Desa Inklusi Srigonco: FBD 44 Berdayakan Difabel dan Gelar FGD Kesehatan Jiwa

Mahasiswa aktif Sosiologi Universitas Brawijaya angkatan 2023
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Faiz Rahmatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Juli 2025, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya yang tergabung dalam kelompok FBD 44 bersama warga Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, melaksanakan program Desa Inklusi. Program ini berfokus pada dua hal penting, yaitu pemberdayaan warga difabel dan upaya meningkatkan kesadaran kesehatan jiwa melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema “Membangun Sinergi: Kolaborasi Keluarga, Perangkat Desa, Kader Posyandu, dan Masyarakat dalam Mewujudkan Desa Peduli Kesehatan Jiwa.”
Batik Sri Dadali Sebagai Kolaborator Pemberdayaan
Kegiatan pertama berlangsung pada Kamis (18/07/2025) dengan agenda pemeriksaan kesehatan bagi warga difabel serta pembelajaran membatik. Bersama UMKM Batik Sri Dadali yang dipandu Bu Lilis, lima peserta difabel mencoba membuat pola batik menggunakan canting dan malam. Suasana hangat dan penuh semangat tercipta, terlebih ketika Mas Bagus, salah satu peserta, mengungkapkan rasa bahagianya bisa merasakan pengalaman membatik untuk pertama kalinya.
Dilanjutkan pada Sabtu (22/07/2025), para peserta belajar mewarnai batik mulai dari proses pencelupan, perebusan, hingga pengeringan kain. Aktivitas ini tidak hanya memberi pengalaman seni yang menyenangkan, tetapi juga membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan kebersamaan antara peserta, pendamping, dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, Desa Srigonco perlahan membangun lingkungan yang lebih inklusif dan saling mendukung.
Pemberdayaan Rangkaian ke 3 tie dye dengan Media tote bag
Pada Kamis (25/07/2025), rangkaian pemberdayaan ketiga Desa Inklusi digelar melalui kegiatan tie dye yang didampingi langung oleh mahasiswa FBD 44. Warga difabel diajak mewarnai tote bag menggunakan teknik tie dye dengan pewarna sintetis, memilih kombinasi warna sesuai imajinasi masing-masing. Kegiatan ini mendapat respon positif, terlihat dari antusiasme para peserta difabel yang merasa senang dapat mengekspresikan diri melalui karya seni, serta dukungan penuh dari perangkat desa yang ikut menyaksikan jalannya kegiatan. Hasil tote bag berwarna-warni menjadi simbol kebersamaan sekaligus bukti nyata bahwa kreativitas difabel dapat tumbuh subur ketika difasilitasi dengan dukungan yang inklusif.
FGD Angkat Pentingnya Kesehatan Jiwa dan Peran Keluarga dan Seluruh Elemen Masyarakat dalam Mendampingi Difabel
Kelompok FBD 44 tidak hanya fokus pada pemberdayaan keterampilan difabel, tetapi juga menghadirkan ruang diskusi terbuka melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar pada Selasa (22/07/2025) di Desa Srigonco. Acara ini menghadirkan Bapak Soebagijono, S.Kep., Ns., M.Kes., Kepala puskesmas Kecamatan Bantur, sebagai narasumber utama. Peserta FGD berasal dari berbagai kalangan, antara lain anak-anak SMP yang sedang memasuki masa rawan perubahan emosi, bidan desa, perangkat desa, pengurus RT/RW, guru Bimbingan Konseling (BK), hingga ketua paguyuban UMKM. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa isu kesehatan jiwa di Desa Srigonco mendapat perhatian luas dari banyak pihak.
Dalam pemaparannya, Bapak Soebagijono menegaskan bahwa menjaga kesehatan jiwa merupakan kebutuhan mendasar yang tidak boleh diabaikan, terutama bagi keluarga yang memiliki anggota difabel. Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki potensi mengalami gangguan kejiwaan, termasuk difabel fisik maupun para caregiver yang mendampingi mereka. Selain itu, beliau menyoroti bahwa anak-anak remaja yang sedang memasuki masa pubertas kerap mengalami emosi yang tidak stabil, sehingga berisiko menghadapi masalah kesehatan jiwa. Diskusi kemudian difokuskan pada empat pertanyaan pokok: strategi preventif dan solutif apa yang perlu dikembangkan untuk menjaga kesehatan jiwa masyarakat di tingkat desa, bagaimana membangun kolaborasi ideal antara keluarga, perangkat desa, kader kesehatan, lembaga pelayanan kesehatan, dan masyarakat, bagaimana cara menjaga mental caregiver ODGJ, serta upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi dan pemberdayaan bagi penyintas maupun ODGJ agar lebih mandiri dan produktif.
Hasil FGD menunjukkan bahwa kesehatan jiwa bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Selain itu, masyarakat Desa Srigonco juga menyampaikan kebutuhan akan panduan praktis untuk mengendalikan rasa cemas di era digital, serta membentuk cara pandang yang lebih inklusif terhadap difabel. Menanggapi temuan ini, kelompok FBD 44 menyusun poster edukatif yang merangkum hasil FGD, agar dapat menjadi pegangan bagi warga dalam mewujudkan Desa Srigonco sebagai lingkungan yang lebih peduli kesehatan jiwa, ramah difabel, dan inklusif.
Poster Pondasi Kuat Hadapi Cemas Di era Digital
Poster berjudul “Pondasi Kuat Hadapi Cemas di Era Digital” hadir sebagai panduan praktis yang menekankan peran keluarga dalam memperkuat kesehatan mental. Poster ini disusun berdasarkan hasil FGD, di mana narasumber menekankan pentingnya pendekatan keluarga melalui tiga aspek utama: Asih (cinta & kasih sayang), Asuh (bimbingan & perlindungan) dan Asah (menanamkan nilai).
Poster Fakta dan Mitos Penyandang Difabel
Selain itu, Poster berjudul “Fakta dan Mitos Penyandang Difabel” didesain untuk mengajak pembaca agar tidak hanyut dalam mitos-mitos tentang difabel yang beredar di masyarakat. Poster ini menyajikan informasi secara visual dan edukatif dengan membedakan antara fakta dan mitos, guna membangun pemahaman yang lebih inklusif dan empatik terhadap penyandang disabilitas. Melalui warna cerah dan ilustrasi yang menarik, poster ini menekankan pentingnya mengenali kenyataan bahwa penyandang difabel mampu berkomunikasi, bekerja, dan mandiri apabila diberikan akses dan kesempatan yang setara. Pesan utamanya adalah “Pahami Sebelum Menghakimi,” sebagai ajakan reflektif agar masyarakat lebih bijak dalam bersikap terhadap disabilitas.
Kegiatan Desa Inklusi mendapat sambutan hangat dari masyarakat, Kepala Desa Srigonco, serta seluruh perangkat desa. Antusiasme warga tampak jelas melalui partisipasi aktif dalam setiap agenda, baik saat pemberdayaan maupun Focus Group Discussion (FGD). Kepala Desa Srigonco, Didit Puji Leksono, turut memberikan tanggapan positif. Dalam arahannya, beliau mendorong kader Posyandu Jiwa untuk mulai merencanakan dan menganggarkan program pemberdayaan bagi teman-teman difabel pada tahun mendatang. Harapannya, langkah ini dapat memperkuat keberlanjutan kegiatan inklusif di Desa Srigonco, sehingga desa semakin berdaya, peduli, dan sehat jiwa, serta mampu menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Malang.
