Konten dari Pengguna

Climate Change dan Persaingan Geopolitik di Arktik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fairuz Laili tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemandangan gunung es (Sumber: Pexels/X1ntao ZHOU)
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan gunung es (Sumber: Pexels/X1ntao ZHOU)

Perubahan iklim atau Climate Change telah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam keamanan internasional karena dampaknya tidak lagi terbatas pada kerusakan lingkungan, tetapi juga memengaruhi kepentingan ekonomi, stabilitas politik, dan hubungan antarnegara. Salah satu kawasan yang mengalami perubahan signifikan adalah Arktik, wilayah di sekitar Kutub Utara yang mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Peningkatan suhu menyebabkan penyusutan es laut, perubahan ekosistem, serta terbukanya peluang akses terhadap jalur pelayaran dan sumber daya alam yang sebelumnya sulit dijangkau. Kondisi ini menghadirkan paradoks: di satu sisi, pencairan es merupakan ancaman serius bagi keseimbangan lingkungan global, tetapi di sisi lain, perubahan tersebut menciptakan peluang ekonomi dan strategis bagi negara-negara yang memiliki kepentingan di kawasan Arktik.

Peningkatan aktivitas pelayaran, misalnya, menunjukkan bahwa kawasan ini semakin relevan dalam perdagangan dan distribusi energi internasional. Namun, meningkatnya akses terhadap Arktik juga memunculkan persoalan mengenai siapa yang berhak mengelola jalur pelayaran, memanfaatkan sumber daya, dan menentukan arah keamanan kawasan.

Fenomena penyusutan es bukan hanya peristiwa sesaat. Penyusutan es laut merupakan indikator penting untuk memahami perubahan iklim di Arktik. Dalam laporan NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) 2025, luas es pada akhir musim panas tercatat 28% lebih kecil dibandingkan pada 2005.

Selain itu, es laut tertua yang telah bertahan lebih dari empat tahun berkurang lebih dari 95% dibandingkan rata-rata periode 1985–2004. Implikasinya adalah dengan banyaknya bongkahan es yang mencair, permukaan air laut pun naik, mengubah kondisi fisik wilayah di Arktik. Kawasan yang sebelumnya tertutup lapisan es menjadi wilayah yang semakin terbuka dan mudah diakses.

Pencairan es laut membuka rute pelayaran maritim baru yang lebih singkat dibandingkan rute tradisional seperti Terusan Suez atau Panama, tentunya bagi banyak aktor jalur pelayaran ini menarik secara ekonomi. Terbukti dengan sebanyak 1.812 kapal unik memasuki wilayah Arktik pada tahun 2025, menandai kenaikan sebesar 40% dibandingkan tahun 2013 (saat pendataan dimulai).

Aspek ekonomi ini mulai dilirik oleh beberapa aktor seperti Rusia. Ia berambisi menjadikan Jalur Laut Utara (Northern Sea Route/ NSR) sebagai jalur pelayaran komersial internasional yang menghubungkan Eropa dan Asia secara sepanjang tahun. Namun disisi lain, dengan mencairnya es laut, menyebabkan struktur pertahanan alami Rusia mengikis membuat garis pantai utaranya semakin terbuka terhadap potensi ancaman maritim asing yang kemudian menyebabkan terjadinya security dillema.

Singkatnya, security dillema adalah keadaan saat satu negara meningkatkan rasa keamanannya (biasanya secara militer) namun menyebabkan negara lain di sekitarnya merasa tidak aman. Rusia merespons terhadap fenomena tersebut dengan mengaktifkan kembali dan memodernisasi pangkalan militer era Soviet, mendirikan Komando Arktik baru, serta menempatkan sistem pertahanan udara dan rudal pesisir S-300 dan S-400 di Semenanjung Kola dan beberapa basis pulau.

Tentunya negara-negara di sekitar Rusia tidak diam saja. NATO yang beranggotakan banyak negara-negara Eropa + Amerika Serikat mengintegrasikan dan menyatukan seluruh aktivitas militer nasional negara-negara sekutu di Arktik ke dalam satu pendekatan operasional yang terpadu, dan menempatkan kelompok tempur battlegroup di Boden (Swedia) untuk meningkatkan pertahanan darat di sisi utara dan timur NATO.

Arctic Exceptionalism yang menganggap Arktik sebagai zona damai dan mengisolasi kawasan ini dari ketegangan politik tentunya berkurang. Di sisi lain, dengan Isolasi dan tekanan diplomatik dari negara Barat terhadap Rusia mempererat aliansi strategis antara Moskow dan Beijing.

Motif China di sini karena melihat nilai ekonomi dari terbukanya pelayaran baru dan juga lebih mudahnya akses terhadap sumber daya alam yang ada di Arktik. Salah satunya seperti China yang menjadi pendana utama dan mitra strategis dalam proyek gas alam cair raksasa Rusia di utara, seperti proyek Yamal LNG.

Perubahan iklim di Arktik menunjukkan bahwa ancaman lingkungan tidak dapat dipisahkan dari dinamika keamanan internasional. Pencairan es laut yang semakin cepat telah mengubah kondisi fisik kawasan, membuka peluang baru bagi jalur pelayaran dan pemanfaatan sumber daya alam, sekaligus meningkatkan persaingan kepentingan antarnegara.

Climate change kini tidak hanya menjadi isu sampingan saja, namun fenomena yang memiliki trickle down effect (fenomena satu menyebabkan beberapa fenomena lainnya) di ranah politik yang sampai bisa menyebabkan peningkatan keamanan dan security dillema.