Vibe Coding: Cara Baru Anak SI Bikin Software Tanpa Pusing Sintaks

Mahasiswa Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Faiq Raflis Abidin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah ga sih, lo punya ide aplikasi keren, tapi pas mau bikin malah pusing gara-gara coding? Baru nulis beberapa baris, error muncul di mana-mana. Ujung-ujungnya, bukanya jadi aplikasi, malah jadi ajng adu kesabaran sama laptop.
Nah, sekarang ada tren yang namanya vibe codingI. Gampangnya lo, lo tinggal jelasin aplikasi yang pingin dibuat AI pakai bahasa sehari-hari, terus AI bakal bantu bikin kode-kodenya. Istilah ini dipopulerkan oleh Andrej Karpathy, salah satu pendiri OpenAI.
Tinggal Promt, Aplikasi Jadi?
Bayangin lo mau bikin aplikasi kasir buat tugas kuliah.Biasanya, lo harus ngoding dari awal, mengatur tampilan, sampai memastikan semua fiturnya berjalan.
Dengan vibe coding, lo cukup kasih instruksi seperti, "buat aplikasi kasir sederhana yang bisa menghitung total belanja dan kembalian." AI bakal membantu membuat kode awalnya. Kalau ada yang kurang, tinggal kasih instruksi tambahan.
Tool seperti ChatGPT, cursor, dan GitHub Copilot bisa membantu proses ini. Prakris banget, apalagi buat mahasiswa yang pingin cepat mewujudkan ide.
Tapi, Jangan Terlalu Bergantung!
Walaupun kelihatannya gampang, vibe coding bukan berarti lo bisa langsung jadi progammer jago tanpa belajar.
Pertama, kode buatan AI belum tentu rapi dan benar. Kedua, AI bisa memberikan solusi yang salah atau sudah usang. Ketiga, aplikasi yang terlihat berjalan normal belum tentu aman dari celah keamanan.
Makanya, dasar pemrograman dan logika tetap penting. Lo harus bisa memahami kode, mencari penyebab error, dan memastikan aplikasi berjalan sesuai kebutuhan.
Jadi, Beneran Berguna Atau Cuma Tren?
Menurut gw, Vibe coding bisa jadi cara baru yang efektif buat membuat prototipe dan mengembangkan ide aplikasi. Buat anak Sistem Informasi (SI), teknologi ini juga bisa membantu kita lebih fokus menyelesaikan masalah bisnis lewat solusi digital.
Tapi ingat, AI itu co-pilot, bukan pengganti otak kita. Gunakan AI buat mempercepat pekerjaan, bukan sebagai alasan buat berhenti belajar.
Jadi, daripada cuma ikut tren, kenapa ga coba bikin aplikasi sederhana minggu ini? Siapa tahu, proyek iseng lo malah jadi sesuatu yang berguna!
