Konten dari Pengguna

Pengalaman dan Hikmah Hidup di Pesantren

Faizuddin Ahmad

Faizuddin Ahmad

Librarian at National Library of the Republic of Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faizuddin Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pesantren Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesantren Foto: Getty Images

Perjalanan mengenyam pendidikan di Pesantren menjadi memori yang tak pernah terlupakan bagi saya. Pertama kali “mondok” saya rasakan ketika saya masuk pertengahan SMP kelas 2. Sebenarnya bukan keinginan saya sendiri untuk masuk pesantren tetapi dipaksa orang tua pada saat itu. Tradisi nyantri memang melekat di keluarga kami. Bapak saya merupakan alumni santri Plaosan Purworejo yang merupakan salah satu pesantren terbesar di Purworejo, kota saya tinggal. Bapak saya menghabiskan waktu selama 6 tahun di Plaosan. Konon mbah saya juga alumni santri di Gontor.

Saya "mondok" di pesantren Al falah, Bener, Purworejo. Perjalanan dari rumah ke pesantren tidak begitu jauh yaitu sekitar 1 jam. Sedangkan dari sekolah saya ke pesantren sekitar 15 menit jalan kaki. Pesantren saya merupakan pesantren salafi jadi untuk sekolah formal di luar pesantren. Berdasarkan paksaan di atas membuat saya merasa tidak betah pertama kali masuk pesantren sehingga sering bolos tidak mengaji dengan pulang ke rumah tanpa izin. Akibat dari perbuatan itu saya sering kena Ta’zir. Ta’zir merupakan hukuman bagi santri yang melanggar aturan pesantren.

Ada macam-macam tingkatan ta’zir sesuai tingkat pelanggarannya. Ta’zir ringan biasanya hanya disuruh berdiri di depan Gedung santri putri kemudian disuruh membaca Al Qur’an 1 juz. Ta’zir sedang biasanya santri yang melakukan pelanggaran ini akan dibotakin rambutnya, kemudian di suruh mengelilingi kompleks pesantren. Ta’zir berat yaitu di keluarin dari pesantren. Pelanggaran yang saya lakukan dikategorikan sebagai pelanggaran ringan jadi untuk pertama kali sebagai santri baru harus di hukum membaca Al Qur’an di lihat oleh santri putri. Tentu saja malu karena dilihat oleh cewek idaman pada saat itu, bukan karena prestasi tetapi karena pelanggaran yang di lakukan.

Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan saya di pesantren. Pertama, saya menjadi pribadi yang sedikit menghargai waktu. Pada saat menjadi santri saya harus menghilangkan kesempatan bermain seperti anak-anak pada umumnya. Saya dituntut untuk bangun jam 04.00 pagi, melakukan persiapan untuk salat subuh berjemaah. Kemudian di lanjutkan mengaji kitab kuning sampai jam 06.00 pagi. Jam 07.00 harus lanjut ke sekolah sampai jam 13.00 siang. Nanti, jam 15.00 lanjut untuk madrasah sampai sekitar jam 17.00. Jam 18.00 persiapan salat magrib, salat isya dan mengaji kitab kuning sampai jam 21.00.

Habit itu pun masih tertanam dalam diri saya sampai sekarang. Hal itu saya terapkan ketika saya bekerja atau menjalani rutinitas sehari hari. Ketika mendapatkan kerjaan berat dari kantor saya tidak mudah mengeluh dan saya kerjakan sampai selesai atau ketika sedang malas-malasan, hati tidak mood tiba-tiba muncul keinginan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Kedua, hidup prihatin dan sederhana. Di pesantren saya diajari hidup prihatin dan sederhana. Di pesantren tidak ada perbedaan antara anak orang kaya atau anak orang miskin, semuanya sama. Semua santri untuk makan sehari-hari diwajibkan makan di pesantren tidak boleh beli nasi atau lauk di luar pesantren. Hidangannya pun cukup sederhana. Menu makanan sehari-hari bisanya sayur, kerupuk dan tempe. Hari berikutnya sayur, kerupuk dan tahu. itu bergantian setiap hari. Lauk seperti telur atau daging sangat jarang di jumpai. Namun pasti setiap bulan 3-4 kali kita sebagai santri menikmati itu sebagai penambah gizi.

Ketiga, Kebersamaan dan solidaritas tinggi. Saya diajari kesetiakawanan tinggi ketika saya di pesantren. Ketika saya sakit misalnya, pasti ada aja teman yang memberikan support atau terkadang membantu untuk kerokan. Selain itu, ketika ada ada santri yang habis pulang ke rumah atau di jengukin orang tuanya membawa makanan, kita makan bersama-sama memakai tampah besar. Hal itu lah yang selalu kami tunggu-tunggu sebagai santri. Sungguh nikmati sekali.

Keempat, menjadi pribadi yang tegar dan mandiri. Ketika memutuskan untuk hidup di pesantren berarti memutuskan untuk hidup jauh dari orang tua. Bagi orang yang memutuskan “mondok” di usia anak-anak tentu sangat berat. Uang terkadang dikirim pas-pasan dan kita harus hidup sesuai dengan yang dikirim orang tua maka dari itu manajemen keuangan sangat lah penting. Namun, akan banyak hikmah ketika kita dewasa nanti. Ketika dewasa kita dituntut hidup mandiri maka kita sudah mempunyai bekal dan pengalaman. Ketika ada masalah apa pun itu tidak lagi tergantung kepada orang tua. Tidak lagi menjadi pribadi yang cengeng.

Di usia yang menginjak 28 tahun ini saya cukup menyesal mengapa saya dulu tidak sungguh-sungguh dalam belajar agama ketika menjadi santri sehingga sekarang harus benar-benar belajar agama lagi dengan hiruk pikuk permasalahan-permasalahan dunia yang ada saat ini. Namun saya bersyukur pernah dipesantrenkan oleh orang tua. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa saya ambil dan saya terapkan saat ini.