Konten dari Pengguna

Lebih dari Sekadar Suka dan Nafsu: Tantangan FOMO dan Promiskuitas Seksual

Nanda Faiq Fadhlurrahman

Nanda Faiq Fadhlurrahman

Mahasiswa S1 Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda Faiq Fadhlurrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi milenial FOMO. Foto: DisobeyArt/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi milenial FOMO. Foto: DisobeyArt/Shutterstock

Perubahan nilai budaya dan kemajuan teknologi telah membawa pergeseran dalam pandangan tentang hubungan romantis di kalangan anak muda di Indonesia. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dalam hubungan romantis telah menjadi lebih dominan, terutama pada perempuan.

Hal ini telah menciptakan tekanan sosial yang besar bagi mereka untuk memiliki pasangan atau pacar, bahkan jika hubungan tersebut tidak sehat atau tidak membawa kebahagiaan. Akibatnya, perempuan mungkin mencari perhatian dengan cara mencolok atau tidak sehat, hanya untuk merasa diakui dan berharga.

Tidak hanya itu, perubahan nilai budaya juga menyertai penyebaran promiskuitas seksual di internet. Akses mudah ke konten eksplisit seperti postingan dari beberapa akun Twitter, Instagram, Reddit dan layanan seperti OnlyFans telah mempengaruhi pandangan tentang seksualitas, terutama pada generasi muda. Penyebaran promiskuitas ini dapat menyebabkan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab, terutama di kalangan remaja yang rentan.

Dampak negatif dari FOMO dalam hubungan romantis dan penyebaran promiskuitas seksual tidak dapat diabaikan. Banyak perempuan mengalami tekanan emosional yang berlebihan, rendah diri, dan kekecewaan karena merasa tidak mampu memenuhi standar sosial yang telah ditetapkan.

Selain itu, perilaku promiskuitas yang dipengaruhi oleh konten eksplisit di internet juga dapat menyebabkan gangguan hubungan interpersonal, karena remaja mungkin cenderung mengalami hubungan yang dangkal dan tidak komitmen, hanya untuk memenuhi tuntutan FOMO atau mencari perhatian.

Penting bagi kita untuk menghadapi tantangan ini dengan tindakan yang tepat. Pendidikan tentang kesehatan mental, harga diri, dan hubungan yang sehat harus menjadi fokus utama di sekolah dan keluarga. Dukungan dan panduan dari orang tua, guru, dan peran model positif lainnya sangat penting bagi perempuan dalam menciptakan kebahagiaan dari dalam diri mereka sendiri, bukan hanya dari validasi eksternal.

Selain itu, penting juga untuk mengubah pandangan sosial tentang hubungan romantis dan nilai seorang perempuan. Masyarakat harus mendorong perempuan untuk menghargai diri sendiri dan mengejar hubungan yang bermakna dan saling mendukung, bukan hanya demi memenuhi tekanan sosial atau konsep FOMO. Di sisi lain, perlu ada upaya untuk mengawasi dan mengatur konten eksplisit di internet yang dapat merugikan mental dan moral generasi muda.

Dengan berkolaborasi, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, di mana perempuan merasa diterima, berharga, dan dapat mencapai kebahagiaan yang sejati tanpa harus bergantung pada tekanan sosial atau konsep FOMO. Dengan memperkuat kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi, anak muda dapat lebih percaya diri dan siap menghadapi tantangan kehidupan dengan lebih baik.

Mari bersama-sama menciptakan generasi muda yang kuat, berempati, dan bahagia dengan mengatasi dampak negatif FOMO dan penyebaran promiskuitas seksual. Kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih beradab, di mana nilai-nilai kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi dihargai sebagai bagian integral dari perkembangan individu. Dengan cara ini, kita akan melihat generasi muda yang lebih kokoh dan siap untuk menghadapi masa depan dengan percaya diri dan kebahagiaan yang sejati.