Konten dari Pengguna

PSS Sleman dan Cerita yang Hidup dari Tribun

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari faizwidyastama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suporter PSS Sleman memenuhi Tribun Selatan Stadion Maguwoharjo                                        Foto: Faiz Zaydan/@fotofotofaiz
zoom-in-whitePerbesar
Suporter PSS Sleman memenuhi Tribun Selatan Stadion Maguwoharjo Foto: Faiz Zaydan/@fotofotofaiz

Bagi Bu Nani, PSS Sleman bukan sekadar kesebelasan yang ditonton ketika bertanding saja. Kecintaannya kepada klub tersebut sudah tumbuh sejak kecil. Kini, ia berjualan merchandise PSS dan bahkan dikenal oleh para supporter sebagai "Ibunya Slemania"

Kisah Bu Nani menjadi salah satu cerita yang diangkat dalam The Fans Who Make Football: PSS Sleman, sebuah film dokumenter produksi Al Jazeera. Alih-alih berfokus pada pertandingan dan pemain di lapangan, film ini memilih untuk melihat PSS dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Pilihan itu membuat hubungan antara klub dan pendukungnya terasa lebih dekat. Bagi Bu Nani, PSS bukan sekadar tim yang bermain selama 90 menit. Ada hubungan yang sudah tumbuh sejak kecil dan terus terbawa hingga sekarang. Dari sini, sepak bola terlihat sebagai sesuatu yang bisa menjadi bagian dari kehidupan seseorang.

Kehidupan itu salah satunya berlangsung di tribun. Tempat orang-orang bertemu, bernyanyi, mengenakan atribut klub, dan menunjukkan kecintaan mereka kepada PSS. Mereka datang dengan cerita masing-masing, hingga menemukan ruang yang sama sebagai suporter.

Film ini juga tidak membatasi cerita PSS hanya dari suara para suporter. Berbagai sudut pandang dihadirkan, termasuk Soe Tjen Marching. Kehadiran perspektif yang beragam membuat PSS tidak hanya terlihat sebagai sebuah klub sepak bola, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas. Di dalam kehidupan suporter itu, perempuan juga mendapatkan ruang. Film ini memperlihatkan bahwa kultur sepak bola tidak hanya milik laki-laki. Perempuan turut hadir, memiliki pengalaman, dan menjadi bagian dari komunitas suporter PSS. Hal tersebut membuat pembicaraan mengenai emansipasi dan kesetaraan gender terasa lebih dekat. Bukan hanya sebagai gagasan, tetapi mengalir melalui orang-orang yang menjalani kehidupan di dalam kultur sepak bola.

Cerita-cerita tersebut kemudian bertemu dalam satu hal yang sederhana, yaitu kebersamaan. Ada Bu Nani yang sudah mengenal PSS sejak kecil, ada pula suporter yang menemukan tempat dan komunitas, serta perempuan yang ikut membangun kehidupan di tribun. PSS Sleman pun tidak hanya hidup selama pertandingan berlangsung. Ia terus dibawa oleh orang-orang yang datang ke tribun, mengenakan atributnya, menyanyikan lagunya, dan menjadikan klub sebagai bagian dari kehidupan mereka. Sebab, di balik sebuah pertandingan, ada cerita yang terus hidup dari tribun.