Bukan Sekedar Otomotif: Mencari Jati Diri lewat Motor Custom

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan fokus minat pada dinamika industri otomotif global dan lokal. Aktif mengamati perkembangan kendaraan serta tren modifikasi roda dua dan roda empat.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Faiz Ghiffari Faturrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat pabrikan menawarkan keseragaman yang membosankan, motor custom menjadi medium pencarian jati diri yang paling jujur. Ambrosius Kristorano (20) memilih jalannya sendiri melalui deru mesin chopper. Pemuda berusia 20 tahun ini melihat motor custom bukan lagi alat transportasi. Baginya, memilih aliran chopper adalah sebuah pernyataan sikap sebuah teriakan lantang untuk memutus rantai tren massa yang monoton.
Di atas motor chopper nya, mahasiswa jurusan Seni Rupa ini tampak berbeda. Motornya tidak mengkilap layaknya motor baru yang keluar dari dealer. Tangkinya berwarna hitam, namun ada aksen karat yang sengaja dibiarkan.
"Warna hitam, tapi ada kombinasi karatnya juga, biar lebih otentik" ujar mahasiswa jurusan Seni Rupa ini sembari mematikan mesinnya. Getaran mesin mungkin sudah berhenti, namun aura pemberontakan dari motor itu masih terasa kuat.
Bagi Ambrosius dan banyak anak muda Gen Z lainnya, motor bukan sekedar alat transportasi untuk berpindah dari titik A ke titik B. Motor adalah kanvas ekspresi. Di tengah gempuran budaya massa yang serba seragam di mana semua orang memakai sepatu yang sama, mendengarkan musik viral yang sama, dan mengendarai motor plastik yang sama anak-anak muda ini memilih jalan sunyi: membangun identitas lewat besi tua.
Mengapa harus repot-repot memodifikasi motor tua jika motor baru menawarkan kenyamanan? Jawaban Ambrosius sederhana namun menohok "kebosanan".
"Kalau motor pabrikan itu di jalan sudah banyak, monoton" ungkapnya. Ada nada pemberontakan dalam suaranya. Memilih custom adalah cara untuk menolak menjadi seragam. Ada kepuasan batin saat orang-orang di lampu merah menoleh, menatap motor aneh yang ia kendarai. "Bisa nggaya." tambahnya sembari tertawa.
Pilihan ini bukan tanpa pengorbanan. Ambrosius mengakui, mengendarai chopper dengan rangka rigid (tanpa suspensi belakang) adalah siksaan bagi tubuh.
"Remnya agak nggak pakem. Kalau rangka itu custom sendiri, jadi ya... pegal" akunya jujur. Namun, justru di situlah seninya. Ketidaknyamanan itu dibayar lunas dengan rasa bangga. "Motor custom itu sakit, tapi glamour" kelakarnya.
Filosofi Kejujuran di Balik Rangka Rigid Motor Custom
jika Ambrosius menemukan jati dirinya lewat karat dan suara bising, lain halnya dengan Jogjakarta Elang Harwintanto (20). Pemuda yang akrab disapa Jojo ini juga memilih jalur motor kustom berjenis chopper, namun dengan pendekatan yang lebih filosofis, menjadikannya perwujudan dari pencarian identitas di usia muda.
Motor yang terparkir di halaman rumah itu adalah sebuah Chopper hardtail (rangka belakang tanpa suspensi) berwarna hitam legam, hasil custom dari basis mesin Kawasaki Binter 200cc yang terlihat tangguh dan minimalis. Motornya adalah antitesis dari kemewahan.
”Membangun chopper itu seperti membangun karakter diri sendiri," ujar Jojo. Ia tidak sekadar membeli jadi. Ia terlibat dalam setiap proses pemilihan part. Baginya, motor custom adalah jujur. Tidak ada plastik yang menutupi mesin. Semuanya telanjang, terekspos apa adanya.
Elemen paling mencolok adalah Stang Ape Hanger yang tinggi menjulang sebuah desain yang secara harfiah memaksanya duduk tegak dan dada membusung, seolah menantang dunia. Knalpot kembar yang melengkung dari mesin ke belakang juga dibuat custom, menghasilkan suara berat dan berisik yang menjadi ciri khasnya. Prosesnya tidak instan Ia terlibat dalam setiap proses pemilihan part. Baginya, motor custom adalah jujur. Tidak ada plastik yang menutupi mesin. Semuanya telanjang, terekspos apa adanya. "Mirip persis seperti lagu Kelelawar Malam berjudul Setan Jalanan" ujar nya.
"Di usia 20 tahun ini, kita sering bingung siapa diri kita. Tapi saat saya di atas motor ini, saya tahu siapa saya. Saya juga mempunyai garage yang bertempatan di kasongan bernama Kandang Badak Garage disitu saya hustle hard! dan saya bukan pengikut arus" tegas jojo. Motornya menjadi medium untuk berteriak tanpa suara di tengah hiruk-pikuk kota pelajar.Di usia 20 tahun, masa-masa di mana banyak anak muda merasa bingung akan identitas diri, jojo justru menemukan kepastian di atas jok kulit motornya dan jaket kulit yang sering ia pakai ketika menunggangi chopper.
Chopper miliknya bukan sekadar alat transportasi, melainkan medium untuk berteriak dan menegaskan keberadaannya di tengah hiruk-pikuk kota pelajar. "Born to lose, Live to win!" ujarnya berpesan kepada anak anak muda sekarang. Motornya menjadi simbol pemberontakan halus, sebuah penolakan terhadap kepalsuan dan homogenitas, serta sebuah pernyataan identitas diri yang jujur dan apa adanya.
Sinergi Arsitektur dan Seni dalam Membangun Motor Custom
Di salah satu sudut skena custom ini, Ravidan Oxsa Handistya (26) membuktikan bahwa sebuah mahakarya seringkali lahir dari luka. Perjalanannya membangun bengkel Long Live Weekend Party (LLWP) bermula dari memori pahit tahun 2018, saat ia merasa dikhianati dan tertipu oleh sebuah bengkel. Alih-alih menyerah pada keadaan, Oxsa memilih jalan "nekat" ia memutuskan untuk membangun motornya sendiri menggunakan tangannya sendiri.
Berbekal ketelitian dari latar belakang SMK Arsitektur dan sensitivitas seni dari Jurusan Seni Rupa di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Oxsa meramu logika struktur dengan keliaran rasa.
"Dari arsitektur saya belajar presisi ukuran rangka, sementara dari seni rupa saya membangun estetika agar motor punya karakter" jelas Oxsa mengenai filosofi kerjanya di LLWP.
Hasil dari perpaduan presisi dan imajinasi itu adalah “Ndugal”, sebuah motor berbasis mesin Kawasaki Ninja R (2-tak) yang siap melibas jalanan. Nama itu dipilih bukan tanpa alasan dalam bahasa Jawa, ndugal berarti nakal atau susah diatur sebuah cerminan dari konsepnya yang urakan.
Berbeda dengan tren trail vintage yang biasanya didominasi warna-warna terang, Oxsa memilih "berperang" dengan visual dominasi hitam dan abu-abu. Pilihan warna ini mempertegas karakter yang kuat dan jiwa pemberontak yang ia sematkan pada setiap inci baut dan besi rangka motornya.
Keberanian Oxsa membawa LLWP menembus batas. Motor garapannya tidak hanya dilirik oleh media asing, tetapi juga berhasil menembus kurasi ketat ajang Burn Out Solo sebanyak dua kali. Namun, bagi Oxsa, sorot lampu panggung dan penghargaan bukanlah akhir. Ia memegang prinsip yang keras dan jujur: "This motorbike that I made is not for a fucking trophy, but this motorbike I made only for war" tegasnya.
Bagi Oxsa, "perang" adalah tentang integritas di jalanan dan semangat untuk terus belajar. Melalui gelaran seperti Burn Out, ia hanya ingin meramaikan skena dengan motivasi tinggi, menyerap ilmu dari para builder lain, dan membuktikan bahwa jati diri tidak bisa dibeli di dealer manapun.
Ketiga pemuda ini Ambrosius, Jojo, dan Oxsa mungkin memiliki latar belakang dan selera visual yang berbeda. Namun, mereka disatukan oleh satu nilai inti dalam membangun identitas: kesabaran. Merawat dan membangun motor custom tidaklah semudah membalikkan telapak tangan atau merawat motor pabrikan keluaran terbaru.
Bagi Oxsa, kesabaran itu sudah teruji sejak ia memutuskan membangun motornya sendiri setelah dikhianati oleh bengkel. Sementara Ambrosius bercerita bagaimana ia harus berdamai dengan masalah teknis yang bisa muncul kapan saja. "Pernah hampir celaka, remnya blong," kenang Ambrosius.
Namun, mereka tidak kapok. Justru momen-momen kerusakan, mogok di jalan, dan kerumitan menghitung presisi rangka itulah yang menempa mental mereka. "Sabar itu kuncinya," tambah Ambrosius.
Di balik debu jalanan dan oli yang menetes, anak-anak muda ini sedang belajar tentang kehidupan. Bahwa untuk menjadi berbeda dan keluar dari arus monoton, butuh keberanian besar. Bahwa untuk memiliki karakter yang kuat baik pada motor maupun diri sendiri butuh proses panjang yang tidak instan.
Mereka bukan sekadar "anak motor". Mereka adalah seniman jalanan yang sedang mencari, dan mungkin telah menemukan, serpihan jati diri mereka di antara deru mesin dan perhitungan arsitektur rangka besi. Seperti kata Ambrosius, "Kalau hidup sudah pahit, setidaknya motornya ganteng".
