menurut kamu bagaimana?” sebelum langsung mengatakan, “Seharusnya kamu begini.”
Perbedaan kecil dalam cara berkomunikasi tersebut dapat menghasilkan perbedaan besar dalam hubungan orang tua dan anak.
Hubungan emosional atau bonding juga tidak bisa dibangun secara instan ketika anak sudah remaja. Kedekatan tidak bisa dipesan dalam semalam. Ia dibangun sejak anak masih kecil, melalui waktu yang dihabiskan bersama, percakapan sederhana, perhatian terhadap cerita mereka, dan kehadiran orang tua dalam berbagai fase kehidupannya. Karena itu, jangan menunggu anak remaja bermasalah baru kemudian mencoba menjadi dekat.
Kedekatan yang dibutuhkan saat remaja adalah investasi yang seharusnya sudah dimulai sejak mereka masih kecil.
Memberi Kepercayaan Bukan Berarti Membiarkan
Memberikan kepercayaan kepada remaja bukan berarti orang tua menyerahkan semuanya tanpa batas. Remaja tetap membutuhkan aturan yang jelas. Jam malam, penggunaan gawai, media sosial, pergaulan, kewajiban belajar, maupun tanggung jawab di rumah tetap perlu dibicarakan dan disepakati.
Bedanya, aturan tersebut sebaiknya tidak hanya berbentuk larangan.
Jelaskan alasannya. Libatkan anak dalam pembicaraan. Biarkan mereka memahami bahwa aturan bukan dibuat untuk membatasi hidup mereka, melainkan membantu mereka belajar bertanggung jawab.
Konsekuensi juga perlu diterapkan secara konsisten dan proporsional. Dengan demikian, remaja belajar bahwa setiap kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab.
Orang tua tidak harus menjadi polisi di rumah.
Orang tua perlu menjadi Kompas memberikan arah, tetapi tetap memberi ruang bagi anak untuk belajar menentukan langkahnya sendiri.
Jangan Lupa Menjaga Harga Diri Anak
Ada satu hal yang sering luput dalam pengasuhan remaja: harga diri. Pada usia ini, anak sangat sensitif terhadap penilaian. Mereka mulai membandingkan diri dengan teman, melihat pencapaian orang lain, dan mencari pengakuan dari lingkungan. Karena itu, apresiasi terhadap usaha mereka menjadi penting. Tidak semua pencapaian harus berupa nilai sempurna atau prestasi besar. Ketika anak berusaha, berani mencoba, memperbaiki kesalahan, atau menunjukkan tanggung jawab, hal tersebut layak dihargai.
Validasi terhadap perasaan anak juga bukan berarti memanjakan.
Ketika anak mengatakan dirinya kecewa, orang tua tidak harus buru-buru menjawab, “Ah, begitu saja kok sedih.”
Terkadang kalimat sederhana seperti, “Ayah/Ibu mengerti kamu kecewa” justru menjadi pintu masuk bagi percakapan yang lebih panjang.
Anak yang merasa dihargai akan lebih mudah membangun kepercayaan diri. Sebaliknya, anak yang terus-menerus merasa dibandingkan, diremehkan, atau tidak didengarkan bisa semakin menjauh dari orang tua dan mencari penerimaan di tempat lain.
Pada Akhirnya, Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna
Menjadi orang tua bukan tentang selalu benar. Tidak ada orang tua yang setiap hari mampu bersikap sabar. Ada kalanya orang tua lelah, salah bicara, salah mengambil keputusan, bahkan kehilangan kendali. Yang penting adalah kesediaan untuk memperbaiki hubungan.
Pada balita, mari hadir dengan kasih sayang, keteladanan, dan rasa aman. Pada remaja, mari hadir dengan komunikasi, kepercayaan, batasan yang sehat, dan telinga yang mau mendengarkan. Sebab anak akan terus tumbuh. Cara kita mengasuh mereka pun seharusnya ikut tumbuh. Balita membutuhkan orang tua yang bisa menjadi contoh. Remaja membutuhkan orang tua yang bisa menjadi tempat pulang. Dan keduanya membutuhkan hal yang sama: orang tua yang hadir, peduli, dan bersedia memahami dunia mereka.
Karena tujuan akhir pengasuhan bukan sekadar membuat anak menurut. Lebih dari itu, kita sedang menyiapkan manusia yang mampu mengenal dirinya, menghargai orang lain, mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan menghadapi kehidupan dengan percaya diri.
