FBD 44 Dukung Pemberdayaan Difabel diDesa Srigonco bersama UMKM batik sri dadali

Mahasiswa aktif Sosiologi Universitas Brawijaya angkatan 2023
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faiz Rahmatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) FBD kelompok 44 sukses menyelenggarakan program kerja yang bertajuk "Desa Inklusi", yang mengedepankan pemberdayaan teman-teman difabel di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Program ini terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu pemberdayaan warga difabel dan Focus Group Discussion (FGD) bersama perwakilan berbagai elemen masyarakat. Rangkaian kegiatan pemberdayaan sendiri berlangsung selama tiga hari, tepatnya pada tanggal 18, 19, dan 23 Juli 2025, dengan mengusung tema besar tentang kreativitas, kesehatan mental, dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Gagasan untuk mengenalkan kegiatan membatik muncul dari pengamatan mahasiswa FBD 44 ketika mengikuti posyandu jiwa. Mereka menemukan bahwa interaksi bagi teman-teman difabel masih sangat terbatas dan cenderung monoton. Karena itu, Faiz sebagai PIC bersama Miranda berinisiatif merancang sebuah kegiatan baru yang lebih variatif, produktif, sekaligus mengasah keterampilan hard skill peserta melalui seni membatik.
Kolaborasi dengan Posyandu Jiwa dan UMKM Batik Sri Dadali
Pada hari pertama, Kamis (18/07/2025), mahasiswa FBD 44 berkolaborasi dengan kader posyandu jiwa dan menggandeng UMKM lokal Batik Sri Dadali sebagai mitra untuk melaksanakan kegiatan posyandu jiwa yang dipadukan dengan sesi pelatihan membatik. Dalam kesempatan ini, Bu Lilis selaku pemilik Batik Sri Dadali bertindak sebagai fasilitator. Beliau telah menyiapkan kain dengan motif bunga yang sudah digambar sebelumnya, kemudian para peserta difabel menebalkan pola tersebut dengan canting dan malam, didampingi oleh mahasiswa dan kader. Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh semangat, dan mendapatkan apresiasi dari semua pihak yang hadir.
Kegiatan ini diikuti oleh lima peserta difabel, yakni Mas Aan, Mas Joko, Mas Bagus, Mas Yatmoko, dan Mas Yanto. Mereka merupakan warga dengan kondisi difabel mental dan sebagian dengan difabel intelektual. Meski memiliki perbedaan kondisi psikologis, kelimanya menunjukkan semangat yang tinggi serta kemampuan keterampilan yang patut diasah untuk menghasilkan karya dengan nilai seni yang membanggakan. Partisipasi aktif mereka dalam kegiatan membatik membuktikan bahwa kreativitas dan semangat berkarya tetap bisa tumbuh dalam diri setiap individu, tanpa memandang keterbatasan.
Dukungan Kepala Desa untuk Keberlanjutan
Kepala Desa Srigonco, Bapak Didit Puji Leksono, turut menyemangati para peserta difabel dengan penuh antusias. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa FBD 44, kader posyandu jiwa, serta UMKM Batik Sri Dadali atas inisiatif menghadirkan kegiatan kreatif yang bermanfaat nyata bagi warga difabel. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga melatih keterampilan, menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuka peluang ekonomi. Selain itu, Pak Didit juga ikut terlibat langsung dalam kegiatan, termasuk senam bersama peserta difabel, sambil memberikan motivasi agar mereka tetap bersemangat. Beliau juga mendorong kader posyandu jiwa untuk mengusulkan kegiatan serupa masuk dalam anggaran perencanan desa (APBDES) tahun 2026, demi keberlanjutan dan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Pada hari kedua, Jumat (19/07/2025), kegiatan dilanjutkan dengan tahapan pewarnaan batik yang lebih lengkap. Peserta difabel mengikuti proses mulai dari mencelupkan kain ke dalam larutan warna, menjemurnya hingga kering, lalu merebus kain agar warna benar-benar meresap dan tahan lama. Seluruh rangkaian ini dilakukan dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Bu Lilis, pemilik Batik Sri Dadali yang juga menjadi fasilitator, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman baru, tetapi juga dipenuhi canda tawa yang membuat suasana terasa hangat, akrab, dan menyenangkan bagi semua yang terlibat.
Menurut Faiz, salah satu perwakilan mahasiswa FBD 44, program ini bukan hanya sekadar kegiatan KKN biasa, melainkan bentuk nyata upaya mewujudkan desa yang lebih ramah dan inklusif bagi semua warganya. “Kami ingin teman-teman difabel memiliki ruang untuk berkarya, sehat secara mental, dan berdaya secara ekonomi. Dengan sinergi antara mahasiswa, warga, dan UMKM, kami yakin Desa Inklusi dapat terwujud,” ujarnya. Kegiatan ini diyakini memiliki potensi untuk berlanjut dan memberikan manfaat jangka panjang, sebab Desa Srigonco sendiri sudah menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap teman-teman difabel. Hal ini terbukti dari adanya posyandu jiwa yang rutin dilaksanakan setiap bulan untuk mendampingi mereka.
Program Desa Inklusi yang digagas mahasiswa FISIP FBD 44 ini membuktikan bahwa keberpihakan terhadap kelompok rentan bisa diwujudkan melalui aksi nyata, kolaborasi, dan kreativitas yang memberdayakan. Mahasiswa berharap kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman menyenangkan, tetapi juga keterampilan baru yang bermanfaat dan bernilai ekonomi bagi warga difabel di Desa Srigonco.
