Konten dari Pengguna

Kritik Kebijakan Publik Indonesia dalam Puisi Peringatan Karya Wiji Thukul

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fairuz As Syifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Teks Peringatan Karya Wiji Thukul (Sumber: Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Teks Peringatan Karya Wiji Thukul (Sumber: Penulis)

Sebagai salah satu dari banyak penyair di era orde baru yang aktif melontarkan kritik tajam pada pemerintah melalui puisinya, Wiji Thukul banyak menulis tentang suka duka masyarakat kecil dan kesenjangan ekonomi akibat kebijakan politik ekonomi pemerintah orde baru yang membuat karya-karya dan ruang pergerakan penyair kelahiran Solo tersebut dibatasi. Karena itu, tidak mengherankan jika puisinya kemudian digunakan oleh para aktivis untuk membakar semangat demonstran, terutama baris terakhir puisi Peringatan (“maka hanya ada satu kata: lawan!”) yang hingga kini kerap menjadi bacaan wajib dalam berbagai aksi.

Untuk memahami bagaimana bahasa dalam puisi dapat berfungsi sebagai medium kritik kebijakan publik sekaligus instrumen mobilisasi sosial, pendekatan linguistik sistemik fungsional (LSF) yang dikemukakan oleh M.A.K Halliday dapat menjadi salah satu acuan. Teori ini mengacu pada bagaimana pengalaman dunia nyata ditransformasikan ke dalam bahasa melalui tiga metafungsi, yaitu ideasional, interpersonal, dan tekstual, dengan definisi dan fungsi yang berbeda. Dengan demikian, analisis metafungsi dapat memberikan berbagai dimensi makna yang terkandung dalam sebuah objek analisis.

Metafungsi Ideasional dan Representasi Suara Rakyat

Menurut Yulianti (2022), tata bahasa fungsional pada teori Halliday tidak hanya berkonsentrasi pada struktur bahasa, tetapi juga pada cara penyusunan makna dan perealisasiannya. Ketiga metafungsi tersebut berkaitan dengan klausa sebagai pesan dan direalisasikan oleh suatu pola bernama transivitas yang menugasi klausa untuk merepresentasikan bahasa.

Pada metafungsi ideasional, puisi Peringatan merepresentasikan realitas sosial yang membatasi kebebasan berpendapat dan menekan suara rakyat sebagaimana kondisi pada masa orde baru. Wiji Thukul mengarahkan kritik puisinya pada dampak nyata yang terjadi di masyarakat ketika tidak dianggap dan didengar oleh pemerintah (Ningsih dkk., 2024) sebagai halnya larik berikut.

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Pada larik awal puisi, klausa “jika rakyat pergi” menggambarkan tindakan nyata berupa ketidaktertarikan publik terhadap aktivitas politik melalui proses kepergian yang dilakukan oleh rakyat sebagai partisipan. Sebaliknya, klausa “ketika penguasa pidato” merepresentasikan ketimpangan relasi kekuasaan melalui tindakan rakyat dengan retorika penguasa. Pola ini berlanjut dengan penggunaan proses mental dalam klausa terakhir yang menunjukkan kondisi psikologis publik sebagai dampak dari kebijakan yang tidak berpihak.

Metafungsi Interpersonal dan Hubungan Sosial

Fungsi interpersonal pada bahasa digunakan untuk mengungkapkan realitas sosial dan berkaitan dengan interaksi antara penutur dan pendengar (Rahim dkk., 2024). Dalam puisi Peringatan, Wiji Thukul tidak memosisikan dirinya sebagai pengamat netral, melainkan sebagai subjek yang dengan gamblang mengajak audiens untuk mengambil sikap terhadap ketidakadilan politik. Hal ini tampak jelas dalam penggunaan kalimat imperatif di bagian akhir puisi yang membangun hubungan tegas antara penyair dan pembaca melalui seruan eksplisit.

Analisis oleh Hadawiyah dkk. (2025) menggarisbawahi penggunaan majas hiperbola pada larik “hanya ada satu kata: lawan!” yang memberikan kesan dramatis dan mendorong semangat perlawanan. Penggunaan tanda seru pada kata “lawan!” juga menunjukkan emosi yang kuat dan menekankan pesan utama puisi yang tumbuh dari kesulitan hidup sang penyair.

Di samping itu, karakter interpersonal yang tegas pada larik penutup puisi ini turut menjelaskan mengapa teks tersebut terus direproduksi di berbagai ruang aksi, baik di jalanan maupun di media sosial. Penelitian oleh Azzahra & Anwar (2025) mengungkapkan bahwa per 29 Agustus 2024, unggahan puisi Peringatan di Instagram oleh akun @bukuakik telah diteruskan sebanyak lebih dari 7.000 kali. Faktor lain dapat dipahami melalui penuturan Sari (2019) mengenai Peringatan yang menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan di Indonesia, selaras dengan pendapat Ramdani dkk. (2018) bahwa puisi tersebut menyuarakan ketiadaan keadilan dalam beragam kejadian di pemerintahan. Artinya, puisi Peringatan telah berulang kali menegaskan fungsinya sebagai medium kritik lintas generasi dan ruang yang mempertemukan bidang seni, politik, hingga partisipasi publik.

Metafungsi Tekstual dan Komentar Kebijakan Masif

Dalam metafungsi tekstual sebagai pengorganisir bahasa menjadi sebuah pesan yang koheren dan kohesif, Peringatan disusun melalui struktur yang terarah demi tersampaikannya sebuah kritik yang efektif. Puisi diawali dengan pemaparan kondisi sosial melalui kondisi bersyarat dan temporal (“jika rakyat pergi ketika penguasa pidato”), dilanjutkan dengan imaji perilaku sebagai imbas otoritarianisme (“bila rakyat berani mengeluh, itu artinya sudah gawat”), dan ditutup dengan seruan aksi eksplisit (“maka hanya ada satu kata: lawan!”). Struktur tersebut membentuk alur logis yang menjadikan Peringatan tidak hanya menjelma sebagai bentuk sastra reflektif, melainkan juga mobilisatif.

Selain itu, kesederhanaan larik dalam puisi ini juga menegaskan fungsi puisi sebagai medium kultural yang menjembatani pengalaman sosial publik dengan kritik terhadap kebijakan negara melalui sikap dan ajakan tegas untuk memberontak.

Puisi sebagai Medium Komunikasi Kritik Masyarakat

Menurut Salamah (2025), adanya ketertarikan peneliti terhadap puisi-puisi Wiji Thukul sebagai medium aspirasi masyarakat terletak pada kemampuan puisi untuk memengaruhi perasaan, pemikiran, dan tindakan individu. Hal ini tercermin pada puisi Peringatan yang lahir di masa orde baru merefleksikan ideologi perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah yang bersifat represif dan otoriter.

Melalui bahasa sederhana yang berorientasi pada pengalaman nyata, Peringatan merekam ketegangan hubungan antara publik dengan penguasa melalui ketidakberpihakan kebijakan suatu negara. Ini menandakan bahwa seni, khususnya puisi, mampu menjadi ruang alternatif untuk menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan kebijakan bersama.

Dengan membaca dan mengkaji puisi-puisi Wiji Thukul, pembaca diharapkan tidak hanya mengapresiasi karyanya semata, melainkan juga dapat memahami sejarah perlawanan masyarakat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sehingga kesadaran kritis terhadap kebijakan publik dapat terus tumbuh dan menyala.