Konten dari Pengguna

Pahami Permasalahan, Tingkatkan Literasi Kesehatan Mental!

Faizah Mufiddina Ahmad

Faizah Mufiddina Ahmad

Saya saat ini seorang mahasiswa Psikologi yang sedang menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faizah Mufiddina Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ditulis oleh: Lena Anggraeni W, Faizah Mufiddina A, Shinta Rahajeng W. Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Angka penderita masalah kesehatan mental di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Masyarakat kita masih menganggap atau memberikan stigma pada kesehatan mental bagian dari faktor mistis. Ini disebabkan kurangnya literasi dan stigma yang masih melekat di masyarakat. Tak jarang banyak orang tidak ingin mencari pertolongan ke profesional seperti psikolog atau psikiater. Pengguna media sosial memberikan stigma bahkan label "stres", "gila", "berperilaku aneh", "kelainan yang gak bisa disembuhkan" terhadap orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini menunjukkan adanya stigma negatif yang masih melekat di budaya kita. Stigma yang melekat akan membuat cara pandang kita mengenai kesehatan mental menjadi sesuatu hal yang buruk dan menakutkan. Sehingga ini lah yang menyebabkan seseorang enggan untuk mencari pertolongan ke profesional. Terjadinya penundaan mencari pertolongan profesional karena kurangnya kesadaran diri dan alasan seseorang rutin untuk berobat karena merasa dirinya "telah sehat." Jika hal dibiarkan begitu saja secara terus menerus atau tidak tertangani dengan tepat, maka menyebabkan gangguan jiwa yang sedang diderita akan berkembang menjadi lebih buruk sehingga seseorang sulit untuk menjalani aktivitasnya dengan baik.

foto: ilustrasi karya sendiri.

Dampak dari kurangnya literasi, antara lain sebagai berikut:

  • Mudah menghakimi seseorang. Seseorang yang minim literasi akan dengan mudah menyimpulkan dan menghakimi seseorang.

  • ⁠Akan berdampak pada sikap dan tingkah lakunya yang suka meremehkan, menghina, mencampuri urusan orang lain.

  • ⁠Seperti dua sisi mata uang, era literasi digital dapat memperbaiki keadaan, dapat juga memperburuk keadaan.

  • ⁠Pemahaman literasi digital yang buruk akan berpengaruh pada psikologis anak dan remaja yang cenderung menghina orang lain, menimbulkan sikap iri terhadap orang lain, mengakibatkan depresi, terbawa arus suasana hati terhadap komentar negatif, serta terbiasa berbicara dengan bahasa kurang sopan.

  • Terciptanya prasangka, rasa malu, dan penolakan di masyarakat. Meningkatnya stigma tentu menambah beban tenaga kesehatan dan negara dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental. Bahkan ketika gangguan dan kelainan mental diberi label dan stigma yang buruk, akses terhadap pengobatan tetap sulit.

  • Minimnya literasi terkait kesehatan mental juga dapat membuat seseorang melakukan self-diagnose atau diagnosa diri sendiri berdasarkan informasi sekilas yang dilihat di media sosial dan langsung membuat kesimpulan kesehatan mental tentang dirinya. Self-diagnose pada seseorang tentunya akan berdampak buruk jika berkelanjutan karena kesalahan dalam pemberian treatment yang tepat. Untuk menghindari hal ini, alangkah baiknya konsultasikan kepada profesi ahli seperti psikolog maupun psikiater.

foto: ilustrasi karya sendiri.

Bagaimana cara mengatasinya?

Kita tahu bahwa literasi kesehatan mental sangatlah penting dan perlu adanya program literasi untuk menyadari pentingnya memperhatikan kesehatan mental bagi kita semua. Literasi kesehatan mental mencakup pengetahuan untuk mencegah gangguan jiwa, mengamati perkembangan gejala gangguan jiwa, kemampuan yang efektif untuk gejala gangguan-gangguan jiwa dari level ringan hingga level sedang serta memberikan pertolongan pertama yang tepat kepada orang lain yang mengalami gangguan jiwa.

Daftar Pustaka:

Farisandy, E. D., Asihputri, A., & Pontoh, J. S. (2023). Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Masyarakat Mengenai Kesehatan Mental. Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 5(1), 81-90. DOI: https://doi.org/10.33830/diseminasiabdimas.v5i1.5037

Grace, S. B., Tandra, A. G. K., & Mary, M. (2020). Komunikasi efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan mental. Jurnal Komunikasi, 12(2), 191-210. DOI: https://doi.org/10.24912/JK.V12I2.5948

Maya, N. (2021). Kontribusi literasi kesehatan mental dan persepsi stigma publik terhadap sikap mencari bantuan profesional psikologi. Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP), 7(1), 22-32. DOI: https://doi.org/10.22146/GAMAJOP.58470

Pratiwi, N., & Pritanova, N. (2017). Pengaruh literasi digital terhadap psikologis anak dan remaja. Semantik, 6(1), 11-24. DOI: https://doi.org/10.22460/semantik.v6i1.p11-24