Jebakan Kemiskinan yang Tak Pernah Usai

Penulis Lepas.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faizah Eka Safthari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu waktu, pernah saya bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana caranya orang-orang miskin meningkatkan kualitas hidup mereka, jika modal saja mereka tak punya?”
Situs Kementerian Keuangan kita mencatat ada sebanyak 9,57 persen atau 26,36 juta orang yang berada di bawah garis kemiskinan pada September 2022. Kendati persentasenya terlihat kecil, tapi angka nyatanya sangat besar sekali. Puluhan juta orang Indonesia ada di bawah garis kemiskinan, mereka adalah orang-orang rentan karena memiliki sedikit modal.
Bukan cuma modal untuk membangun usaha, tapi juga ketimpangan dalam modal pendidikan, modal relasi yang berkualitas, modal karakter atau mental awal, dan seterusnya, dan seterusnya. Jadi kenapa rantai kemiskinan kita tidak pernah putus? Jelas, karena besarnya kesenjangan sumber daya antara orang miskin dan orang kaya.
Ayu (bukan nama sebenarnya), 47 tahun, adalah seorang ibu dari empat anak laki-laki. Bermodalkan kemampuan memasak, sehari-hari ia bekerja banting tulang demi menghidupi keluarganya, sedangkan sang suami sibuk main-main.
Anak-anak Ayu dari yang usia dewasa sampai remaja ikut bekerja serabutan supaya semua kebutuhan harian tercukupi. Yang membuat hati saya teriris, pendidikan semua anaknya tidak terkawal.
Padahal data dari Results Educational Fund asal Amerika Serikat, pendidikan adalah kunci untuk mengubah nasib seseorang. Bahwa dengan adanya pendidikan, sebuah generasi mampu melawan kemiskinan dari keluarganya dan mendorong nasib ke arah ekonomi yang lebih baik.
Namun, situasi di lapangan tidak semudah kelihatannya. Ayu kerap mengeluh ketika saya berkunjung ke rumah. “Duitnya nggak ada. Semua mahal, Kak,” katanya, ketika kami sedang membahas pendidikan anak-anak Ayu.
Anak-anak Ayu bersekolah formal awalnya, tapi karena orang tua tidak mampu membayar SPP, maka ijazah-ijazah mereka terpaksa ditahan oleh pihak sekolah. Kendati ijazah sangat penting untuk pendaftaran lowongan kerja yang lebih layak. Namun mau bagaimana lagi?
Tapi marilah kita berpikir positif, bahwa tak masalah mereka tidak memegang ijazah, yang terpenting anak-anak Ayu sudah mendapatkan ilmu bermanfaat dari sekolah. Bukankah ujung tombak sekolah adalah pengetahuan?
Sayangnya, pengetahuan yang didapat anak-anak Ayu dari sekolah tidak bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang diterima mereka ketika duduk di bangku sekolah ibarat lewat saja di kepala, tidak mampu membentuk mereka menjadi individu yang berpemikiran terbuka, berpandangan luas, maupun kritis. Sekolah tidak bisa mendidik mereka menjadi individu yang memiliki soft skills penting di era perkembangan zaman.
Pendidikan memang kunci untuk keluar dari garis kemiskinan, tapi pendidikan tidak cukup hanya didapat dari sekolah. Pendidikan juga harus didukung dari pengawalan orang tua di rumah.
Apakah orang tua mendorong anak untuk mempunyai mimpi? Apakah orang tua mendukung proses belajar anak di rumah? Apakah orang tua menerapkan konsep berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari?
Hal seperti inilah yang jarang ditemukan dalam pola asuh dari orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan, berbeda sekali dengan kita yang sudah memiliki modal dukungan dari lingkungan.
Mereka seperti itu bukan ingin mereka, melainkan karena terjebak dalam rutinitas mencari nafkah, sehingga tidak bisa mengawal anak-anaknya secara maksimal. Seandainya ada waktu pun, mereka tidak tahu caranya karena tidak pernah dibekali demikian.
Maka, beberapa waktu saya main ke rumah Ayu untuk mengajar anak terakhirnya yang berusia 13 tahun. Sebagai relawan, harapan saya, anaknya paling tidak bisa dibekali pendidikan yang layak dan berani bermimpi tinggi untuk masa depan. Saya mau menjadi pendorong di hidup anak tersebut.
Jadi bahasa yang saya pakai untuk mengajar sudah disederhanakan, saya juga berusaha mengambil contoh-contoh soal dari kehidupan sehari-hari supaya anak tahu bahwa ilmu pengetahuan ada di sekitarnya. Namun kendalanya, lagi-lagi karena orang tua tidak mengawal.
Anak tersebut lambat mengerjakan PR karena sibuk bermain dan bekerja serabutan. Ketika saya tanya ke orang tua kenapa PR belum dikirimkan, mereka sekadar menjawab bahwa anaknya bandel, susah, dst. Bukannya mengusahakan atau membimbing anak, mereka malah menyalahkan. Kalau seperti ini, salah siapa?
Potensi anak dalam dunia pendidikan tidak akan maksimal selagi orang tua dan lingkungan tidak mampu mendukung secara utuh. Pun orang tua gagal mendukung karena sebelumnya memang tidak punya pembekalan pola asuh yang ideal untuk anak.
Jadi inilah lingkaran yang mesti dihadapi orang di bawah garis kemiskinan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sulit keluar dari sana, bukan tanpa sebab, melainkan karena memang tidak memiliki modal awal yang sama seperti kita semua.
Butuh energi besar untuk memecahkan masalah kemiskinan struktural di negara kita. Masalahnya, seberapa efektif usaha yang sudah diberikan pemerintah untuk isu kemiskinan ini?
