Kapitalisme dan Mental Malas di Indonesia

Mahasiswa Universitas YARSI - Fakultas Teknologi Informasi Progam Studi Perpustakaan dan Sains Informasi
Tulisan dari Faisal Ramzy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tinggal di negara berkembang yang banyak keinginan yang berlebihan atau halusinasi secara berlebihan tetapi malas untuk mencoba. Di Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai mental yang malas.
Malas untuk membaca buku dan lebih mementingkan bermain game dan bermedia sosial melihat yang viral-viral. Malas berolahraga dan memilih untuk mengendarai motor atau mobil yang penuh polusi daripada berjalan kaki kecuali jika jarak yang jauh, ingin pergi membeli bakso depan rumah saja malas untuk berjalan kaki.
Lebih parahnya lagi, ada pula orang yang malas untuk bekerja dan memilih untuk meminta, istilahnya mental pengemis yang suka meminta-minta.
Indonesia Mental Malas, Siapa yang Salah?
Pada zaman sekarang, kita hidup di era kapitalisme. Sukses atau tidak dalam hidup akan ditentukan dari seberapa aset yang kita punya. Aset yang dimaksud tidak hanya uang, tetapi aset pendidikan atau intelegensi, manner atau sopan santun, fashion, dan sebagainya.
Kesenjangan ekonomi merupakan salah satu yang paling sering dalam kapitalisme. Menurut rekaman video satu persen menyatakan bahwa di Indonesia lebih banyak orang yang miskin daripada orang yang kaya.
Orang yang sudah mempunyai privilege cenderung di level atas. Orang yang mempunyai privilege akan mudah mendapatkan akses dan aset dengan mudah sedangkan orang yang tidak berada atau miskin akan sulit untuk mendapatkan hal itu semua.
Semua hal itu dikarenakan hampir semua membutuhkan aset dan uang. Permasalahan ini menjadi kebanyakan orang berspektif bahwa orang kaya akan selalu lebih diuntungan daripada orang miskin.
Jadi, orang-orang akan menganggap tidak adil secara kompetisi. Pada akhirnya, orang miskin akan kalah dengan orang kaya, kecuali jika orang miskin beruntung walaupun sangat jarang. Jangan heran jika orang yang mempunyai privilage akan mudah untuk menang.
Kondisi tersebut menjadi masalah baru bagi orang miskin karena sudah berusaha dan tetap saja kalah. Keseringan gagal membuat orang mempunyai gangguan kecemasan. Jika sudah parah akan mempunyai yang namanya mental pasrah. Kegagalan memang kejadian yang normal-normal saja. Namun, jika keseringan akan menyebabkan:
Self-esteem rendah yang mereka akan merasa merendahkan diri dan tidak mampu untuk bertindak sesuatu dengan benar. Kita juga mudah frustasi yang terlalu sering mengalami kejadian buruk yang diluar kendali sampai kewalahan. Kita menjadi terlalu pasif yang menghindaru tanggung jawab dan suka menunda-nunda waktu dan pekerjaan. Dari hal tersebut akan menjadikan mental orang yang mudah menyerah dalam melakukan hal sesuatu.
Jadi, apakah salah menjadi orang miskin? Tentu tidak. Orang miskin belum tentu mereka malas hanya belum mendapat privilage serta hak yang luas. Banyak sekali orang yang miskin selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang baik tanpa adanya mental pasrah.
Akses yang Mudah
Pada kapitalisme memang membuat adanya kesenjangan ekonomi. Akan tetapi, positifnya kapitalisme adalah sudah ada akses yang mudah yaitu internet. Internet kita bisa belajar apa saja sesuai minat yang dipelajari. Bahkan, kita bisa belajar usaha dan investasi walaupun baru pemula.
Usaha banyak sekali macam dan salah satunya yang penting terutama setelah pasca pandemi adalah logistik. JNE menjadikan usaha yang paling baik serta pelayanan yang cukup ramah. JNE juga bisa mengirim barang sampai ke internasional, jadi tidak hanya di Indonesia saja.
Dengan era digitalisasi, masyarakat pun sudah terbiasa dengan membeli barang atau makanan dan minuman secara online. Hal tersebut mempunyai dampak positif serta negatif bagi masyarakat. Baiknya adalah bisa memakmurkan dan meningkatkan usaha logistik serta UMKM. Namun, kekurangannya adalah menjadikan ketergantungan dan malas.
Masyarakat jangan sampai ketergantungan dengan pembelian yang secara instan yang akan membuat banyak pengeluaran dan sangat mudah untuk tergoda. Pembelian secara instan membuat masyarakat akan menjadi malas. Walaupun sudah diberikan akses kemudahan, kita jangan sampai tergiur dengan teknologi zaman sekarang. Adanya kemudahan yang seharusnya agar menjadi lebih cepat dan bukan untuk menjadi tambah malas.
Jadi, kita bisa belajar menggunakan smartphone dan intenet untuk mencari skill kita, mencari pekerjaan, dan sebagainya. Namun, beberapa daerah juga terbatas dalam hal internet. Jadi, tidak semua orang terfasilitasi internet dengan baik. Seharusnya, di daerah-daerah pelosok diharuskan untuk memasang sinyal internet agar orang-orang bisa menggunakannya dengan baik.
Bangkit dari Mental Pasrah
Survive atau bertahan di era kapitalisme yaitu dengan mempelajari literasi finansial. Mengatur keuangan pribadi adalah cara untuk membangkitkan mental pasrah dalam diri kita. Kita juga perlu belajar bagaimana cara berinvestasi untuk masa tua nantinya. Tanpa kita mempelajari literasi finansial, maka akan susah untuk mengatur aset keuangan. Banyak sekali orang-orang yang terkena penipua, hutang bertebaran, dirampok, dan sebagainya.
Belajar Survive
Kita harus bertahan hidup dari finansial yang kita punya. Penuhi kebutuhan dasar seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan. Finansial sendiri juga harus standar dan jangan sampai gegabah. Mempunyai supporting system atau pertemanan yang baik. Belajar banyak hal dan selalu untuk bekerja. Kita juga harus mempunyai sikap sopan santun serta disiplin.
Setelah anda bisa survive anda bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu:
Manajemen Resiko
Memikirkan proteksi finansial, buatlah menabung untuk dana darurat. Hal darurat memang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Maka dari itu kalian harus benar-benar belajar menabung dengan baik agar bisa mengelola hal darurat yang mengandung resiko.
Investasi
Jika keuangan sudah membaik, cobalah untuk berinvestasi. Guna investasi supaya tidak terjadinya inflasi ekonomi. Investasi juga bisa membuat goals-goals yang diinginkan seperti travelling. Investasi dengan berbagai produk akan lebih baik walaupun agresif tetapi kita mempunyai manajemen resiko yang oke.
Enjoyable
Jika keuangan sudah banyak dan investasi yang tinggi dengan dana pensiun yang membaik. Bisa untuk membuak bisnis yang membuat dampak baik kepada masyarakat, seperti membuat webinar kewirausahaan. Hidup sudah dipenuhi dengan ekonomi yang tinggi sudah bisa santai-santai sembari menikmati hidup disaat pensiun.
Jadi, banyak sekali faktor-faktor lain yang menyebabkan kita malas, miskin, dan selalu gagal hingga memengaruhi mental. Namun, dari kegagalan yang kita hadapi bukanlah sepenuhnnya salah. Apapun itu yang terjadi, kita bisa memfokuskan diri untuk mengendalikan diri kita daripada kita banyak mengeluh. Kita juga harus belajar tentang literasi finansial supaya tidak terjadinya kesenjangan.
#JNE32tahun#JNEBangkitBersama#jnecontentcompetition2023 #ConnectingHappiness
Sumber: Satu Persen/Youtube
