Belajar dari Mardua Holong: Ancaman bagi Keharmonisan Keluarga Batak

Mahasiswa Studi Hukum keluarga, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari FAIQ ALI BADRI LUBIS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam budaya Batak, istilah “mardua holong” menjadi pembahasan yang sangat menarik, dilihat dari sisi nilai-nilai yang terkandung dalam istilah tersebut. Mardua holong secara pengertiannya adalah seseorang yang mendua hati, yaitu seseorang yang sudah menjalin hubungan dengan seseorang, namun di sisi lain ia juga memiliki hubungan dengan orang lain di waktu yang bersamaan, yang mana hal ini sangat berpotensi merusak keutuhan rumah tangga. Munculnya perilaku mardua holong biasanya diakibatkan oleh kurangnya komitmen serta kesetiaan dalam menjalin sebuah hubungan yang berakar dari kurangnya komunikasi, pengaruh media sosial, dan lingkungan pergaulan yang negatif. Namun, yang menjadi lebih butuh perhatian dari perilaku mardua holong adalah dampak yang ditimbulkan dari perilaku tersebut.
1. Hilangnya kepercayaan
Hilangnya rasa kepercayaan merupakan dampak paling serius dari perilaku mardua holong. Kepercayaan adalah modal fondasi awal dalam menjalin sebuah hubungan rumah tangga. Ketika sebuah kepercayaan yang menjadi sebuah pondasi itu dikhianati, dampak yang lain akan mulai timbul secara berkesinambungan, yaitu mulainya terlihat keretakan-keretakan yang menjadi awal runtuhnya keharmonisan dalam sebuah rumah tangga, munculnya rasa curiga di antara pasangan, menurunnya kualitas komunikasi, dan kurangnya menjalin komitmen yang serius dalam mempertahankan hubungan perkawinan.
2.Konflik dan perselisihan
Konflik dan perselisihan merupakan dampak yang timbul karena sudah rusaknya fondasi awal dalam menjalin sebuah hubungan rumah tangga, yaitu kepercayaan. Konflik di dalam rumah tangga ditandai dengan munculnya perbedaan pandangan, pertentangan kepentingan, dan ketegangan emosional, baik secara lahiriah maupun batiniah. Hal demikian terjadi karena sudah hilangnya rasa kepercayaan dan ikatan emosional, baik secara lahiriah maupun batiniah, di antara pasangan karena sudah merasa kecewa dan sulit untuk mempertahankan sebuah komitmen dalam hubungan rumah tangga.
3. Disharmoni keluarga
Disharmoni keluarga merupakan dampak paling berbahaya yang diakibatkan oleh perilaku mardua holong, yaitu disharmoni di antara keluarga besar kedua pasangan. Dalam sebuah hubungan rumah tangga, ikatan yang terjalin bukan hanya tentang kedua pasangan, akan tetapi yang terjalin adalah ikatan kekeluargaan di antara kedua belah pihak. Ketika perilaku mardua holong terjadi, hubungan di antara keluarga pasangan juga akan ikut merasakan akibat yang terjadi dalam perbuatan tersebut. Dalam budaya Batak perkawinan bukan hanya penyatuan dua individu, akan tetapi penyatuan kedua keluarga besar. Ketika sebuah keretakan terjadi dalam sebuah ikatan perkawinan, maka secara tidak langsung hubungan keluarga besar di antara kedua pasangan juga akan mulai memburuk. Di antara kedua belah pihak keluarga besar ada yang merasakan kekecewaan dan rasa malu yang ditimbulkan oleh konflik dari kedua pasangan tersebut.
Faiq Ali Badri Lubis, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah
