Konten dari Pengguna

Mahasiswa UNS Soroti Tata Kelola Sampah dalam Surakarta Youth Summit 2026

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari faizwidyastama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa UNS menyampaikan aspirasi terkait persoalan sampah kepada DPRD Kota Surakarta dalam Surakarta Youth Summit 2026. Foto: Panitia Surakarta Youth Summit 2026
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa UNS menyampaikan aspirasi terkait persoalan sampah kepada DPRD Kota Surakarta dalam Surakarta Youth Summit 2026. Foto: Panitia Surakarta Youth Summit 2026

SURAKARTA — Persoalan sampah di Kota Surakarta menjadi perhatian mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam Surakarta Youth Summit (SYS) 2026 yang digelar BEM UNS, Senin (28/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mendiskusikan persoalan lingkungan, tetapi juga menyusun kajian dan menyampaikan aspirasi kepada DPRD Kota Surakarta. Sejumlah organisasi dan lembaga pemerhati lingkungan turut terlibat dalam diskusi bersama peserta.

Ketua panitia SYS 2026, Faza, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap persoalan sampah yang masih ditemukan di berbagai wilayah Surakarta. Mahasiswa didorong untuk memahami persoalan sekaligus terlibat dalam pengawasan tata kelola persampahan melalui advokasi kebijakan. "SYS mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam pengawasan tata kelola persampahan di Surakarta melalui advokasi kebijakan," ujarnya.

Sebanyak delapan kelompok mahasiswa kemudian menyusun kajian dengan isu yang beragam. Pembahasannya meliputi pengelolaan sampah di Putri Cempo, edukasi sampah berbahaya bagi mahasiswa, pemilahan sampah di kos, peran media dalam edukasi sampah, kolaborasi mahasiswa dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), hingga pengurangan sampah sekali pakai.

Hasil kajian tersebut disampaikan kepada Sonny, S. T., anggota DPRD Kota Surakarta periode 2024-2029. Dalam pertemuan itu, Sonny menyoroti kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Menurut Sonny, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan anggaran. Kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah dari hulu juga masih perlu diperkuat. "Sosialisasi kepada masyarakat memang masih kurang, sehingga masyarakat juga masih kurang mengetahui cara mengelola sampah. Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi kami," kata Sonny.

Sonny juga menyebut masih terdapat petugas pengangkutan yang mencampurkan sampah sebelum dibawa ke tempat pengelolaan. Menurutnya, peningkatan latihan bagi petugas serta sosialisasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Hasil kajian mahasiswa selanjutnya direncanakan untuk ditindaklanjuti melalui audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Surakarta. BEM UNS berharap keterlibatan mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi berlanjut pada pengawalan kebijakan dan solusi pengelolaan sampah di Surakarta.