Membaca Kembali Naar De Republiek Indonesia

Kabiro Kesekretariatan PB Mathlaul Anwar 2026-2031, Direktur Eksekutif MACS Institute, Penulis dan Pemerhati Pendidikan, Sosial, Sejarah dan Kebangsaan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Faiz Romzi Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya baru saja menuntaskan bacaan Naar de Republiek Indonesia, karya Tan Malaka. Seorang tokoh bangsa yang besar dari pengasingan ke pengasingan. Jauh dari tanah airnya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi pikirannya tetap tertuju kepada Indonesia dan masa depannya.
Buku ini bagi saya adalah salah satu sumbangan pemikiran penting Tan Malaka untuk negeri yang sangat dicintainya. Ia menuliskan gagasan tentang Indonesia yang merdeka, ketika republik itu sendiri belum berdiri.
Saya pertama kali mengenal Tan Malaka ketika duduk di semester pertama perkuliahan, sekitar tahun 2017. Hampir satu dekade berlalu. Dan pada 2026 ini, setelah kembali membaca Naar de Republiek Indonesia, muncul keinginan untuk menuliskan sedikit apa yang saya pikirkan setelah membacanya.
Ada tiga orang yang saya kagumi karena memiliki ketertarikan yang kuat terhadap Tan Malaka: Harry A. Poeze, Indonesianis asal Belanda yang banyak mengabdikan hidupnya untuk meneliti Tan Malaka; Hasan Nasbi, yang pernah menulis skripsi tentang Tan Malaka dan sempat menjadi sekretaris Harry A. Poeze; serta Bonnie Triyana, sejarawan muda yang artikulatif dalam menjelaskan sejarah dan pemikiran tokoh-tokoh bangsa.
Pada chapter pertama, Tan Malaka membawa pembaca melihat situasi dunia setelah Perang Dunia I (1914–1918). Perang itu telah mengubah peta politik dunia. Ada negeri-negeri yang keluar sebagai pemenang dan ada yang kalah. Tetapi Tan melihat persoalan yang lebih besar dari sekadar siapa menang dan siapa kalah.
Ia melihat kapitalisme yang semakin berkembang. Negara-negara kapitalis, menurut pembacaannya, akan terus memperluas pengaruh melalui imperialisme. Persaingan kepentingan itu pada akhirnya akan melahirkan konflik dan perang.
Tan kemudian melihat kaum proletariat sebagai kekuatan yang dapat melawan dominasi tersebut. Di sini terasa sekali pengaruh pemikiran Karl Marx tentang pertentangan kelas dan perjuangan kaum pekerja. Sejarah, dalam pandangan Tan, tidak bisa dilepaskan dari pertarungan kepentingan antara mereka yang menguasai modal dan mereka yang berada di bawah struktur penguasaan itu.
Yang menarik bagi saya, Tan tidak berhenti membaca dunia. Dari kejauhan, dari negeri pengasingannya, ia kemudian membawa persoalan itu kepada Indonesia. Ia percaya bahwa kapitalisme kolonial di Indonesia pada suatu saat akan runtuh. Perjuangan rakyat Indonesia pun tidak ia lihat sebagai sesuatu yang baru muncul pada abad ke-20. Ada sejarah panjang yang mendahuluinya.
Tan menyebut berbagai perlawanan terhadap kolonialisme, mulai dari perjuangan Diponegoro, perlawanan rakyat Aceh, Toli-Toli, dan berbagai perlawanan lainnya. Semua itu ia baca sebagai bagian dari sejarah rakyat Indonesia dalam memperjuangkan hak dan kebebasannya.
Bagian ini menarik perhatian saya. Tan seperti ingin menunjukkan bahwa keinginan untuk merdeka bukanlah gagasan yang tiba-tiba muncul dari para pemikir pergerakan. Ia punya akar yang panjang dalam pengalaman rakyat yang melawan penindasan.
Kemudian saya sampai pada bagian yang menurut saya paling menarik: ketika Tan mulai menuliskan program-program yang menurutnya harus dijalankan dalam sebuah Republik Indonesia. Mulai sekitar halaman 21, ia tidak lagi hanya berbicara mengenai cita-cita kemerdekaan. Ia mulai membayangkan republik itu secara lebih konkret. Kalau Indonesia merdeka, lalu apa yang harus dilakukan?
Tan berbicara tentang nasionalisasi pabrik-pabrik, mendirikan koperasi rakyat, dan memindahkan sebagian penduduk dari Jawa ke luar Jawa. Ia juga berbicara tentang kemerdekaan Indonesia yang segera dan tanpa batas, serta hak politik bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan gender.
Ada pula gagasan mengenai tujuh jam kerja, nasionalisasi rumah-rumah besar dan pembangunan rumah baru, pendidikan wajib sampai usia 17 tahun, serta memperbanyak sekolah kejuruan, pertanian, dan perdagangan. Saya beberapa kali berhenti membaca di bagian ini.
Bagaimana mungkin seorang Tan Malaka yang hidup dalam situasi kolonial, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan belum pernah melihat Indonesia sebagai negara merdeka, sudah memikirkan persoalan-persoalan yang kemudian menjadi pekerjaan rumah republik?
Tentu saja kita tidak harus menerima seluruh gagasannya begitu saja. Tan menulisnya dalam konteks zamannya, dengan bacaan, pengalaman, dan pertarungan politik yang juga khas pada masa itu. Tetapi justru di situlah saya melihat sesuatu yang menarik: Tan Malaka tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana Indonesia merdeka. Ia juga memikirkan Indonesia seperti apa yang harus dibangun setelah kemerdekaan.
Pada bagian akhir chapter ini, Tan mengemukakan gagasan tentang Majelis Permusyawaratan Nasional Indonesia. Ia melihat gagasan tersebut sebagai sesuatu yang sangat menentukan bagi keberadaan bangsa Indonesia.
Ia menggunakan ungkapan yang kuat “to be or not to be”, hidup atau mati.
Indonesia, bagi Tan, harus memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri. Mengatur persoalan dalam negeri sendiri, menentukan arah politik sendiri, dan mengurus hubungan dengan dunia luar tanpa berada di bawah kekuasaan bangsa lain.
Membaca bagian ini saya merasa bahwa bagi Tan, kemerdekaan bukan sekadar pergantian penguasa. Bukan sekadar bendera yang berganti atau pemerintahan yang berubah. Kemerdekaan harus berarti rakyat memiliki kekuasaan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Republik yang ia bayangkan juga bukan hanya sebuah bentuk negara. Di dalamnya ada soal hak politik, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, dan kehidupan rakyat. Ia ingin melihat rakyat Indonesia mampu mengurus kehidupannya sendiri dan menikmati hasil dari tanah airnya.
Di bagian akhir, Tan menutup bukunya dengan cita-cita yang jauh lebih luas: “Kemerdekaan, Kebudayaan dan Kebahagiaan bagi semua rakyat di dunia.” Kalimat itu terasa menarik ketika dibaca kembali hari ini.
Sebab mungkin kemerdekaan memang tidak pernah selesai. Berdirinya sebuah negara hanyalah awal. Setelah itu ada pekerjaan yang jauh lebih panjang: bagaimana membuat rakyat benar-benar merasakan kemerdekaan, bagaimana kebudayaan tumbuh, dan bagaimana negara menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang hidup di dalamnya.
Hampir satu abad setelah Tan Malaka menuliskan gagasan-gagasannya, saya kira kita masih punya alasan untuk membacanya kembali.
Bukan untuk mengagungkan Tan Malaka tanpa kritik. Bukan pula untuk menerima seluruh pikirannya mentah-mentah. Tetapi untuk melihat bagaimana seorang anak bangsa, dari tempat yang jauh dan dalam situasi yang serba terbatas, pernah membayangkan sebuah Indonesia yang belum lahir.
Dan mungkin di situlah menariknya membaca Tan Malaka: ia menulis tentang sebuah republik yang belum ada, tetapi ia sudah memikirkan bagaimana republik itu seharusnya hidup.
