Konten dari Pengguna

Milenial dan Ceruk Budaya Baru di Indonesia

Faizal ikbal

Faizal ikbal

Founder Komunitas Biblel: Bersama Insan Bijak Lestarikan Ekosistem Lingkungan.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faizal ikbal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Foto: pixabay

Istilah milenial hari ini, bukan lagi menjadi penanda generasi, melainkan sudah menjadi budaya. Pengaruhnya sampai pada semua cluster usia dan turut menentukan kelas dan status sosial dalam masyarakat Indonesia.

Dalam kaitannya dengan budaya milenial, lembaga riset Center For Middle Class Institute mengkaji perilaku milenial kelas menengah yang didekatkan pada kontur sosial budaya di Indonesia. Menemukan tren nilai dan gaya hidup milenial berikut.

Pertama, milenials wannabe. Sebutan milenial sudah jadi ceruk budaya baru di Indonesia. Kedua, sharing is cool. Milenials, lebih suka iTunes, Netflix, dan Spotify untuk mendengar lagu dan menonton film dari pada CompactDisk fisik.

Ketiga, howwe consume. Milenials memiliki hasrat untuk menguasai lini masa teknologi menentukan citra dan kelas sosial. Keempat, digital entrepreneur. Aktivitas bisnis milenial selalu dibangun pada situs online atau di platform media sosial.

Ilustrasi Belanja Online. Foto: Shutterstock

Kelima, holiday experiencer. Suka berlibur, dan mengakses fasilitas liburan lewat platform online seperti Klook, Traveloka dan lainnya. Keenam, multi-tribes netizen. Milenials, akan memunculkan banyak wajah dalam grup media sosial.

Ketujuh, brand story matters. Brand story yang kuat akan mempengaruhi milenials dalam memilih produk dan jasa. Kedelapan, personal branding. Platform media sosial jadi pameran indetitas milenials.

Kesembilan, attention seeker. Ketenaran menjadi pertimbangan milenials dalam mengunggah foto dan video di media sosial untuk berebut like. Terakhir, click activist. Platform petisi seperti Change.org, jadi medium untuk menggalang kekuatan dan mengkampanyekan isu. Ada juga Twitter. (baca: Yagkin Padjalangi, partai milenial).

Setidaknya, sepuluh perilaku milenial yang telah terangkum di atas, mengafirmasi cara kerja milenial untuk selalu tertaut dengan internet. Kita ingat peristiwa Citayam Fashion Week, di sekitaran Sudirman, Jakarta Pusat.

Zebra cross di CPI Makassar dijadikan runway catwalk ala Citayam Fashion Week oleh anak muda lokal. Foto: Dok. Istimewa

Sekelompok muda-mudi beradu fashion dan outfit, mereka dengan penampilan ala K-pop melintas zebra cross saling bergantian. fenomena tersebut menyesakkan lini masa media sosial dari TikTok hingga Youtube dan sampai viral di Indonesia.

Banyak figur publik yang datang bergabung, artis, politisi, bisnismen. Seolah peritiswa ini memberikan notif ke semua lapisan masyarakat bahwa akses atas budaya fashion yang didominasi oleh identitas tertentu, tidak lagi mempan di tengah menguatnya digitalisasi yang telah meleburkan sekat-sekat identitas sosial.

Menariknya, fenomena ini telah menelurkan aktor-aktor baru seperti, Jeje, Bonge, Kurma, dan Roy, yang diburu industri bisnis online dan dikapitalisasi oleh para artis dan politisi untuk berebut viewers di podcast mereka.

Kata kunci yang harus dipegang adalah ’’digitalisasi’’ mendorong budaya baru dan mengeser semua lanscape kehidupan konvensional yang cenderung hierarki, kaku, kolot, dan stagnan.

Dalam politik dan pemerintahan, kita turut menyaksikan reformasi budaya kerja yang terilhami dengan keberadaan digital. Dulu, agak lama dan buang-buang waktu mengurusi administrasi di pemerintah, hari ini telah terfasilitasi oleh pelayanan digital yang cukup cepat dan mudah.

Suasana pelayanan publik di Dukcapil Tangsel Foto: Reza Aditya/kumparan

Kemudian dalam politik juga begitu, mekanisme sistem yang berbelit-belit membuat gap antara konstituen dan partai politik, tetapi dengan adanya digitalisasi konstituen dan bahkan masyarakat luas dapat berinteraksi secara online lewat platform media sosial ataupun layanan online yang disiapkan partai politik. Partai politik juga ingin selalu terlihat milenial dengan mengemas beragam program-program mengikuti yang preferensi milenial.

Lalu, bagaimana dengan budaya politik milenial yang mendorong perubahan di Indonesia? Bila kita balik pada sejarah masa lalu, setidaknya telah memahatkan nama pemuda sebagai garda terdepan mendorong perubahan di Indonesia sejak kemerdekaan hingga reformasi. Melupakan kontribusi pemuda dalam perjalanan bangsa indonesia adalah sesuatu yang ahistoris.

Masa Covid-19, kelompok milenial punya peran penting meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan cara merintis bisnis usaha kecil menengah kreatif yang berselancar di ombak digital. Start-up, aplikasi game, animasi, desain produk film, jadi inovasi milenial yang mendorong sektor pendapatan bangsa.

Di saat yang sama, bermunculan lapangan kerja yang ditopang dengan ekosistem bisnis digital yang memiliki prospek sebagai poros baru ekonomi Indonesia.

Tidak hanya terbatas pada skup ekonomi, milenial yang punya antusias lebih pada media sosial dan memiliki potensi mengekplorasi beragam aplikasi, telah menciptakan kebiasaan baru dalam mengaktualisasi kebebasan dan keberpihakan dalam kehidupan demokrasi kita saat ini.

Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock

Artinya, media sosial bukan lagi sebagai medium membangun pertemanan, melainkan sudah menjelma menjadi aktivitas semua lini kehidupan. Baik itu, aktivitas ekonomi, politik, budaya, dan tentu sebagai pilar baru demokrasi yang mendorong semakin terbukanya saluran aspirasi masyarakat Indonesia.

Semua hal di atas, akan secara baik membangun budaya politik milenial dalam rangka mengagendakan gerakan sosial merespons isu sosial-politik hingga kebijakan negara yang tidak pro kemaslahatan ummat.

Dengan demikian, kita sampai pada satu kesepakatan bahwa, milenial dan digitalisasi telah membawa kita pada pembentukan budaya baru dan membentuk identitas kolektif yang dapat diakumulasi untuk menggapai perubahan di Indonesia.