Belajar dari Kasus Mario Dandy: Urgensinya Parenting Berkualitas kepada Anak

Penulis Lepas.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Faizah Eka Safthari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya menemukan tweet menarik Februari lalu. “Memang tugas menjadi orang tua itu sangat-sangat berat, tidak hanya melahirkan, ngasih susu, terus dia akan dewasa. Kegagalan karier bisa diulang, kegagalan mendidik tidak bisa,” tulis @vivinuraini_ di akun Twitternya dan disukai lebih dari dua ribu pengguna.
Tweet ini berkaitan dengan kasus penganiayaan viral pelaku (Mario Dandy Satriyo) yang mengakibatkan seorang remaja laki-laki jatuh koma selama lima belas hari. Sungguh, sebuah perilaku agresi yang tidak main-main.
Dan jika kita mengingat pepatah, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” maka sebelumnya kita harus mempertanyakan, pola pengasuhan (parenting) seperti apa yang bisa membentuk pelaku sampai-sampai berani bertindak demikian?
Situs uji klinik dari Yale School of Medicine mengatakan bahwa perilaku agresi seseorang timbul ke permukaan karena adanya kontribusi dari lingkungan. Bisa dari trauma, disfungsi peran keluarga, dan beberapa gaya pengasuhan orang tua (seperti kekerasan dan hukuman inkonsisten) ini mampu membentuk anak menjadi individu yang mudah marah dan agresif.
Di lingkungan sekitar kita, kerap kali pola asuh menjadi aspek yang terpinggirkan. Ada banyak orang tua yang tidak menyadari gaya mendidik anaknya saat ini akan memengaruhi sifat dan perilaku anak ke depan, karenanya sebagian orang tua masih menggunakan kekerasan ketika mengasuh anak, baik itu kekerasan fisik atau pun verbal.
Padahal, setiap anak yang lahir di dunia memiliki kesamaan hak, yakni mereka berhak bertumbuh dalam lingkungan ideal dengan pola pengasuhan yang baik, sebab hal ini akan menjadi modal bagi mereka ke depan untuk membangun kepribadian yang berkualitas. Parenting leads to children characters, ini sudah seperti rumus.
Rogers Behavioral Health, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asal Amerika Serikat yang berfokus pada pelayanan kesehatan mental dan adiksi pun menegaskan dalam artikelnya, interaksi antara orang tua dan anak, juga bagaimana orang tua menerapkan pola-pola disiplin dalam keluarga akan berdampak pada kehidupan anak dalam jangka waktu panjang.
Bayangkan, bagaimana kita ingin membentuk kehidupan yang damai dan sejahtera apabila pembentukan karakter dasar anak saja sangat minim usaha? Anak-anak kita lho, yang akan meneruskan peradaban. Apakah mungkin untuk mencapai status negara yang aman dari kekerasan, tanpa adanya pendidikan karakter kepada anak?
Lihat saja kasus yang sedang ramai belakangan, kegagalan orang tua dalam mengasuh Mario Dandy membuat ia nyaris membunuh seorang remaja hanya karena emosinya yang tidak terkontrol dengan baik.
Kemudian andaikan ada seribu orang tua di Indonesia yang gagal mendidik anak, jangan heran kalau kasus-kasus seperti ini akan hadir kembali di hari-hari mendatang.
Kebanyakan orang tua hanya mengikuti norma sosial, bahwa umumnya semua orang itu menikah lantas memiliki anak. Sudah, berhenti di sana. Hal itu dianggap telah menjadi bagian dari standar masyarakat. Sangat disayangkan jika pola hidup seperti ini diterapkan oleh sebagian besar orang.
Maka semestinya para orang tua refleksi dan belajar dari kasus Mario Dandy. Para orang tua harus meningkatkan kesadaran tentang betapa urgensinya pola asuh anak saat ini untuk membangun peradaban kelak.
Jika peradaban adalah cakupan yang terlalu jauh, maka paling tidak demi membangun lingkungan aman bagi anak-anak kita ketika mereka mendewasa. Memang, siapa yang mau meninggalkan anaknya di dunia yang tidak aman?
