Konten dari Pengguna

Kepuasan Tinggi, Tapi Mengapa Publik Terasa Lelah?

Faiz Al Ahsan D Zikri

Faiz Al Ahsan D Zikri

Mahasiswa Hubungan Internasional yang tertarik pada isu global, politik, dan budaya pop. Senang membedah hal kompleks jadi sederhana. Kadang menemukan ide sambil rebahan bareng kucing putih bernama Moon Moon.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faiz Al Ahsan D Zikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kelelahan membaca informasi di ruang digital. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelelahan membaca informasi di ruang digital. Foto: Unsplash

Beberapa waktu terakhir, realitas yang terasa berjalan berdampingan tetapi sulit dipahami secara bersamaan semakin nyata. Di satu sisi, survei menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah berada di angka 79,9 persen, sebuah angka yang relatif tinggi menurut laporan terbaru. Namun di sisi lain, ruang digital dan percakapan publik dipenuhi oleh keluhan, kelelahan, dan bahkan rasa frustrasi yang mendalam di kalangan warga negara.

Laporan dari BBC News Indonesia pernah menyoroti bahwa sejumlah warga Indonesia mengaku mencari bantuan psikolog karena merasa frustrasi terhadap kondisi sosial dan politik. Bukan sekadar komplain biasa, tapi hingga berdampak ke kesehatan mental. Ketika sebagian masyarakat tampak “baik-baik saja”, sebagian lain justru menunjukkan kelelahan yang lebih sunyi namun nyata.

Pertanyaannya kemudian bukan soal benar atau salah, atau soal siapa yang harus dipercaya. Yang menarik justru jarak di antara keduanya. Jika angka kepuasan tinggi mencapai hampir 80 persen, mengapa rasa lelah dan frustrasi tetap terasa nyata di sebagian masyarakat?

Survei Mengukur Persepsi, Emosi Bergerak Lebih Sunyi

Survei pada dasarnya adalah alat ukur. Ia merekam persepsi publik dalam satu periode tertentu dengan metodologi yang terstruktur. Hasil survei yang menyebut tingkat kepuasan mencapai 79,9 persen tentu tidak muncul begitu saja. Ia melalui proses pengambilan sampel, pertanyaan terstandar, dan analisis statistik.

Angka tersebut penting sebagai gambaran umum. Ia menunjukkan bahwa dalam parameter tertentu, mayoritas responden merasa puas terhadap kinerja pemerintah. Stabilitas, program bantuan, atau kebijakan yang dirasakan langsung bisa menjadi faktor yang memengaruhi jawaban.

Namun survei tetaplah potret pada satu momen. Ia menangkap apa yang dipikirkan responden ketika pertanyaan diajukan, bukan seluruh dinamika emosi yang mereka rasakan dalam keseharian. Di sinilah jarak mulai terasa.

Laporan BBC News Indonesia tentang warga yang mencari bantuan psikolog karena frustrasi menunjukkan sisi lain yang tidak selalu terwakili dalam angka. Frustrasi tidak selalu berarti penolakan total. Ia bisa hadir sebagai akumulasi rasa lelah, kebingungan, atau ketidakpastian yang terus menumpuk.

Emosi sosial jarang bergerak seragam. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk demonstrasi besar atau pernyataan politik yang eksplisit. Kadang ia hadir sebagai kelelahan membaca berita, sinisme terhadap diskusi publik, atau dorongan untuk menjauh dari percakapan politik.

Di ruang digital, ekspresi seperti ini terlihat lebih jelas. Algoritma media sosial cenderung memperkuat konten yang emosional karena memicu interaksi. Akibatnya, rasa frustrasi terasa semakin kolektif dan masif, meskipun belum tentu mencerminkan keseluruhan populasi.

Survei merekam persepsi ketika orang ditanya. Media sosial merekam reaksi ketika orang sedang merasakan sesuatu. Keduanya tidak selalu bertentangan, tetapi juga tidak selalu saling menjelaskan sepenuhnya.

Ketika Kelelahan Publik Tidak Selalu Soal Pemerintah

Mudah untuk menyimpulkan bahwa rasa lelah publik sepenuhnya disebabkan oleh pemerintah yang sedang berkuasa. Namun realitas sosial jarang sesederhana itu. Kelelahan yang terasa hari ini kemungkinan besar merupakan hasil dari berbagai tekanan yang saling bertumpuk.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi global, perubahan harga kebutuhan pokok, serta dinamika politik yang terus bergerak cepat. Di saat yang sama, arus informasi tidak pernah berhenti. Setiap hari ada polemik baru, kebijakan baru, perdebatan baru. Semua hadir hampir tanpa jeda di layar ponsel.

Kondisi ini menciptakan beban psikologis yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Kita tidak hanya menghadapi persoalan pribadi, tetapi juga terus-menerus terpapar persoalan kolektif. Bahkan sebelum sempat mencerna satu isu, isu lain sudah datang menggantikan. Dalam situasi seperti ini, rasa jenuh dan frustrasi menjadi lebih mudah tumbuh.

Fenomena tagar seperti “kabur aja dulu” yang sempat ramai di media sosial, termasuk yang diulas dalam opini di Kumparan, menunjukkan adanya kegelisahan generasi yang merasa gamang terhadap masa depan. Namun kegelisahan itu tidak selalu identik dengan penolakan terhadap negara. Ia bisa menjadi ekspresi kebingungan, atau bentuk pelarian dari suasana yang terasa terlalu bising dan menekan.

Artinya, kelelahan publik mungkin bukan hanya soal setuju atau tidak setuju terhadap satu kebijakan. Ia bisa menjadi tanda bahwa ruang sosial dan informasi kita terlalu padat, terlalu cepat, dan terlalu penuh emosi.

Di titik ini, penting untuk membedakan antara kritik yang rasional dan kelelahan yang akumulatif. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Kelelahan adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dikelola, baik di tingkat kebijakan maupun di tingkat individu.

Di Antara Angka dan Perasaan, Apa yang Perlu Didengar

Tingginya angka kepuasan publik tidak otomatis meniadakan rasa lelah yang berkembang di ruang sosial. Keduanya bisa hadir secara bersamaan karena berbicara tentang dua lapisan yang berbeda. Angka menggambarkan kecenderungan mayoritas dalam parameter tertentu. Perasaan merekam pengalaman yang lebih personal, yang tidak selalu terwakili dalam statistik.

Karena itu, persoalannya bukan memilih mana yang lebih benar. Angka survei tetap penting sebagai indikator umum. Namun ekspresi frustrasi yang muncul di ruang digital juga tidak bisa dianggap sekadar riuh tanpa makna. Di baliknya ada individu-individu yang sedang mencoba memahami posisi mereka sebagai warga negara di tengah perubahan yang cepat.

Jika sebagian masyarakat merasa puas, itu bagian dari realitas. Jika sebagian lain merasa lelah hingga berdampak pada kesehatan mental, itu juga bagian dari realitas. Demokrasi tidak hanya hidup dari hasil survei, tetapi juga dari kemampuan ruang publik menampung kegelisahan yang tidak selalu tercatat.

Mungkin yang sedang kita hadapi bukan sekadar soal puas atau tidak puas, melainkan soal kapasitas kolektif untuk mengelola tekanan sosial yang semakin kompleks. Di tengah banjir informasi dan percepatan wacana, menjaga rasionalitas menjadi tantangan tersendiri.

Pada akhirnya, diskusi tentang negara tidak hanya berhenti pada angka atau tagar. Ia menyangkut manusia yang hidup di dalamnya, dengan harapan, kecemasan, dan batas daya tahan masing-masing. Jika rasa lelah terasa nyata, itu patut didengar, bukan untuk dipertentangkan dengan data, melainkan untuk dipahami sebagai bagian dari dinamika masyarakat hari ini.

Catatan Penulis

Tulisan ini lahir dari kegelisahan yang mungkin juga dirasakan banyak orang. Saya pernah merasa lelah membaca berita yang tak kunjung reda, marah pada situasi tertentu, dan jenuh melihat diskusi publik yang semakin bising. Perasaan itu nyata, dan rasanya tidak perlu disangkal.

Namun saya juga menyadari bahwa emosi yang terus dipelihara tanpa jarak dapat berubah menjadi keputusasaan yang tidak produktif. Di tengah derasnya arus informasi, kita mudah terseret pada suasana yang membuat semuanya terasa lebih gelap dari yang sebenarnya.

Mungkin yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar data baru atau perdebatan baru, melainkan ruang untuk bernapas. Ruang untuk mencerna informasi dengan lebih tenang. Ruang untuk mengkritik tanpa kehilangan akal sehat.

Jika ada rasa lelah yang terasa nyata, itu tidak selalu berarti kita harus menyerah sebagai warga negara. Bisa jadi itu tanda bahwa kita peduli, hanya saja belum menemukan cara yang sehat untuk menyalurkannya.